markettrack.id – Fortinet merilis Laporan “Global 2025 State of Operational Technology and Cybersecurity”.
Laporan ini menampilkan kondisi terkini keamanan siber pada teknologi operasional (OT) dan menyoroti peluang peningkatan berkelanjutan bagi organisasi dalam mengamankan lanskap ancaman TI/OT yang terus berkembang.
Selain tren dan wawasan yang memengaruhi organisasi OT, laporan ini juga menawarkan praktik terbaik untuk membantu tim keamanan TI dan OT melindungi sistem siber-fisik mereka dengan lebih baik.
Nirav Shah, Senior Vice President, Products and Solutions di Fortinet, menyampaikan bahwa edisi ketujuh dari laporan tersebut menunjukkan organisasi kini semakin serius menangani keamanan OT.
“Kami melihat tren ini tercermin dari peningkatan signifikan terkait penugasan tanggung jawab risiko OT kepada jajaran eksekutif, disertai dengan semakin banyak organisasi yang melaporkan peningkatan tingkat kematangan keamanan OT mereka,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, “Sejalan dengan tren ini, kami melihat penurunan dampak intrusi pada organisasi yang memprioritaskan keamanan OT. Semua pihak, mulai dari jajaran eksekutif hingga seluruh tim, harus berkomitmen melindungi sistem OT yang sensitif dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan operasi kritis mereka.”
Temuan utama dari survei global ini menggarisbawahi beberapa poin penting:
- Tanggung Jawab Keamanan OT Meningkat ke Tingkat Pimpinan Eksekutif:
Terjadi peningkatan signifikan dalam tren global perusahaan yang berencana mengintegrasikan keamanan siber di bawah CISO (Chief Information Security Officer) atau eksekutif lainnya.
Seiring tanggung jawab yang kini berpindah ke jajaran pimpinan, keamanan OT kini diangkat menjadi isu strategis di level dewan direksi.
Pemimpin internal utama yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan keamanan siber OT kini semakin didominasi oleh CISO/CSO.
Saat ini, lebih dari separuh (52%) organisasi melaporkan bahwa CISO/CSO bertanggung jawab atas OT, naik dari 16% pada 2022. Untuk seluruh peran di jajaran dewan eksekutif, angka ini melonjak menjadi 95%.
Selain itu, jumlah organisasi yang berencana memindahkan keamanan siber OT di bawah CISO dalam 12 bulan ke depan meningkat dari 60% menjadi 80% pada 2025.
- Kematangan Keamanan Siber OT Memengaruhi Dampak Intrusi
Tingkat kematangan keamanan OT yang dilaporkan sendiri menunjukkan kemajuan signifikan tahun ini. Pada Level 1 dasar, sebesar 26% organisasi melaporkan telah membangun visibilitas dan menerapkan segmentasi, naik dari 20% pada tahun sebelumnya.
Jumlah organisasi terbesar menyatakan tingkat kematangan keamanan mereka berada pada fase Level 2, yaitu tahap akses dan profil.
Laporan ini juga menemukan korelasi antara tingkat kematangan dan serangan. Organisasi yang melaporkan tingkat kematangan lebih tinggi (Level 0-4) mengalami lebih sedikit serangan atau mampu menangani taktik dengan tingkat kecanggihan rendah, seperti phishing.
Perlu dicatat bahwa beberapa taktik seperti advanced persistent threats (APT) dan malware OT sulit dideteksi, dan organisasi dengan tingkat kematangan rendah mungkin belum memiliki solusi keamanan yang memadai untuk mengidentifikasi keberadaan ancaman tersebut.
Secara keseluruhan, meskipun hampir setengah organisasi mengalami dampak, dampak intrusi terhadap organisasi terus menurun, dengan penurunan signifikan pada gangguan operasional yang berdampak pada pendapatan, dari 52% menjadi 42%.
- Penerapan Praktik Terbaik Keamanan Siber Memberikan Dampak Positif
Selain tingkat kematangan yang memengaruhi dampak intrusi, penerapan praktik terbaik seperti kebersihan siber dasar, pelatihan, dan peningkatan kesadaran juga terbukti memberikan dampak nyata, termasuk penurunan signifikan pada insiden business email compromise.
Praktik terbaik lainnya mencakup integrasi intelijen ancaman, yang melonjak (49%) sejak 2024. Selain itu, laporan ini mencatat penurunan signifikan jumlah vendor perangkat OT, yang menjadi indikator kematangan dan efisiensi operasional.
Semakin banyak organisasi, sebesar 78%, kini hanya menggunakan satu hingga empat vendor OT, yang menunjukkan bahwa banyak di antaranya melakukan konsolidasi vendor sebagai bagian dari praktik terbaik.
Konsolidasi vendor keamanan siber juga menjadi tanda kematangan dan sejalan dengan pengalaman pelanggan Fortinet melalui Fortinet OT Security Platform.
Jaringan dan keamanan terpadu di lokasi OT jarak jauh meningkatkan visibilitas dan mengurangi risiko siber, sehingga menghasilkan penurunan sebesar 93% insiden siber dibandingkan dengan jaringan flat.
Solusi Fortinet yang sederhana juga menghasilkan peningkatan kinerja hingga 7 kali lipat melalui pengurangan proses triase dan pengaturan.
Rekomendasi untuk Memperkuat Postur Keamanan OT
Laporan “Global 2025 State of Operational Technology and Cybersecurity” dari Fortinet memberikan wawasan praktis bagi organisasi untuk memperkuat postur keamanan mereka.
Organisasi dapat mengatasi tantangan keamanan OT dengan menerapkan praktik terbaik berikut:
- Membangun Visibilitas dan Kontrol Kompensasi untuk Aset OT
Organisasi perlu memiliki kemampuan untuk melihat dan memahami seluruh perangkat yang terhubung di jaringan OT mereka.
Setelah visibilitas terbangun, organisasi harus melindungi perangkat-perangkat kritis maupun yang rentan, yang memerlukan kontrol kompensasi khusus yang dirancang untuk perangkat OT yang sensitif.
Kapabilitas seperti kebijakan jaringan yang peka terhadap protokol, analisis interaksi antar sistem, dan pemantauan endpoint dapat mendeteksi serta mencegah kompromi terhadap aset yang rentan.
- Menerapkan Segmentasi
Mengurangi intrusi memerlukan lingkungan OT yang diperkuat dengan kontrol kebijakan jaringan yang ketat di setiap titik akses.
Arsitektur OT yang defensif dimulai dengan pembuatan zona atau segmen jaringan. Standar seperti ISA/IEC 62443 secara khusus merekomendasikan segmentasi untuk menerapkan kontrol antara jaringan OT dan TI serta antar sistem OT.
Tim juga perlu mengevaluasi kompleksitas pengelolaan solusi secara keseluruhan dan mempertimbangkan manfaat pendekatan terintegrasi atau berbasis platform dengan kapabilitas manajemen terpusat.
- Mengintegrasikan OT ke dalam Operasi Keamanan (SecOps) dan Perencanaan Respons Insiden
Organisasi perlu membangun kematangan menuju SecOps TI-OT. Untuk mencapainya, OT harus menjadi perhatian khusus dalam rencana SecOps dan respons insiden, terutama karena adanya perbedaan karakteristik antara lingkungan OT dan TI—mulai dari jenis perangkat yang unik hingga konsekuensi yang lebih luas jika terjadi pelanggaran OT yang berdampak pada operasi kritis.
Salah satu langkah penting ke arah ini adalah memiliki playbook yang mencakup lingkungan OT organisasi. Persiapan lanjutan seperti ini akan mendorong kolaborasi yang lebih baik antara tim TI, OT, dan produksi untuk menilai risiko siber dan produksi secara memadai.
Hal ini juga dapat memastikan CISO memiliki tingkat kesadaran, prioritas, anggaran, dan alokasi personel yang tepat.
- Mempertimbangkan Pendekatan Platform untuk Keseluruhan Arsitektur Keamanan
Untuk menghadapi ancaman OT yang terus berkembang cepat dan permukaan serangan yang semakin luas, banyak organisasi telah menyusun beragam solusi keamanan dari berbagai penyedia.
Hal ini seringkali menghasilkan arsitektur keamanan yang terlalu kompleks, sehingga membatasi visibilitas dan membebani sumber daya tim keamanan yang terbatas.
Pendekatan keamanan berbasis platform dapat membantu organisasi mengonsolidasikan vendor dan menyederhanakan arsitektur mereka.
Platform keamanan yang tangguh dengan kapabilitas khusus untuk jaringan TI dan lingkungan OT dapat menghadirkan integrasi solusi guna meningkatkan efektivitas keamanan sekaligus memungkinkan pengelolaan terpusat untuk efisiensi yang lebih baik. Integrasi ini juga dapat menjadi fondasi bagi respons otomatis terhadap ancaman.
- Mengadopsi Intelijen Ancaman dan Layanan Keamanan Khusus OT
Keamanan OT bergantung pada kesadaran yang tepat waktu dan wawasan analitis yang akurat terkait risiko yang akan datang.
Arsitektur keamanan berbasis platform juga sebaiknya menerapkan intelijen ancaman bertenaga AI untuk perlindungan mendekati waktu nyata terhadap ancaman terbaru, varian serangan, dan kerentanan yang muncul.
Organisasi harus memastikan bahwa sumber intelijen ancaman dan konten mereka mencakup informasi khusus OT yang kuat dalam feed dan layanan mereka.
Laporan “Fortinet 2025 State of Operational Technology and Cybersecurity” didasarkan pada data dari survei global yang melibatkan lebih dari 550 profesional OT, yang dilakukan oleh perusahaan riset independen pihak ketiga.
Responden survei berasal dari berbagai lokasi di seluruh dunia dan mewakili berbagai industri dengan tingkat penggunaan OT yang tinggi.
Mayoritas responden, terlepas dari jabatan, terlibat secara mendalam dalam pengambilan keputusan pembelian keamanan siber.
Banyak responden yang bertanggung jawab atas teknologi operasional di organisasi mereka dan/atau memiliki tanggung jawab pelaporan untuk operasional manufaktur atau pabrik.
SF-Admin

