markettrack.id – Glico, sebuah nama yang mungkin sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia, adalah raksasa industri makanan ringan asal Jepang dengan warisan yang kaya.

    Sejak didirikan oleh Riichi Ezaki pada tahun 1922, Glico tidak hanya fokus pada rasa, tetapi juga pada nilai nutrisi yang terinspirasi dari manfaat kesehatan.

    Kisah perintisannya dimulai dari pengamatan terhadap nelayan yang membersihkan tiram di sungai. Riichi Ezaki menyadari bahwa cairan yang terbuang dari proses pembersihan tiram tersebut mengandung glikogen, zat yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan energi dan ketahanan fisik.

    Penemuan inilah yang menginspirasi produk pertama Glico: karamel berbentuk hati yang tidak hanya enak, tetapi juga berfungsi sebagai sumber energi yang menyehatkan, sebuah konsep revolusioner di zamannya.

    Filosofi “Hari-hari yang lebih sehat untuk kesejahteraan yang baik” telah menjadi panduan utama Glico selama lebih dari satu abad.

    Filosofi ini menekankan bahwa kesejahteraan sejati tidak hanya diukur dari kekayaan finansial, tetapi juga dari kesehatan fisik yang prima.

    Prinsip ini terus dipegang teguh, bahkan ketika perusahaan melakukan ekspansi ke berbagai belahan dunia. Awal ekspansi global Glico dimulai pada tahun 1932, dengan produknya yang belum sepenuhnya mendunia.

    Setelah lebih dari 90 tahun, Glico kini telah hadir di 12 negara dengan 18 perusahaan grup yang tersebar di Asia, Eropa, dan Amerika Utara, mempekerjakan lebih dari 5.300 karyawan di seluruh dunia, termasuk staf penjualan dan pabrik.

    Struktur bisnisnya terbagi menjadi beberapa segmen, termasuk Health and Food Business, Dairy Products, Domestic Business (yang mencakup bisnis di Jepang), dan Overseas Business.

    Indonesia, sebagai bagian penting dari strategi Glico, termasuk dalam kategori terakhir, yang dikelola dari kantor pusat regional Asia Pasifik di Singapura.

    Glico Indonesia secara resmi didirikan pada 1 April 2014, dengan fokus awal pada impor, ekspor, dan distribusi.

    Sebagai anak perusahaan yang relatif baru, Glico Indonesia diberi mandat untuk mengukuhkan posisi brand utama mereka, yaitu Pocky, Pretz, dan Pejoy.

    Keputusan untuk fokus pada beberapa brand utama ini adalah langkah strategis untuk menciptakan penetrasi pasar yang kuat dan membangun kesadaran merek yang kokoh di kalangan konsumen.

    Sebelum Glico Indonesia berdiri, produk seperti Pocky sudah dikenal, namun diimpor secara sporadis. Dengan kehadiran Glico Indonesia, distribusi menjadi lebih terstruktur dan efisien.

    Glico Indonesia juga merilis produk-produk edisi terbatas yang disesuaikan dengan tren pasar, seperti Pocky rasa keju cheesecake dan seri Pocky Valentine yang didesain untuk dikirim sebagai pesan kepada orang terdekat.

    Titik balik signifikan bagi Glico di Indonesia terjadi dengan pembangunan pabrik baru di Karawang. Proyek ini dimulai pada masa pandemi, sekitar tahun 2020.

    Keputusan untuk tetap melanjutkan pembangunan di tengah ketidakpastian global menunjukkan komitmen kuat dari Glico Jepang, yang menargetkan penyelesaian pada tahun 2022. Pabrik ini akhirnya mulai berproduksi pada tahun 2023.

    Fasilitas ini bukan sekadar pusat produksi, melainkan sebuah manifestasi dari visi Glico untuk jangka panjang.

    Dengan beroperasinya pabrik ini, Glico Indonesia dapat mengandalkan pasokan domestik, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mempercepat respons terhadap permintaan pasar lokal yang terus meningkat.

    Pabrik ini juga dirancang untuk melayani pasar ekspor, dengan tujuan utama memasok produk ke Amerika Serikat dan negara-negara di Asia Tenggara.

    Kapasitas produksi pabrik ini cukup besar, dengan tiga lini produksi yang baru dimanfaatkan 50%, menunjukkan potensi ekspansi yang masih sangat besar di masa depan.

    Komitmen Glico tidak berhenti pada efisiensi produksi. Perusahaan ini juga menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai prioritas utama.

    Pabrik di Karawang dilengkapi dengan panel surya sejak awal perencanaan, sejalan dengan tujuan global Glico untuk mencapai nol emisi CO2 pada tahun 2050.

    Glico percaya bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari bisnis yang berkelanjutan.

    Selain itu, mereka juga mendapatkan sertifikasi penting seperti RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) untuk penggunaan minyak kelapa sawit dan FSC (Forest Stewardship Council) untuk kemasan kertasnya.

    Sertifikasi ini memastikan bahwa seluruh rantai pasok mereka, dari bahan baku hingga kemasan, dikelola secara bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

    Glico juga meraih sertifikasi FSSC 22000, sebuah standar global untuk sistem manajemen keamanan pangan yang melengkapi standar lokal seperti Halal dan BPOM, menjamin kualitas dan keamanan produk.

    Dengan langkah-langkah ini, Glico tidak hanya menjual camilan, tetapi juga menjual nilai, membedakan diri dari kompetitor dan menarik konsumen yang semakin sadar akan isu keberlanjutan.

    Ekspansi bisnis Glico di Indonesia juga terlihat dari strategi distribusinya. Pada awalnya, Glico sangat bergantung pada modern trade, seperti supermarket dan minimarket, yang menyumbang 90% dari total penjualan.

    Namun, sejak tahun 2020, mereka mulai merambah pasar tradisional trade dengan memperkenalkan kemasan yang lebih kecil dan ekonomis yang harganya lebih terjangkau.

    Strategi ini terbukti efektif dalam menjangkau konsumen di area yang lebih luas. Kini, Glico memiliki distribusi yang seimbang dengan 70% penjualan berasal dari modern trade dan 30% dari tradisional trade, termasuk e-commerce.

    Secara keseluruhan, perjalanan Glico di Indonesia adalah studi kasus tentang adaptasi dan komitmen. Dengan memanfaatkan potensi demografi yang besar, berinvestasi pada teknologi dan keberlanjutan, serta terus berinovasi dalam produk dan distribusi, Glico telah membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan jangka panjang.

    Perusahaan ini tidak hanya menjual produk, tetapi juga mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

    Glico percaya bahwa dengan terus berinovasi dan mendengarkan kebutuhan pasar, mereka akan tetap menjadi pemain kunci di industri makanan ringan Indonesia.

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply