markettrack.id – Indonesia mengambil peran utama dalam transisi energi global melalui pembukaan The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025.
Acara bergengsi ini, yang digelar di Jakarta International Convention Center, menjadi platform strategis bagi Indonesia untuk menunjukkan komitmennya sebagai pemimpin energi bersih, khususnya panas bumi.
Langkah ini menegaskan tekad bangsa dalam memanfaatkan potensi alamnya untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia menekankan bahwa potensi panas bumi yang melimpah bukan hanya anugerah, melainkan juga tanggung jawab besar.
Pemerintah berkomitmen penuh menjadikan panas bumi sebagai tulang punggung kedaulatan energi nasional. Ini juga merupakan kontribusi nyata Indonesia dalam mencapai target net zero emission dunia.
Presiden Joko Widodo menegaskan, “Potensi energi panas bumi yang melimpah adalah sebuah berkah sekaligus tanggung jawab. Kita harus memanfaatkannya untuk memimpin transisi energi global. Panas bumi akan menjadi pilar utama kedaulatan energi nasional dan kontribusi kita untuk mencapai target net zero emission.”

IIGCE 2025: Katalisator Ekonomi Hijau Global
Acara ini diselenggarakan oleh Indonesian Geothermal Association (API/INAGA) bekerja sama dengan On Us Asia sebagai mitra.
Dengan tema “Fostering Collaboration for a Green Economy in Indonesia: The Role of Geothermal Energy in Sustainable Growth,” IIGCE 2025 menjadi ajang penting untuk kolaborasi.
Ketua Umum API/INAGA Julfi Hadi mengatakan, panas bumi adalah satu-satunya energi terbarukan yang dapat beroperasi 24 jam dengan faktor kapasitas di atas 90%.
Ini menjadikannya pondasi ideal untuk sistem energi bersih yang tangguh dan berkelanjutan. Panas bumi merupakan tulang punggung transisi energi Indonesia dan pilar menuju swasembada energi.
IIGCE 2025 menghadirkan lebih dari 15 pembicara internasional dan 150+ perusahaan pameran internasional. Ada juga forum investasi dengan potensi transaksi hingga USD 2 miliar dan peluncuran 5 proyek panas bumi strategis nasional.
Terobosan Kebijakan Pemerintah
Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, mengumumkan paket kebijakan komprehensif untuk percepatan panas bumi.
Eniya menjelaskan, “Pemerintah tidak hanya menargetkan, tetapi juga menyiapkan ekosistem kondusif. Indonesia ingin menjadi rujukan global dalam pengembangan panas bumi yang berkelanjutan.”
Ketua Panitia Pelaksana IIGCE 2025, Ismoyo Argo, menyampaikan bahwa dukungan On Us Asia dalam manajemen acara menjadikan IIGCE tahun ini memiliki standar baru.
“Kami memfasilitasi sesi diskusi, forum investasi, dan technical workshop. IIGCE 2025 bukan sekadar konferensi, tetapi forum global untuk masa depan energi bersih,” kata Ismoyo.
Acara ini diproyeksikan menciptakan 50.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung hingga tahun 2030. Selain itu, dapat menghemat devisa hingga USD 3,2 miliar per tahun.
Kehadiran delegasi dari 22 negara memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kebijakan dan teknologi panas bumi dunia.
Forum ini juga meluncurkan Indonesia Geothermal Excellence Center, pusat riset dan pengembangan panas bumi di Asia-Pasifik.
Menteri Bahlil Lahadalia menutup sambutannya dengan ajakan kolaborasi global. “Indonesia terbuka untuk berbagi pengalaman, teknologi, dan praktik terbaik dengan negara-negara sahabat. Mari kita bersama memimpin revolusi energi bersih,” ujarnya.
Dengan resminya pembukaan IIGCE 2025, Indonesia menegaskan diri sebagai pusat kolaborasi global dalam energi panas bumi.
Dukungan penuh pemerintah, sinergi industri, dan peran strategis On Us Asia menjadikan forum ini langkah nyata. Ini membuktikan kepemimpinan Indonesia dalam energi berkelanjutan di kancah internasional.
SF-Admin

