markettrack.id – Kemitraan AS–Indonesia mencatat rata-rata peningkatan produksi susu harian peternak sebesar 32,5 persen pada tahun 2025. Pencapaian ini menunjukkan dampak nyata dari inisiatif kolaboratif yang dirancang untuk memperkuat peternakan sapi perah lokal, meningkatkan kualitas susu, serta mendukung target gizi dan ketahanan pangan Indonesia.
Pencapaian tersebut menjadi sorotan utama dalam U.S.–Indonesia Dairy Partnership Summit 2026, yang diselenggarakan oleh U.S. Dairy Export Council (USDEC) di Jakarta. Konferensi ini mempertemukan para pejabat tinggi pemerintah, pemimpin industri susu, akademisi, dan peternak dari kedua negara untuk mengulas berbagai pencapaian tahun pertama kemitraan tersebut.
Selain itu, pertemuan ini juga bertujuan menjajaki peluang untuk semakin memperkuat sektor persusuan Indonesia. Program U.S.–Indonesia Dairy Partnership (USIDP) sendiri merupakan inisiatif strategis yang dikembangkan oleh USDEC melalui kerjasama dengan lembaga akademis dan para praktisi di bidang persusuan Indonesia sejak November 2024.
Di samping itu, program ini memadukan keahlian persusuan Amerika Serikat dengan peningkatan kapasitas peternak lokal di lapangan dan peningkatan kualitas susu. Program tersebut juga menerapkan intervensi berorientasi gizi yang dirancang untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.
Sejak awal pelaksanaannya, USIDP telah menyelenggarakan 54 rangkaian pelatihan di delapan lokasi serta menjangkau 500 peternak secara langsung. Langkah ini juga berhasil membekali 100 teknisi persusuan untuk memperluas jangkauan program ke industri yang lebih luas.
Terkait hal tersebut, President dan CEO USDEC, Krysta Harden, menyatakan bahwa industri persusuan AS bangga menjadi bagian dari babak baru kemitraan 75 tahun antara kedua negara. Melalui kemitraan ini, pihak USDEC turut membantu memperkuat pasokan susu dalam negeri Indonesia dan mendukung program Makan Bergizi Gratis.
Lebih lanjut, kolaborasi internasional ini dinilai sangat penting dalam mendukung kesejahteraan peternak dan meningkatkan produksi susu lokal. Upaya bersama ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem persusuan yang lebih tangguh di Indonesia.
Secara operasional, konferensi USIDP menghadirkan serangkaian diskusi panel yang mengupas pendekatan program dari tahap strategi hingga implementasi di tingkat peternak. Diskusi tersebut menghadirkan sambutan dari Krysta Harden serta Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia, Agung Suganda.
Sementara itu, Sekretaris Pertanian New Mexico, Jeff Witte, memaparkan peran wilayahnya dalam memajukan target gizi serta produktivitas peternakan sapi perah Indonesia. Kolaborasi ini memanfaatkan keahlian dari Departemen Pertanian New Mexico, New Mexico State University, Departemen Pertanian Wisconsin, dan Universitas Wisconsin.
Di sisi lain, sebuah segmen khusus bertajuk “Celebrating Women Farmers, Growing the Future” dihadirkan dalam rangka memperingati International Year of the Women Farmer 2026. Segmen ini secara khusus mengapresiasi delapan peternak perempuan yang telah menyelesaikan program pelatihan USIDP.
Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan, seluruh peternak yang berpartisipasi menerima buku CowSignals Basics yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Buku karya dokter hewan dan edukator bidang persusuan asal Belanda, Jan Hulsen, tersebut menyajikan panduan praktis pengelolaan peternakan.
Pada akhirnya, Krysta Harden menambahkan bahwa langkah berikutnya adalah memperluas skala dampak ini di seluruh ekosistem persusuan Indonesia. Pihaknya menegaskan komitmen untuk membangun sesuatu yang berkelanjutan secara bersama-sama.
SF-Admin

