markettrack.id – Sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah dinamika geopolitik global. Kementerian Pariwisata mencatat kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 4,68 juta atau tumbuh 8,24% dibandingkan periode sebelumnya.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut kondisi tersebut sebagai bukti ketahanan industri pariwisata nasional. Pencapaian ini diraih di tengah kondisi geopolitik internasional yang mempengaruhi mobilitas wisatawan dunia.
Di sisi lain, minat masyarakat Indonesia untuk bepergian ke luar negeri pun tidak kalah positif. Badan Pusat Statistik mencatat pada Maret 2026, perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri mencapai 793,16 ribu atau meningkat 36,26% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Namun, satu hambatan nyata yang kerap membuat rencana perjalanan tertunda ialah proses pengajuan visa yang masih identik dengan kerumitan. Konsumen sering kali mengeluhkan dokumen yang harus dikumpulkan satu per satu, spesifikasi pas foto yang berbeda tiap negara, hingga pengisian formulir berulang.
Menjawab tantangan tersebut, SPUN sebagai platform pengajuan visa digital menjadi yang pertama menggandeng Privy. Merek ini merupakan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) di Indonesia yang memiliki mandat resmi untuk memverifikasi identitas pengguna serta menerbitkan sertifikat elektronik.
Melalui integrasi ini, pengguna dapat memulai pengajuan visa langsung dengan Login with Privy di situs web SPUN. Layanan ini juga dapat diakses melalui fitur Privy Hub di aplikasi Privy tanpa perlu melakukan registrasi ulang.
Dalam kurun waktu satu bulan sejak integrasi berjalan, ribuan pengguna telah mengakses SPUN melalui identitas digital Privy. Catatan ini mencerminkan bahwa kemudahan alur registrasi berdampak langsung pada adopsi pengguna.
Untuk memperkenalkan kemudahan layanan ini kepada masyarakat, SPUN dan Privy menghadirkan aktivasi edukatif dan interaktif. Acara bertema Kemudahan Pengajuan Visa Digital ini diselenggarakan di Stasiun MRT Blok A mulai 8 Juni hingga 7 Juli 2026.
CEO dan Co-Founder SPUN, Christa Sabathaly, mengatakan kehadiran aktivasi interaktif di Stasiun MRT Blok A merupakan bentuk komitmen untuk hadir langsung di tengah masyarakat. Langkah ini membuktikan bahwa mengurus visa kini bisa semudah memesan tiket pesawat.
Aktivasi ini menjadi kali kedua bagi SPUN mengadakan kegiatan interaktif di stasiun MRT. Manajemen sengaja memilih MRT karena lokasi tersebut menjadi tempat bertemunya orang-orang dari berbagai latar belakang setiap harinya.
Potensi mobilitas ini mencakup profesional yang akan menghadiri konferensi, pelajar yang bermimpi kuliah di luar negeri, hingga keluarga yang merencanakan liburan pertama mereka. Orang bepergian bukan hanya untuk wisata, melainkan untuk bertumbuh, belajar, dan membangun koneksi lintas budaya.
Atas dasar itulah, dalam aktivasi ini SPUN menggandeng ChinaGo sebagai mitra destinasi China, serta AFS Bina Antar Budaya. Kerja sama dengan lembaga pertukaran pelajar internasional ini didasari keyakinan bahwa selama ada alasan untuk pergi, visa tidak seharusnya menjadi penghalang.
Sayangnya, Christa Sabathaly melanjutkan bahwa visa masih kerap menjadi hambatan nyata bagi masyarakat. Masalah timbul bukan karena seseorang tidak memenuhi syarat, tetapi karena prosesnya terasa rumit dan dekat dengan sentimen negatif oknum calo.
Di sinilah SPUN hadir sebagai agen perjalanan wisata serta jasa konsultasi pariwisata yang terdaftar resmi. Melalui platform ini, masyarakat bisa mengajukan visa secara digital dengan jaminan data yang dilindungi secara aman.
Layanan ini juga didukung pendampingan dokumen untuk lebih dari 400 jenis visa di lebih dari 90 negara. Selain itu, tersedia pula garansi uang kembali jika visa ditolak sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Christa Sabathaly turut menjelaskan bagaimana integrasi dengan Privy menjadi penentu utama dalam mempersingkat proses onboarding pengguna baru. Melalui fitur PrivyHub di aplikasi Privy, pengguna yang sudah terverifikasi bisa langsung mengakses layanan SPUN tanpa harus memulai dari awal.
Harapannya, melalui aktivasi ini SPUN dapat menjangkau ribuan pengguna MRT setiap harinya. Target audiens ini menyasar para profesional, pelajar, hingga masyarakat umum demi membuktikan bahwa mengurus visa secara digital itu menyenangkan.
Dalam kesempatan yang sama, CEO & Founder Privy, Marshall Pribadi menyampaikan bahwa kolaborasi dengan SPUN mencerminkan visi besar perusahaan. Visi tersebut berfokus dalam membangun kepercayaan digital atau digital trust sebagai infrastruktur layanan sehari-hari.
Kepercayaan digital dinilai sebagai fondasi dari semua interaksi daring yang aman. Sebagai PSrE, Privy memastikan bahwa identitas digital ini bisa dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari untuk mengakses berbagai layanan tanpa hambatan.
Integrasi dengan SPUN melalui kanal PrivyHub merupakan langkah nyata menuju ekosistem digital yang lebih efisien dan terpercaya. Hal ini tecermin dari respon positif ribuan pengguna yang telah bergabung di platform SPUN melalui fitur tersebut.
Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta (Perseroda), Farchad Mahfud, menyambut baik kehadiran aktivasi SPUN dan Privy di Stasiun MRT Blok A. Pihak manajemen terus mendorong pengembangan stasiun tidak hanya sebagai sarana mobilitas, tetapi juga sebagai ruang publik.
Kehadiran kolaborasi ini menjadi salah satu contoh bagaimana stasiun dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan layanan digital kepada masyarakat. Melalui akses yang mudah dan nyaman, stasiun MRT Jakarta diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus mendorong inovasi layanan publik.
SF-Admin

