Agroshift - Bangladesh Agritech Startup (PRNewsfoto/Agroshift)

Agroshift, usaha rintisan inovatif asal Bangladesh yang menyediakan teknologi pertanian (agritech), mengambil langkah penting dalam mengubah rantai pasok pertanian dan mendapat kepercayaan investor.

Sebagai platform omnichannel agri-commerce yang menghubungkan produsen dan konsumen di Bangladesh, Agroshift menyediakan tingkat harga yang lebih adil, akses pasar yang lebih baik, serta keterjangkauan harga, kualitas, dan kemudahan yang lebih optimal bagi pihak pembeli—melalui micro-fulfilment distribution dan embedded trade finance.

Pada Oktober 2022, Agroshift membuat sejarah setelah menyelesaikan babak pendanaan tahap awal (pre-seed round) dengan nilai terbesar di Bangladesh ketika itu. Keterlibatan sejumlah investor seperti ADB Ventures juga mencerminkan potensi besar dari model dan misi Agroshift. 

Memberdayakan Petani dan Mentransformasi Rantai Pasok Pertanian

Didirikan Qazi Bouland, Rameez Hoque, dan Diptha Saha pada 2022, Agroshift telah menciptakan platform unik “phy-gital”, memadukan infrastruktur rantai pasok yang bersifat fisik dengan sarana digital yang bersifat embedded untuk menghimpun permintaan, transparansi pengadaan barang, serta proses pengiriman yang lebih mudah.

Sebagian besar barang yang dipasok usaha rintisan ini adalah produk pertanian—komoditas dan bahan pertanian segar dari jaringan pemasok, berasal dari kalangan petani, pedagang, dan pengolah hingga konsumen pendapatan rendah dan menengah.

Sebagai strategi Go-to-Market, Agroshift mempertimbangkan dua segmen konsumer berskala besar yang masih belum terjangkau oleh penyedia layanan saat ini—pekerja industri di pabrik ready-made garment (RMG), yakni pekerja serta rumah tangga pendapatan rendah dan menengah di sekitarnya—segmen dengan immediate addressable market opportunity bernilai US$ 15 miliar.

Sektor Pertanian di Bangladesh

Petani berskala kecil di Bangladesh dan pekerja pabrik biasanya masih kurang terlayani akibat rantai pasok pertanian yang sangat tidak efisien, bahkan bahan pangan yang terbuang berjumlah sangat banyak.

Lewat pengadaan langsung, micro-fulfilment, dan menghimpun permintaan dalam jumlah besar, Agroshift memangkas porsi bahan pangan yang terbuang menjadi di bawah 1% sekaligus menghubungkan kalangan petani dengan harga yang adil.

“Dengan mengintegrasikan proses pemesanan digital dengan sentra pengumpulan dan distribusi bahan pangan dalam bentuk fisik, kami telah membangun ekosistem bahan pangan segar yang efisien dan memberikan insentif,” ujar Salah Satu Pendiri dan CEO Agroshift Qazi Bouland.

Perkembangan Impresif dan Visi yang Penuh Terobosan

Pada tahun pertama setelah resmi beroperasi, Agroshift mengalami perkembangan pesat: menangani lebih dari 250.000 pesanan yang berasal dari sekitar 170.000 pengguna individual, bahkan pendapatan tahunan Agroshift melesat 350% setiap tahun.

Inovasi ini pun mendapat perhatian ADB Ventures pada awal tahun ini. Minsoo Kim, Investment Specialist, ADB Ventures, berkata, “ADB Ventures gembira bermitra dengan Agroshift guna meningkatkan efisiensi rantai pasok pertanian.”

Melansir dari Agroshift, dengan mengandalkan permintaan teragregasi di sejumlah pabrik, serta rumah tangga pendapatan rendah dan menengah di kota-kota Lapis 2 dan Lapis 3, Agroshift mendatangkan manfaat dalam rantai nilai industri, mulai dari kalangan petani dan pedagang hingga konsumen—melalui tingkat harga yang lebih adil, akses pasar yang lebih baik, serta visibilitas harga, dan keterjangkauan harga, kualitas, dan kemudahan yang lebih optimal bagi pihak pembeli.

Menangkap Peluang dari Seed Funding yang Segera Digelar

Babak seed funding yang segera digelar Agroshift akan meningkatkan kegiatan operasional usaha rintisan ini secara lebih lanjut.

Strategi Agroshift meliputi perluasan skala operasional, ekspansi infrastruktur rantai pasok, menggencarkan produk private label, meningkatkan platform teknologi, serta memperluas supply trade financing dan merekrut SDM unggulan.

“Model ‘phy-gital’ Agroshift tak hanya memodernisasikan aspek perdagangan di sektor perdagangan, namun juga menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan untuk sistem pangan regional,” lanjut Bouland.

Dengan target menjalin 60 mitra pabrik dan 200.000 pengguna reguler pada 2024, masa depan terlihat cerah bagi usaha rintisan agritech yang inovatif asal Bangladesh ini.

SF-Admin