Ancaman perang, krisis komoditas, dan peningkatan inflasi global, dapat meningkat dan menciptakan limpahan utang yang nyata. Tidak hanya untuk negara berpenghasilan rendah, tapi juga negara berpenghasilan menengah, bahkan yang ekonominya sudah maju.

Saat ini, perekonomian Indonesia yang mulai bangkit dengan membaiknya situasi pandemi Covid-19, kembali dilanda kenaikan inflasi global dan pelemahan kurs rupiah. Melonjaknya inflasi global dan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 15.000 per dollar AS, diprediksi akan berdampak besar pada masyarakat Indonesia.

Dengan situasi perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih, IMF dan Bank Dunia pun mewanti-wanti adanya ancaman resesi yang akan berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran.

Dalam pembukaan Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting di Bali beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa cobaan yang terus datang sejak 2020 lalu membuat banyak negara, bahkan negara maju, bisa masuk ke jurang resesi.

Mengantisipasi Pelemahan Kurs Rupiah dan Ancaman Resesi

Ada tiga hal yang disarankan oleh Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, bagi masyarakat dalam mengantisipasi pelemahan kurs rupiah dan resesi. Dikutip dari Kompas.com, tiga hal tersebut adalah mengatur pengeluaran, menyisakan dana untuk investasi, dan mencari pendapatan sampingan.

Ia mencontohkan, mencari pendapatan sampingan bisa dilakukan dengan berjualan menggunakan platform online di sela kesibukan. Hal tersebut juga sejalan dengan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang digalakkan pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomian bangsa.

Dilansir dari blog Niagahoster, jumlah konsumen digital di Indonesia diprediksi telah mencapai 137 juta orang. Sehingga, mencari pendapatan sampingan dengan memanfaatkan platform online memiliki potensi yang amat besar.

Dengan potensi internet yang demikian besar, tentunya dibutuhkan platform yang bisa menjangkau peluang tersebut semaksimal mungkin. Media sosial, marketplace, hingga website bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memulai bisnis sampingan secara online.

Kesempatan Membangun Bisnis Online Sampingan

Digitalisasi yang semakin digalakkan dan e-commerce yang semakin digemari oleh masyarakat, menjadi peluang besar bagi yang ingin membangun bisnis online sampingan. E-commerce bisa berupa website toko online, marketplace, maupun media sosial.

“Website toko online memiliki fungsi yang amat luas. Tidak terbatas untuk fungsi jual beli, website juga bisa dimaksimalkan sebagai media promosi dan katalog produk yang membantu branding toko dan produk yang dijual,” ujar Akrilvha Deainert, Product Manager Niagahoster.

Sedangkan marketplace banyak menjadi pilihan karena pengunjung bisa memilih dan membandingkan produk yang sama di toko-toko yang berbeda. Salah satu marketplace terbesar di Indonesia bahkan mencatat pengunjung mereka bisa mencapai 149,6 juta dalam satu bulan.

Tidak sedikit pula masyarakat yang menyukai berbelanja melalui media sosial seperti Instagram. Dikutip dari blog Niagahoster, 90% pengguna Instagram mengikuti akun bisnis online, dan 50% dari pengguna Instagram juga lebih tertarik pada suatu brand setelah melihat iklannya di laman Instagram mereka.

Pemerintah pun sangat mendukung bisnis lokal, hingga memasukkan UMKM dalam skema pengadaan barang dan jasa pemerintah, serta terus mendorong pemakaian produk dalam negeri. Percepatan transformasi digital bagi bisnis lokal juga amat diperhatikan lewat berbagai program pelatihan.

Hal tersebut menjadi kesempatan besar yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Tidak ada salahnya bersiap diri untuk mengantisipasi situasi perekonomian global yang masih naik turun dan sulit diprediksi dengan mulai memiliki bisnis online sampingan.

SF-Admin