markettrack.id – Dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia, AstraZeneca Indonesia dan PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan pemahaman pasien kanker serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perawatan yang tepat dan perencanaan kesehatan yang berkelanjutan.
Penandatanganan dilakukan oleh Esra Erkomay, Presiden Direktur PT AstraZeneca Indonesia, bersama Yosie William Iroth, Chief Health Officer Prudential Indonesia dan Mercy Francisca Sinaga, Chief Legal and Government Relations Officer Prudential Indonesia.
Melalui kolaborasi ini, kedua pihak berkomitmen untuk menjalankan berbagai inisiatif edukatif yang berfokus pada peningkatan kesadaran mengenai kanker, berbagi pengetahuan ilmiah dan panduan medis terkini secara non-promosional, serta mendorong literasi keuangan khususnya terkait asuransi jiwa dan kesehatan.
Kerja sama ini juga mencakup pertukaran wawasan mengenai jalur perawatan kanker serta diskusi dalam mendukung pengembangan perlindungan asuransi kesehatan bagi pasien onkologi.
Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia menyampaikan “Penanganan kanker membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari peningkatan literasi kesehatan hingga pemahaman mengenai perjalanan perawatan pasien.”
“Sebagai perusahaan biofarmasi berbasis sains, AstraZeneca Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam memperluas edukasi publik dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya diagnosis dini serta perawatan yang tepat,” lanjutnya
Berdasarkan data Globocan 2022, Indonesia mencatat lebih dari 400.000 kasus kanker baru dengan kematian mencapai 240.000 kasus.
Kanker payudara, kanker paru, dan kanker hati menjadi beberapa jenis kanker dengan prevalensi tertinggi secara nasional.
Jika kanker tidak mendapatkan penanganan yang tepat, kasusnya di Indonesia dapat melonjak hingga lebih dari 70 persen pada 2050.
Penanganan kanker di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah keterlambatan pasien dalam mendapatkan diagnosis dan perawatan.
Tidak jarang, penyakit kanker baru terdeteksi ketika telah memasuki stadium akhir, yang berdampak pada rendahnya angka kelangsungan hidup pasien serta meningkatnya kompleksitas kebutuhan pengobatan.
Di sisi lain, keterbatasan akses terhadap pengobatan inovatif, baik dari segi keterjangkauan biaya maupun ketersediaan, masih menjadi hambatan besar bagi pasien dalam memperoleh perawatan yang optimal.
Yosie William Iroth, Chief Health Officer Prudential Indonesia mengatakan “Kanker tidak hanya berdampak pada kondisi fisik pasien, tetapi juga membawa konsekuensi emosional dan finansial bagi individu serta keluarga. Melalui kolaborasi ini, Prudential Indonesia ingin berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perlindungan kesehatan dan kesiapan finansial sejak dini.”
Ia menambahkan, “Kami percaya bahwa edukasi yang tepat dapat membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih baik dalam menghadapi risiko kesehatan, sekaligus mendukung perjalanan perawatan pasien secara lebih holistik. Hal ini dilakukan sebagai wujud komitmen kami untuk memberikan ketenangan pikiran (peace of mind) bagi nasabah saat mereka membutuhkannya.”
Kolaborasi ini juga melibatkan tenaga kesehatan, komunitas pasien, serta berbagai pemangku kepentingan terkait dalam pelaksanaan program edukasi dan peningkatan kesadaran publik. “Kami harap kolaborasi lintas sektor ini dapat berkontribusi pada penguatan ekosistem kesehatan nasional, dengan menempatkan edukasi pasien, peningkatan kesadaran, dan kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi menuju kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia,” tutup Esra.
SF-Admin


