Oleh: Diu Oktora, Founder Clover Connection
markettrack.id – Sepanjang 2025, banyak brand dan organisasi mulai mengajukan pertanyaan yang lebih fundamental tentang komunikasi: apakah eksposur yang tinggi benar-benar berbanding lurus dengan nilai bisnis?
Di tengah tekanan ekonomi, fragmentasi media, dan perubahan perilaku konsumen, public relations (PR) tidak lagi cukup diukur dari seberapa sering sebuah brand terlihat, tetapi dari seberapa besar kontribusinya terhadap kepercayaan pasar dan nilai jangka panjang.
Inilah penanda pergeseran penting dalam industri PR, dari fungsi eksposur menuju penggerak nilai ekonomi.
Lanskap komunikasi yang semakin padat memperkuat urgensi pergeseran ini. Volume konten digital meningkat drastis, sementara atensi publik justru semakin terbatas.
Viralitas yang sebelumnya dianggap sebagai indikator keberhasilan mulai kehilangan makna ekonominya. Jangkauan tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kepercayaan, loyalitas, atau keputusan pembelian.
Dalam konteks ini, investasi komunikasi yang tidak terarah berisiko menjadi beban biaya, bukan aset strategis.
Salah satu pelajaran penting dari 2025 adalah menguatnya peran kepercayaan sebagai faktor penentu nilai brand.
Berbagai krisis reputasi dan isu publik menunjukkan bahwa kepercayaan pasar berdampak langsung pada daya tahan brand menghadapi tekanan.
Organisasi dengan tingkat kepercayaan tinggi cenderung lebih resilien, lebih cepat pulih dari krisis, dan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan konsumen serta pemangku kepentingan.
PR pun tidak lagi cukup diposisikan sebagai alat responsif saat krisis, melainkan sebagai sistem pengelolaan kredibilitas jangka panjang.
Tahun 2025 juga menandai adopsi kecerdasan buatan yang semakin masif dalam praktik PR. AI (Artificial Intelligence) digunakan untuk media monitoring, analisis percakapan publik, hingga penyusunan konten awal.
Dari sisi efisiensi, teknologi ini membantu menekan biaya dan mempercepat proses kerja. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa AI tidak dapat berdiri sendiri.
Tanpa pengawasan strategis, pemahaman konteks, dan sensitivitas sosial, penggunaan teknologi justru berpotensi menimbulkan risiko reputasi.
Hal ini menegaskan bahwa ROI (Return on Investment) komunikasi tidak hanya diukur dari efisiensi biaya, tetapi juga dari kemampuan mitigasi risiko jangka panjang.
Aspek lain yang menguat sepanjang 2025 adalah tuntutan terhadap pemimpin untuk tampil sebagai komunikator utama.
Publik dan pasar semakin menilai organisasi dari suara dan sikap para pemimpinnya. Pernyataan formal yang kaku mulai ditinggalkan.
Leadership communication yang otentik dan konsisten terbukti memengaruhi persepsi pasar, termasuk kepercayaan investor dan pemangku kepentingan. Dalam banyak kasus, reputasi pemimpin dan reputasi brand semakin sulit dipisahkan.
Perubahan signifikan lainnya adalah pergeseran cara mengukur keberhasilan PR. Metrik tradisional seperti jumlah pemberitaan dan impressions masih digunakan, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur.
Diskursus industri mulai bergerak ke arah outcome: perubahan persepsi, tingkat kepercayaan, dan kontribusi komunikasi terhadap tujuan bisnis. PR mulai dilihat sebagai bagian dari proses penciptaan nilai, bukan sekadar aktivitas eksposur.
Memasuki 2026, arah industri PR diprediksi akan semakin terintegrasi dengan strategi bisnis dan pemasaran.
Kepercayaan akan menjadi pengungkit utama ROI jangka panjang. Brand yang dipercaya cenderung memiliki biaya akuisisi pelanggan yang lebih efisien, loyalitas yang lebih kuat, dan daya saing yang lebih berkelanjutan.
Dalam konteks ini, PR berperan menjaga konsistensi nilai, transparansi komunikasi, dan keberanian brand dalam mengambil posisi yang relevan.
Fokus PR juga akan bergeser dari viralitas menuju relevansi yang bernilai. Strategi komunikasi akan lebih selektif, menitikberatkan pada audiens yang tepat, pesan yang kontekstual, dan dampak yang terukur. Relevansi bukan hanya isu kreatif, tetapi faktor efisiensi investasi komunikasi.
AI akan terus berperan sebagai akselerator, namun keputusan strategis tetap berada di tangan manusia.
Diferensiasi PR di 2026 akan ditentukan oleh kemampuan membaca dinamika pasar, memahami sensitivitas publik, dan merangkai narasi yang konsisten lintas kanal, mulai dari media, digital, komunikasi internal, hingga hubungan investor untuk menjaga brand equity tetap utuh.
Jika 2025 menjadi momentum evaluasi efektivitas komunikasi, maka 2026 adalah fase penegasan peran PR sebagai aset bisnis. Di tengah ketidakpastian pasar, brand yang mampu membangun dan menjaga kepercayaan memiliki keunggulan kompetitif yang nyata.
PR tidak lagi cukup diperlakukan sebagai biaya komunikasi, melainkan sebagai investasi strategis yang berkontribusi pada brand equity, efisiensi akuisisi, dan keberlanjutan nilai perusahaan. Pada akhirnya, eksposur hanya menghasilkan perhatian, tetapi kepercayaan menghasilkan nilai.
SF-Admin


