DBS Group Research: Ekonomi: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,5%

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 4,5% pada Selasa (14/4) setelah melakukan pemotongan 50 basis poin (bps) pada triwulan pertama 2020. Pembuat kebijakan kemungkinan merasa percaya diri dalam menjaga amunisi berkat stabilisasi sementara di pasar keuangan.

Dengan menyebut langkah di luar kebijakan suku bunga sebagai pelonggaran kuantitatif, BI juga mengumumkan:

  • Memperluas operasi moneter dengan memperpanjang tenor fasilitas term repo (pinjaman jangka pendek melalui surat berharga pemerintah)
  • Menurunkan rasio cadangan wajib rupiah (RRR) perbankan sebesar 200 bps
  • Langkah pelonggaran kuantitatif untuk mengucurkan likuiditas senilai Rp117,8 triliun. Nilai likuiditas yang telah dikucurkan, termasuk penyuntikan likuiditas pada Selasa (14/4) dan suntikan dana sebelumnya, mencapai Rp400 miliar.
  • Jaminan kelanjutan ketiga intervensi (spot, domestic non-deliverable forward [DNDF] dan pembelian obligasi).

BI mengambil langkah berhati-hati terkait pertumbuhan jangka pendek, dengan menyebutkan kemungkinan penurunan pada triwulan kedua hingga ketiga 2020 sebelum stabil pada triwulan keempat. Prakiraan pertumbuhan 2020 direvisi menjadi 2,3% (dari 4,2-4,6%), sejalan dengan pemerintah, sementara inflasi diperkirakan sesuai target.

Defisit transaksi berjalan diperkirakan menyempit menjadi 1,5% dari PDB. Kami menduga itu mencerminkan tidak hanya ekspor rendah, tetapi juga penurunan impor karena aktivitas domestik melemah. Bila pasar obligasi dan rupiah tetap stabil, kami memperkirakan BI tetap membuka peluang penurunan suku bunga lagi pada catur wulan ini. Kami mempertahankan perkiraan kami akan pemangkasan 50 bps tahun ini mengingat risiko terhadap pertumbuhan.

Ramalan pemerintah mencerminkan pesimisme jangka pendek, tetapi optimisme ke depan. Untuk 2021, PDB diharapkan tumbuh 4,5-5,5% dan inflasi kembali ke kisaran target 2-4%. Defisit fiskal juga diperkirakan turun kembali ke kisaran 3-4%, membuka jalan bagi pemberlakuan kembali batas yang diwajibkan, sebesar 3%, pada 2023.

Dua aspek telah membantu menstabilkan pasar

Jika dibandingkan dengan Maret, yang penuh gejolak, April memberikan angin segar bagi pasar keuangan dalam negeri. Pasar ekuitas bergerak dari tingkat terendah, meskipun indeks turun sepertiga sejak awal tahun dalam hitungan dolar AS.

Rupiah muncul sebagai mata uang paling perkasa di kawasan pada bulan ini, memangkas depresiasi sejak awal tahun menjadi 11,7% dari >15% pada Maret, saat arus keluar portofolio asing melambat. Imbal hasil obligasi 10 tahun (generik) turun walau masih 80-90 bps di atas level akhir 2019.

Dua hal membantu menopang rasa percaya diri:

1. Menjawab kekhawatiran tentang kelangkaan dolar

Pihak berwenang telah melakukan tindakan bersama untuk mengurangi kekurangan likuiditas dolar:

  • Indonesia memperoleh fasilitas repo line senilai 60 miliar dolar AS dari Bank Sentral AS, yang membantu meredakan kekhawatiran atas kelangkaan dolar AS;
  • Perjanjian pertukaran valuta asing (FX swap) dengan Cina (30 miliar dolar AS), Jepang, Singapura (7 miliar dolar AS) dan Australia. Perjanjian repo line juga disetujui oleh bank sentral Singapura dan BIS (Bank of International Settlements)
  • Berhasil meraup dana senilai 4,3 miliar dolar AS di luar negeri pada akhir Maret, menandai tidak hanya penerbitan obligasi pemerintah di luar negeri terbesar sejak pandemi, tetapi juga obligasi dolar berjangka waktu terpanjang di Asia;
  • Berencana mendapatkan tambahan dana 7 miliar dolar AS dari lembaga multilateral.

2. Menjabarkan pilihan pendanaan

Hampir berbarengan dengan rencana agresif pengeluaran pemerintah, pilihan pendanaan juga sedang dijajaki secara aktif. Sebagai latar belakang, pemerintah merubah batas defisit anggaran yang semula sebesar 3% dan memungkinkan selisih 200 bps antara 2020-2022. Itu secara otomatis meningkatkan target defisit 2020 dari Rp307 triliun menjadi Rp853 triliun (-5,1% dari PDB).

  • Obligasi dalam rupiah menjelang akhir tahun. Ini mungkin menghadapi tantangan jika arus keluar dana asing berlanjut, walau pembelian oleh BI kemungkinan cukup menjadi penyeimbang. Walau melakukan pembelian di pasar sekunder, BI tidak secara eksplisit menegaskan bahwa mereka siap ikut dalam lelang di pasar primer. Hingga Rabu (15/4), BI membeli obligasi senilai Rp160 triliun, vs terendah tahun ini pada Januari 20. Pejabat Kementerian Keuangan menjelaskan rencana mengalokasikan sebagian dari hasil penerbitan sekuritas rupiah sebagai obligasi pemulihan/pandemi ketimbang memperkenalkan instrumen baru untuk kebutuhan tersebut
  • Bandul obligasi luar negeri digulirkan dengan pinjaman 4,3 miliar dolar AS pada Maret. Kami memperkirakan ada lebih banyak pinjaman dalam mata uang asing karena biayanya turun
  • Pinjaman multilateral sudah dipertimbangkan dari organisasi, seperti, Bank Dunia (300 juta dolar AS pada akhir Maret), ADB, AIIB, dll
  • Saldo kas yang ditempatkan secara rutin di lembaga milik negara dan menyediakan pilihan pembiayaan lebih murah
  • Realokasi anggaran untuk kementerian. Dalam pandangan kami, itu bisa mengakibatkan defisit melebar pada 2020, lebih banyak mencerminkan penurunan pendapatan ketimbang peningkatan tajam dalam pengeluaran.

Kesulitan ekonomi akan berlanjut

Jumlah penularan COVID-19 di Indonesia terus meningkat, yang menunjukan bahwa kurva belum melandai. Upaya meningkatkan kapasitas dan jumlah pengujian sedang berlangsung, dengan pemerintah membidik peningkatan hingga 10 ribu tes per hari dari 27 ribu tes yang telah dilakukan hingga saat ini. Tingkat kematian relatif tinggi juga menjadi perhatian. Dalam hal ini Indonesia berada di urutan kedua di Asia setelah Cina.

Pemerintah menerapkan pembatasan sosial ketat. Sebagai contoh, semua tempat wisata di Jakarta ditutup, pertemuan dan acara keagamaan/pernikahan dilarang, sementara ujian sekolah dibatalkan. Sembilan kota dan kabupaten lagi juga melakukan penutupan sebagian.

Tetapi, mereka tidak melakukan penutupan total. Terlepas dari kekhawatiran akan kerugian ekonomi akibat penghentian secara mendadak kegiatan bisnis dan sektor informal, yang besar, kebijakan itu juga dibuat dengan memperhitungkan bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, saat tenaga kerja Indonesia di luar negeri kembali ke kampung halaman mereka, serta pergerakan antarprovinsi.

Dalam situasi seperti ini, proses migrasi itu menimbulkan risiko penyebaran infeksi antarnegara, yang mendorong pemerintah daerah memperketat pemeriksaan. Sementara bulan puasa berakhir pada 24-25 Mei, empat hari libur nasional telah dibatalkan dan dipindahkan ke akhir Desember 2020.

Kami mencatat bahwa pengeluaran layanan kesehatan Indonesia (saat ini dalam dolar AS, per kapita) lebih rendah dibandingkan dengan kebanyakan mitra regionalnya. Oleh karena itu, peningkatan infeksi dapat membebani sistem kesehatan, menggarisbawahi kebutuhan untuk menaikkan pengeluaran di luar peningkatan khusus sebanyak satu kali untuk mengakomodasi pengeluaran yang disebabkan oleh COVID-19.

Perkiraan pertumbuhan kami untuk Indonesia tetap 2,5% untuk 2020, tetapi risiko perlambatan masih ada. Perekonomian tidak hanya menghadapi dampak dari perekonomian global, yang loyo, tapi juga dampak dari pembatasan dalam negeri, yang akan menurunkan konsumsi dan permintaan. Dukungan kuat moneter dan fiskal sedang disiapkan, yang akan membantu meredam perlambatan pertumbuhan namun tidak akan dapat membalikkan arus.

Kurs ekuilibrium rupiah DBS (IDR DEER) sekarang menunjukkan valuasi menarik

Kami juga memperbarui model DBS Equilibrium Exchange Rate (DEER) kami untuk menilai posisi rupiah saat ini terhadap nilai wajar jangka panjangnya setelah aksi jual pada bulan Maret. Secara singkat, DEER didasarkan atas tiga faktor ekonomi, yaitu paritas daya beli (purchasing power parity, PPP) relatif, perbedaan produktivitas dan ketentuan perdagangan

Analisis DEER kami menunjukkan bahwa valuasi berlebihan terhadap rupiah pada awal 2020 telah sepenuhnya berbalik, dengan rupiah saat ini dinilai lebih rendah dari yang semestinya. Tentu saja para pembuat kebijakan akan lega melihat valuasi yang menunjukkan bahwa rupiah saat ini tidak terlalu rentan terhadap penurunan lebih lanjut.

Perjalanan rupiah selama pandemi virus korona memperlihatkan cirri-ciri Krisis Keuangan Global, kecuali dalam hal skala. Resesi global memicu depresiasi rupiah tajam, kecuali bahwa penurunan 18% saat ini lebih kecil dibandingkan dengan penurunan sebesar 28% saat GFC.

Lebih penting lagi, pelonggaran moneter agresif Bank Sentral AS (seperti dua kali pemotongan suku bunga darurat dan QE) dan langkah-langkah untuk mengatasi kelangkaan dana dalam dolar AS membantu menstabilkan pasar keuangan global.

Dengan asumsi virus corona mencapai puncaknya pada sekitar musim panas, diikuti oleh pemulihan pasca-pandemi pada paruh kedua 2020, kami memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di bawah 16.000 sebelum bergerak ke bawah 15.000 selama pemulihan pada 2021.

SF-Admin