Di tengah gejolak perekonomian global, para investor masih tertarik berinvestasi di private capital market Indonesia.

Meskipun demikian, secara garis besar jumlah dana untuk equity funding deals di Indonesia menurun drastis ke $3,71 miliar di 2022 atau 61% lebih rendah dari tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya krisis di sektor tech dunia yang mengakibatkan minimnya mega funding deals. Namun, total pendanaan untuk startup di Indonesia sendiri masih mencapai 22% dari total pendanaan di kawasan Asia Tenggara untuk tahun 2022.

Terkait hal tersebut, DealStreetAsia, perusahaan media dengan fokus private capital investment di Asia Tenggara, menghadirkan gelaran event flagship PE-VC Summit yang keempat kalinya di The Langham Jakarta.

Acara tahun ini dibuka dengan keynote speech oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno dan Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono.

Founder dan Editor-in-Chief DealStreetAsia, Joji Thomas Philip menyatakan, Indonesia berhasil menghindari stagflasi yang mendominasi perekonomian global.

“Indonesia merupakan salah satu dari sedikit bright spots di dunia yang memiliki risko tinggi mengenai resesi, tingginya inflasi, peningkatan nilai suku bunga dan juga risiko geopolitik,” ujar Philip.

Philip mengapresiasi pencapaian pemerintah Indonesia yang berhasil membatasi fiscal deficit di bawah $30 miliar atau setara dengan 2,38% dari PDB – lebih rendah dari target awal di 4,85%.

Hal ini tentunya dapat dicapai karena pendapatan fiskal yang meningkat 30,6%, lebih tinggi dari target awal di 16%. Pertumbuhan PDB yang meningkat 5,2% di tahun 2022 juga tercatat jauh lebih cepat dari 3,7% di tahun 2021.

Menurut riset DATA VANTAGE dari DealStreetAsia, total equity funding deals di Indonesia mencapai jumlah 253 dengan total dana yang meningkat 14% dari tahun sebelumnya. Hal tersebut sebagian besar disokong oleh investasi di tahap awal (seed stage).

Pada 2022 lalu, terdapat tiga perusahaan startup dengan fokus Indonesia yang berhasil mencapai status unicorn, yaitu perusahaan fintech lending Akulaku, perusahaan e-payment DANA, dan platform pinjaman konsumen Kredivo.

Ketiga perusahaan di atas menjadi bagian dari delapan perusahaan di Asia Tenggara yang berhasil melewati valuasi USD 1 milyar – angka ini jauh di bawah tahun lalu, dimana terdapat 23 startup yang berstatus unicorn.

Mengutip data dari DealStreetAsia, Philip juga mengindikasikan adanya dana investasi baru sebesar $ 5 miliar untuk ditempatkan di kawasan Asia Tenggara dan lebih dari 60% dana ini akan dialokasikan di Indonesia. Strategi ini dianggap penting untuk mendukung ekosistem startup Indonesia melewati masa tech winter yang tengah berlangsung saat ini.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, “Untuk berinvestasi di sektor pariwisata Indonesia, Anda harus memiliki manajemen yang baik serta tim berpengalaman yang memiliki rekam jejak yang baik.”

“Sekitar 50% turis di Indonesia datang ke Bali. Kami tengah mengembangkan lima tujuan wisata alternatif super prioritas—Surabaya, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, Likupang. Indonesia sedang membuat institusi pemerintahan khusus yang akan menyediakan pinjaman lunak atau pendanaan untuk ekosistem gaming,” lanjutnya.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono yang menjadi salah satu pembicara mengatakan, “Dua sektor terpenting bagi investor di sektor kesehatan ada bioteknologi dan startup kesehatan. Fokus pada kesehatan digital akan bergeser dari pelaporan ke pelayanan. Semua fasilitas kesehatan akan berinovasi untuk menciptakan aplikasi digital.”

Patrick Walujo, Managing Partner di Northstar Group, mengatakan, “Valuasi perusahaan-perusahaan yang pertumbuhannya pesat sudah jatuh dalam tiga tahun terakhir namun performa bisnis mereka ditengarai akan membaik. Exits akan mudah bagi bisnis yang berjalan dengan baik namun bisnis yang buruk akan sulit untuk exit; dengan atau tanpa pendanaan. Valuasi tidak lagi berarti. Risiko bisnis yang minim, kepemimpinan dan prospek bisnis yang menjanjikan menawarkan lebih banyak kesempatan.”

Jessica Huang Pouleur, Partner Openspace Ventures, mengatakan “Perjanjian akan tetap dibuat namun akan ada moderasi agar startup bisa menghasilkan penghasilan dan profit.”

Agenda tahun ini juga mencakupi beberapa focus sessions seputar tema-tema penting seperti healthcare, fintech, kendaraan listrik, dan tren-tren baru di sektor konsumsi dan digital. 

“Kami sangat senang bisa mengadakan event ini lagi secara tatap muka setelah tiga tahun terakhir. Para pembicara berasal dari beragam latar belakang, mulai dari policymakers, investor dan funds terbesar di Asia, dan juga beberapa startup founder Indonesia yang telah berhasil menavigasi market terbesar Asia Tenggara. Terdapat total 12 sesi yang mencakup semua topik dan tren yang sudah dikurasi secara ketat oleh tim editorial di DealStreetAsia,” kata Philip.

SF-Admin