Saat ini, hampir seluruh aspek kehidupan di Indonesia mengalami gangguan termasuk NTT yang terdampak parah oleh Covid-19 dengan menghentikan kegiatan pembelajaran selama 3 semester. Pembelajaran hanya berlangsung daring.

Guna menghadapi kondisi ini, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, membentuk Satgas, menyiapkan rumah sakit, laboratorium biomolekuler, serta bekerja sama dengan satgas provinsi hingga Kota Kupang dalam pencegahan penyebaran Covid-19.

Untuk membahas pemulihan ekonomi dan pendidikan tinggi di masa depan, Vincent Piket, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam hadir secara virtual di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Vincent hadir dalam kegiatan EU Ambassador Talk di Undana yang berlangsung secara virtual pada Rabu (29/9) dengan lebih dari 900 peserta webinar.

Ambassador Talk ini merupakan rangkaian sesi dialog yang diselenggarakan Delegasi Uni Eropa bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Undana.

Fredrik Benu selaku Rektor Undana dalam sambutannya menyebut kampusnya termasuk yang terbesar di Provinsi NTT dengan berbagai jurusan dan mahasiswa yang banyak.

Undana seringkali mendapatkan beasiswa dan kesempatan belajar dari Australia yang beberapa kali menyasar wilayah Indonesia Timur.

“Saya menyampaikan apresiasi karena telah memilih Universitas Nusa Cendana,” tukas Fred.

Pada kesempatan itu ia menyampaikan kesulitan akibat pandemi pada sistem belajar, dimana ia secara internal berupaya mengefektifkan kuliah daring. Sementara Pemerintah Indonesia berupaya memulihkan ekonomi NTT dan menekan angka Covid-19 agar tercapai Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

Terkait isu-isu global, kata dia, Undana mempunyai pandangan yang sama dengan Uni Eropa seperti menjaga kelangsungan alam.

Vincent sendiri di kesempatan itu menyebut telah menyandang Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam sejak 2019. Sayangnya, pandemi menghalanginya untuk optimal kerja di lapangan.

“Saya berharap sama dengan Rektor untuk dapat berkunjung ke Kupang, NTT, ke Universitas Nusa Cendana. Kesan saya terkait Indonesia memang berbeda karena tidak bisa mengenal secara langsung dan berkunjung ke berbagai provinsi karena kondisi pandemi ini,” kata dia.

Ia mengapresiasi apa yang telah dilakukan Undana dalam mencari solusi pendidikan bagi banyaknya mahasiswa. Sebagaimana Jean Monnet selaku pendiri Uni Eropa, sebut dia, pendidikan adalah utama bagi semua orang di luar batas-batas geografis dan kepentingan politik.

Untuk itu soal pendidikan, Uni Eropa membangun jaringan universitas di Eropa untuk dapat meningkatkan kualitas dan daya saing dari berbagai bidang melalui kerja sama dengan berbagai universitas.

“Ini kerangka yang kami upayakan selama ini,” tukasnya

Selama empat tahun terakhir terjadi ruang pendidikan dengan hasilnya mahasiswa atau mahasiswi Eropa menyelesaikan pembelajaran dengan standar, gelar, Sistem Kredit Semester (SKS) dan kurikulum yang terintegrasi di universitas di negara-negara lainnya yang memudahkan pertukaran pelajar maupun tenaga kerja.

Ia juga menyebut mahasiswa di negara-negara Eropa memanfaatkan kartu mahasiswa yang dimiliki untuk mengakses berbagai sumber daya di universitas lainnya seperti kursus online di universitas yang ada di negara lain.

Uni Eropa sendiri mempunyai program Erasmus Mundus terkait pertukaran pelajar dan Indonesia adalah negara ke 9 tertinggi. Kondisi ekonomi di Eropa sendiri saat ini dalam pemulihan, akibat berbagai pembatasan yang dilakukan pemerintah yang tentu berdampak pada pendidikan juga.

Sementara saat batas-batas antar negara yang ditutup juga berpengaruh terhadap ekonomi. Demikian negara anggota Uni Eropa mendapatkan insentif untuk mendukung pembukaan kelas-kelas tatap muka termasuk bagi kelas mahasiswa internasional.

“Ada 100 juta warga Eropa yang terlibat dalam berbagai tingkatan pendidikan yang terdampak. Hal ini juga mempengaruhi setiap tenaga pengajar dalam mengajar secara virtual,” tukasnya.

Ia juga menyampaikan sejumlah prioritas yang tengah dilakukan Uni Eropa seperti kehidupan digital untuk mengantisipasi masalah yang sama (Seperti Covid-19) kembali terjadi.

Uni Eropa, lanjut dia, tetap terbuka bagi mahasiswa asing dan peneliti dengan syarat vaksinasi dan PCR meskipun sektor lainnya tertutup dengan adanya berbagai pembatasan aktivitas.

Pemulihan ekonomi dan program sosial di Uni Eropa juga tetap berjalan. Para pemberi kerja juga diberikan insentif untuk dapat mempertahankan pekerjanya sehingga mengurangi PHK.

Uni Eropa sendiri tetap berada pada agenda internasional bahwa 2050 terjadi netral karbon secara global. Ia mengajak Indonesia untuk ini.

Selain itu bantuan vaksin Covid-19 dari Covax facility telah tersalur 16 juta dosis vaksin kepada Indonesia yang mana menjadi negara penerima terbesar di Asia, termasuk dana hibah kepada Indonesia dalam krisis ini, misalnya ke Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Ada perubahan pada rantai pasokan dan memastikan ketahanan pangan. Ia menyebut Eropa mempunyai berbagai skenario untuk menjaga ketahanan pangan.

Saat ini juga 70 persen masyarakat Eropa sudah divaksin dan pemerintah menekan angka penyebaran baru sehingga anak muda dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman kelas mereka. Ia berharap sekolah normal dapat secepatnya terwujud.

Indonesia menurutnya salah satu yang menutup sekolah dan kampus. Beberapa mahasiswa yang ia temui di Jakarta diajaknya untuk berdiskusi dan menurut dia anak muda Indonesia perlu kembali ke kelas mereka. Ini demi pertimbangan aspek psikologis anak muda yang tidak berinteraksi dan belajar dalam kelas.

Ia juga mengapresiasi Program Kampus Merdeka, Merdeka Belajar milik Indonesia seperti yang disampaikan Fredrik Benu. Ia ingin bertemu langsung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan mengamati pendidikan Undana lebih dekat. Ia juga mengaku telah ada pembahasan dengan Kemendikbud RI soal program pertukaran pelajar sejenis Program Erasmus Uni Eropa.

SF-Admin