(Dari kiri ke kanan) Ahmad Taufik Ketua Tim Pengembangan Program Transformasi Industri Hijau Kemenperin; Martin Setiawan, Industry Business Vice President Schneider Electric Indonesia; Adhi Lukman, BOD PT Niramas Utama; Ir. Putu Juli Ardika, Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian; Roberto Rossi, Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste; Olivier Vifflantzeff, Direktur PT JETEC Indonesia - tengah berbincang-bincang setelah melangsungkan seremonial Go Live sistem manajemen informasi produksi dan monitoring energi di Pabrik Pusat PT Niramas Utama di Bekasi.

PT Niramas Utama yang juga dikenal dengan merek INACO, memulai perjalanan transformasi digital perusahaan menuju green industry, yang ditandai dengan Persemian “Go Live” sistem manajemen informasi produksi dan monitoring energi di Pabrik Pusat PT Niramas Utama di Bekasi.

Sebagai langkah awal Perusahaan untuk mendukung transformasi digitalnya menuju green industry, PT Niramas Utama menggandeng beberapa pihak yang pakar dalam bidangnya, yaitu Schneider Electric™, perusahaan transformasi digital dalam pengelolaan energi dan otomasi untuk melakukan pre-assessment, konsultasi dan pembuatan peta jalan transformasi digital hingga pengembangan kompetensi sumber daya manusianya, dan PT JETEC Indonesia, mitra sistem integrator yang ditunjuk Schneider Electric dalam melakukan implementasi solusi dan teknologi.

Peresmian ini sekaligus menjadi pembuktian komitmen PT Niramas Utama dalam mengedepankan inovasi untuk keberlanjutan bisnis dan lingkungan. Berdiri sejak 1990, PT Niramas Utama memproduksi makanan dan minuman berbasis Nata De Coco berkualitas tinggi yang dikenal luas dengan merek INACO.

Berlandaskan pada INACO WAY dengan semangat Innovative Never Give up Adaptive Courageous Ownership, perusahaan terus berinovasi untuk mendorong pertumbuhan dan memberikan nilai tambah pada semua pemangku kepentingan.

Komitmennya ini telah diakui dengan sejumlah penghargaan dan pengakuan yang diterima, baik lokal maupun internasional atas sejumlah inisiatif dan inovasi produk yang diluncurkan. Adapun Pabrik Pusat INACO di Bekasi memproduksi berbagai produk unggulan, seperti jelly, RTD, Nata De Coco, dan pudding.

Pabrik ini berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar, pabrik ini dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap, mulai dari fasilitas Penelitian dan Pengembangan yang lengkap dan terintegrasi, pergudangan, perkantoran serta administrasi, fasilitas kunjungan pabrik juga demo aplikasi produk dan masih banyak lagi.

“Go Live” sistem otomasi monitoring energi dan performa lini produksi diresmikan oleh Adhi Lukman, BOD PT Niramas Utama (INACO) beserta jajaran manajemen; Bapak. Ir. Putu Juli Ardika, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin; Ahmad Taufik, Ketua Tim Pengembangan Program Transformasi Industri Hijau Kemenperin; Roberto Rossi, Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, didampingi oleh Martin Setiawan, Industry Business Vice President Schneider Electric Indonesia; serta Olivier Vifflantzeff, Direktur PT JETEC Indonesia.

Putu Juli Ardika, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin pada acara peresmian “Go Live” menyampaikan, “Kemenperin memiliki target untuk dapat mencapai NZE di sektor industri 10 tahun lebih cepat dari target nasional. Ada empat strategi yang akan menjadi pondasi yaitu transisi ke energi baru terbarukan, manajemen dan efisiensi energi, strategi elektrifikasi dalam proses produksi, serta pemanfaatan teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS). Industri makanan dan minuman merupakan salah satu industri yang diharapkan berperan aktif dalam mencapai NZE ini.”

“Kami menyambut baik inisiatif PT Niramas Utama atau INACO dalam upaya dekarbonisasi, dan transformasi digitalnya menjadi green industry. INACO menjadi contoh bagi industri lainnya dalam implementasi industri 4.0 dan green industry. Kami berharap akan tumbuh lebih banyak lagi inisiatif-inisiatif seperti ini, agar daya saing sektor industri kita semakin meningkat di dunia internasional,” kata Putu.

“Pabrik kami di Bekasi menjadi proyek pertama digitalisasi sistem manajemen informasi produksi dan monitoring energi, dan menjadi bukti komitmen perusahaan dalam penerapan revolusi industri 4.0 secara bertahap. Tujuan utamanya untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, optimalisasi proses bisnis, pengembangan kompetensi SDM, dan juga pemenuhan tanggung jawab perusahaan terhadap penghematan energi dan pengurangan emisi karbon untuk mendukung tercapainya target SDGs. Kami percaya bahwa pencapaian target NZE Indonesia merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan swasta, lintas sektor dan menjangkau seluruh skala bisnis termasuk industri kecil dan menengah.” ucap Adhi Lukman, BOD PT Niramas Utama.

“Terima kasih atas dukungan Kemenperin yang telah memfasilitasi perusahaan skala menengah seperti kami dalam pengembangan kompetensi melalui program vokasi dan bimbingan teknologi penerapan IR 4.0. Kami juga berterima kasih kepada Schneider Electric dan mitranya PT JETEC Indonesia yang telah menjadi mitra strategis kami,” ujar Adhi

Adapun solusi EcoStruxure for Industry yang diterapkan pada tahap awal ini mencakup:

  • AVEVA system platform: IoT line monitoring & system alert berbasis perangkat lunak (software) yang dapat memberikan visualisasi menyeluruh terhadap operasional mulai dari bahan baku dan sumber daya hingga proses barang jadi di seluruh perusahaan secara real time. Memungkinkan pengintegrasian sistem aset meski dari berbagai merek sehingga dapat menekan biaya investasi dan implementasi yang lebih cepat.
  • EcoStruxure Power Monitoring Expert: sistem otomasi monitoring energi yang dapat memberikan wawasan terkait kesehatan sistem kelistrikan dan efisiensi energi untuk pengambilan keputusan yang tepat dalam upaya peningkatan kinerja.
  • Teknologi Augmented Reality: untuk diagnosa performa mesin secara virtual dan real time melalui tablet android atau ipad tanpa harus membuka komponen mesin secara manual, mengetahui potensi terjadinya masalah pada mesin sebelumnya, untuk meminimalisir risiko operasional, meningkatkan efisiensi dan biaya yang lebih rendah dalam perawatan aset.

“Tantangan mendasar yang mayoritas dialami IKM saat ini adalah belum adanya visibilitas menyeluruh dan integrasi data terhadap manajemen sumber daya (energi, air, gas, dsb) dan aset yang dapat diperoleh secara cepat, akurat dan real time. Hal ini karena proses pencatatan dan pengumpulan data yang masih manual. Selain itu pola pikir dan kesiapan sumber daya manusia dalam mengoperasikan teknologi juga membutuhkan atensi khusus,” kata Roberto Rossi, Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste.

Schneider Electric, memiliki visi misi untuk menjadi mitra digital bagi pelaku industri. Lebih dari sekedar penyedia teknologi, sekaligus menjadi mitra strategis yang mendampingi pelaku industri dalam setiap tahapan transformasinya.

Selain teknologi, Schneider Electric memberikan pendampingan melalui pelatihan, workshop, forum-forum diskusi di tiap level manajemen baik untuk manajemen lini pertama, menengah hingga manajemen puncak.

Schneider Electric memiliki tim konsultan yang akan memetakan kebutuhan transformasi, target hingga detil rencana aksi untuk memastikan transformasi yang dilakukan memberikan keuntungan bisnis dan keberpihakan pada lingkungan.

Adapun solusi EcoStruxure for Industry yang diimplementasikan ditahap awal ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi biaya perawatan aset hingga 20 persen per tahun, 99 persen meningkatkan efisiensi waktu pengumpulan data, mengurangi potensi produk gagal hingga 10 persen, dengan ROI dalam kurun waktu 2 tahun.

SF-Admin