Indonesia Hadapi Kondisi Pemotongan Suku Bunga

Bank Indonesia (BI) menurunkan reverse repo rate 7 hari sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5% kemarin, sesuai ekspektasi. Suku bunga acuan saat ini sudah turun 150bps sejak awal tahun 2020 dan pada posisi terendah sejak BI menggunakan reverse repo rate 7 hari.

Mempertimbangkan kasus Covid-19 yang masih tinggi, proyeksi Produk Domestik bruto (PDB) untuk tahun 2021 diturunkan dari 4,8-5,8% menjadi 4,3-5,3% (DBSf: 4,0%). Langkah-langkah tambahan yang diumumkan adalah pelonggaran persyaratan uang muka untuk kredit properti dan mobil, dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan kredit.

Pernyataan kebijakan menandai pergeseran posisi, karena ruang untuk pemotongan lebih lanjut dipandang terbatas, dimana sebelumnya ruang untuk pelonggaran masih cukup besar. Kami berharap kebijakan yang sudah ada saat ini akan dipertahankan sampai akhir tahun, dengan memperhatikan kurva pandemi.

Yang menggembirakan, penularan Covid-19 harian turun mencapai seperempat hingga pertengahan Februari, bersamaan dengan penurunan tingkat pemanfaatan tempat tidur (​bed occupancy rate), tetapi tingkat kematian dan kasus positif tetap tinggi, membuat pihak berwenang tetap waspada.

Peluncuran vaksinasi terus berlanjut (~1,2 juta telah menerima suntikan pertama), dengan diskusi yang sedang berlangsung untuk memungkinkan perusahaan swasta mendanai dan mendistribusikan dosis untuk mempercepat proses inokulasi.

Kecenderungan BI untuk mendukung pertumbuhan kemungkinan akan dilakukan melalui langkah-langkah non-suku bunga seperti ketentuan likuiditas, kebijakan makroprudensial, dorongan untuk menurunkan suku bunga pinjaman (suku bunga turun 83bps vs pemotongan 150bps), dan peran aktif di pasar obligasi seperti tahun lalu.

Terakhir, BI telah membeli obligasi senilai Rp40,8 triliun di pasar perdana pada pertengahan Februari, 45% melalui pembelian langsung. Dengan kebutuhan pembiayaan tahun 2021 yang dipatok lebih dari Rp1.000 triliun, peran aktif dari pemain domestik akan diperlukan untuk memastikan kelancaran program pinjaman.

Meskipun ada bantalan suku bunga riil yang cukup, perhatian juga akan tertuju pada imbal hasil UST yang telah meningkat tajam tahun ini seiring dengan penguatan dolar AS. Sejak posisi terendah awal Januari, imbal hasil IDR10Y dan 2Y (secara umum) meningkat ~ 60bps-80bps.

 

SF-Admin