PT Blue Bird Tbk secara berkelanjutan terus menunjukkan nilai peduli yang telah diwarisi oleh pendiri Bluebird demi mewujudkan tujuan perusahaan, yaitu Berbagi Kebahagiaan untuk Membangun Negeri.

Salah satunya melalui “Kawan Bluebird” yang ditujukan untuk membantu pelaku transportasi lokal di daerah untuk bangkit dan tumbuh sejalan dengan inisiatif BlueLife di bawah pilar Keberlanjutan Blue Bird Yang berfokus pada kontribusi Bluebird membangun negeri lewat aksi sosial dan kemasyarakatan.

Wakil Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Adrianto Djokosoetono mengungkapkan bahwa Kawan Bluebird adalah wujud nyata komitmen untuk membangun kemitraan yang kuat dengan transportasi lokal, “Bluebird meyakini bahwa transportasi lokal memiliki peran krusial dalam mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Melalui inisiatif Kawan Bluebird, kami berupaya memberikan solusi dan kontribusi nyata dalam mengembangkan sektor transportasi lokal menjadi lebih baik, efisien, dan berkelanjutan, demi kepentingan masyarakat dan pertumbuhan keseluruhan industri transportasi.”

Bluebird menyadari pentingnya kolaborasi dengan para operator taksi lokal dalam menghadapi persaingan di era disrupsi teknologi. Melalui inisiatif ini Bluebird memberikan pelatihan dan pendidikan kepada pengemudi taksi untuk meningkatkan keterampilan, kualitas pelayanan, dan pengetahuan mereka tentang teknologi terkini.

Selain itu, Bluebird juga memberikan bantuan keuangan dan kredit yang lebih mudah bagi pengemudi taksi lokal agar mereka dapat mengakses kendaraan yang lebih modern dan efisien.

Di Yogyakarta, secara khusus menerapkan hanya taksi lokal yang dapat beroperasi dan melayani di Bandara dan juga Stasiun KAI. Namun, disrupsi yang terjadi dalam periode tahun 2016 hingga 2019, disinyalir banyak perusahaan taksi konvensional menderita kerugian hingga gulung tikar, akibat tidak cukup cepat mengadopsi teknologi sehingga tidak bisa mengakomodir kebutuhan konsumen.

Salah satu perusahaan taksi yang cukup terdampak kala itu adalah Koperasi Serba Usaha (KSU) Pataga. Bukan hanya ditinggalkan konsumen, taksi yang berdiri sejak 1985 itu juga ditinggalkan para pengemudinya.

Ketua Paguyuban Taksi Pataga, Sujarwo Candra pada tahun 2019 menjelaskan, “Sesuai SK Gubernur, di DIY seharusnya kuota armada taksi yang beroperasi paling tidak 1.000 unit. Namun, saat ini yang beraktivitas hanya sekitar 600-700 unit armada.” Lebih lanjut dia mengaku bahwa fenomena kehadiran taksi daring ini muncul bagaikan tsunami, dengan dampak yang bahkan lebih buruk dari krisis ekonomi, yang ia analogikan hanya seperti badai.

Pada saat itu, banyak operator taksi merugi karena tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal. Bahkan, banyak yang menjual asetnya, sebagai dampak dari penurunan drastis jumlah pengemudi kala itu.

“Di Pataga, pada kala itu, terdapat 59 unit taksi dengan 80 pengemudi. Seiring waktu, jumlah unit armada di Pataga hanya tersisa 25 unit. Pada waktu itu tidak ada dewa penolong, pilih mati atau hidup,” ungkap Sujarwo.

Perjuangan KSU Pataga dalam mempertahankan bisnis dan operasionalnya bukan tanpa upaya ekstra. Mereka berupaya melakukan transformasi digital dengan mengimplementasikan metode pemesanan daring melalui aplikasi berbasis sistem IOS dan Android guna memberikan kemudahan layanan bagi pemakai jasa taksi Pataga.

Sayangnya, aplikasi tersebut sulit dioperasikan dan justru mempersulit transaksi jasa mereka. Akibatnya, banyak konsumen yang mengeluh dan kecewa terhadap pelayanan taksi Pataga. “Makin lama, ujian saya makin banyak,” ungkapnya.

Di tengah keputusasaan itu, angin segar datang dari PT Blue Bird Tbk, yang menginisiasikan program “Kawan Bluebird”. Program tersebut dibangun untuk menggalakan kerjasama operasional dengan taksi lokal daerah di beberapa propinsi di Indonesia dengan tujuan jangka panjang untuk menghidupkan kembali industri taksi lokal di Indonesia.

Melalui program ini, Bluebird menargetkan penambahan jumlah area dan/atau jumlah mitra taksi lokal sebanyak 2-3 area per tahun.

Dengan lega, ia bertutur bahwa tahun 2022 menjadi momen bersejarah bagi KSU Pataga. Karena di tahun ini Pataga sudah bisa bernafas lega dengan kondisi yang semakin baik dan bisa membalikkan keadaan.

“Di momen ini, kami memiliki potensi untuk berkembang dan kembali menjadi armada yang terpercaya untuk beroperasi di bandara, stasiun, dan di lokasi-lokasi lainnya. Intinya, saat ini semuanya menuju normal dan Pataga berhasil membukukan keuntungan yang sangat baik per bulan berkat kerjasama dengan Kawan Blue Bird,” ungkapnya.

Keberhasilan Bluebird dalam melakukan transisi adopsi teknologi turut meningkatkan kepercayaan Pataga sebagai operator taksi lokal untuk bergabung menjadi Kawan Bluebird. Pasalnya, Bluebird berhasil menggabungkan teknologi dengan sentuhan manusia sebagai DNA perusahaan.

Setiap pemanfaatan teknologi yang diadopsi Bluebird ditujukan untuk memperkuat fondasi layanan Aman, Nyaman Mudah dan Personalised (ANDAL) dalam memberikan layanan prima kepada pengguna serta meningkatkan efisiensi operasional pengemudi melalui berbagai inisiatif seperti penerapan teknologi Internet of Things (IoT), Driver App, dan “Bluebird Pintar” dengan berbasis AI untuk optimasi kegiatan operasional Bluebird.

Hal sama juga dirasakan taksi Rina Rini di Kota Kembang, Bandung. Sempat nyaris tutup kini operator taksi tersebut berhasil bangkit dengan sistem kemitraan Kawan Bluebird. Kini taksi Rina Rini menjadi taksi lokal asal Bandung yang dapat bangkit untuk membantu mobilitas masyarakat.

Herni Herdiani, Direktur Utama Berekat Tiga Putri, Menyatakan bahwa Kawan Bluebird lebih dari sekedar kolaborasi Bisnis.

“Bukan hanya pengalaman transformasi, Bluebird juga dapat menjadi contoh bagaimana pentingnya menjaga nilai dan fondasi sebagai penyedia solusi mobilitas melalui penanaman nilai Peduli, Integritas, Pola Pikir Berkembang, yang mendukung pelayanan prima. Sehingga Kawan Bluebird tidak hanya sekedar sebuah kolaborasi bisnis, namun juga sebuah pembelajaran bagi kami untuk meningkatkan kualitas layanan mobilitas untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengguna di setiap kilometer yang mereka tempuh bersama kami,” ungkapnya.

Tak hanya dalam bisnis taksi, Bluebird juga turut mendukung perkembangan transportasi lokal di wilayah Jawa Barat. Bluebird ditunjuk sebagai mitra strategis PT Jasa Sarana, BUMD Jawa barat dalam membangun sistem mobilitas yang lebih baik.

“Terbukanya mobilitas membuka kesempatan bagi transportasi darat untuk bangkit. Karena itu, kami berupaya memberikan dampak positif bagi rekan-rekan transportasi darat untuk dapat tumbuh dan berkembang bersama Bluebird. Kami berharap tahun ini, di tengah perkembangan bisnis yang baik Bluebird dapat semakin banyak dapat merangkul rekan-rekan untuk bersama memajukan sektor transportasi,” tutup Andre.

SF-Admin