Koperasi Didorong untuk Lakukan Terobosan “Extraordinary”

Koperasi disarankan untuk melakukan terobosan “extraordinary” agar mampu menjalankan perannya sebagai soko guru perekonomian bangsa sekaligus dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.

Praktisi dan pengamat koperasi Frans Meroga Panggabean mengatakan, selama 73 tahun terakhir ini koperasi belum mampu menjalankan perannya sebagai soko guru perekonomian bangsa karena belum diberikan peran yang sentral dan signifikan untuk menjadi motor utama penggerak perekonomian bangsa.

“Di tengah tantangan pandemi inilah, dan pascanormal baru pemerintah seharusnya memberikan perhatian khusus dan serius kepada ekonomi kerakyatan. Serta menjadi poin krusial, bahwa dalam mewujudkan pemulihan perekonomian nasional, koperasi harus diberikan peran lebih sentral,” kata tokoh gerakan milenial itu.

Frans menjelaskan pemeran utama dari sektor riil adalah pelaku UMKM, pekerja informal, yang banyak diwadahi oleh koperasi.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar koperasi diberikan peran yang signifikan dan dominan agar bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Frans menyayangkan dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dialokasikan bagi UMKM sebanyak Rp123,46 triliun dari total seluruh anggaran PEN yang mencapai Rp700 trilun baru terserap 0,20 persen atau Rp.250 miliar.

Menurut dia, perlu sistem penyaluran yang lebih efisien dan efektif tanpa prosedur yang berbelit-belit sehingga bisa terserap optimal membantu pelaku koperasi dan UMKM di lapangan.

“Pemerintah harus peka dan jeli mencermati fakta bahwa mayoritas pelaku UMKM belum dapat mengakses perbankan. Selain itu urgensi kebutuhan pelaku UMKM sangat mendesak adalah penguatan modal dalam masa pemulihan di era normal baru ini. Logika sederhananya, bagaimana mungkin pelaku UMKM memulai kembali usahanya apabila tidak ada permodalan,” kata Frans.

Wakil Ketua KSP Nasari ini pun mengatakan bahwa dalam era digitalisasi dan teknologi sekarang pun, koperasi diyakini sebagai badan usaha yang paling sesuai dengan generasi milenial.

Menurut dia ini penting harus disikapi mengingat komposisi generasi milenial adalah sekitar 40 persen dari total penduduk Indonesia, berjumlah sampai 100 juta orang.

Karakter dan preferensi milenial yang gemar berkumpul atau “guyub”, lalu tren “sharing economy” yang digemari generasi milenial, serta menjunjung tinggi kesetaraan atau egaliter dianggap sangat erat dengan koperasi.

Rapat anggota koperasi sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sejalan dengan karakter milenial yang senang berkumpul sehingga dapat tersalurkan secara positif.

“Lalu karakter ekonomi berbagi yang tren dalam generasi milenial dapat terakomodir dengan adanya pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU). Yang terakhir generasi milenial yang sangat menjunjung tinggi kesetaraan sudah otomatis sejalan dengan jati diri koperasi yang menganut ‘one man one vote’, dan bukan one’ share one vote’ seperti pada perseroan,” urai Frans.

Apabila kampanye ini terus didengungkan, maka Indonesia akan memiliki strategi yang “extraordinary” guna mendorong pemulihan ekonomi nasional pascapandemi COVID-19.

“Presiden Jokowi meminta terobosan strategi ‘extraordinary’ dalam pemulihan ekonomi nasional, saya yakin kolaborasi yang kuat antara generasi milenial dengan pendorong pemanfaatan teknologi digital memang sebuah keniscayaan. Tapi yang terpenting harus tetap berdasarkan modal sosial yang kuat berwadahkan koperasi. Ini akan sangat luar biasa karena terobosan ini merupakan Transformasi Extraordinary Ekonomi Kerakyatan 5.0,” kata Frans.

 

SF-Admin