Perkembangan pariwisata ibarat memiliki 2 sisi koin yang berbeda. Di satu sisi pariwisata mendukung perekonomian daerah dan negara. Di sisi lain, perkembangan pariwisata juga Menyebabkan meningkatnya timbunan sampah di destinasi wisata yang mencemari lingkungan dan mengganggu kenyamanan berwisata.

Untuk membahas masalah yang muncul karena perkembangan wisata ini, Greeneration Foundation mengadakan EcoRanger Talkshow Series 3.0 pada 10 Juni 2021 pada pukul 09.00-12.00 WIB secara virtual. EcoRanger Talkshow Series merupakan acara bincang dengan ekspertis mengenai isu persampahan di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Seperti diketahui, sebelumnya EcoRanger Talkshow menyoroti isu persampahan di KSPN Labuan Bajo, Manado-Likupang, dan Bromo Tengger Semeru, kali ini, EcoRanger Talkshow Series 3.0 mengusung tema “Menilik Pengelolaan Sampah Desa Wisata di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba, Sumatera Utara”. Kegiatan dihadiri sekitar 100 orang peserta.

EcoRanger Talkshow 3.0 diadakan pada bulan Juni, menyusul Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni 2021, dan Hari Laut Sedunia yang jatuh pada 8 Juni 2021.

Sampah yang mencemari ekosistem laut dan masuk ke perairan semakin mengancam. Sampah, terutama sampah plastik masuk ke perairan semakin bertambah tiap tahunnya. Berdasarkan data yang dipaparkan penelitian National Plastic Action Partnership (2017), Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, 620.000 ton sampah plastik masuk ke perairan Indonesia.

Untuk mengatasi permasalahan sampah ini, Pemerintah Indonesia melalui peraturan Presiden nomor 83/2018 mengeluarkan regulasi tentang penanganan sampah laut yang menargetkan 70% penanganan sampah plastik yang mencemari laut Indonesia di tahun 2025.

Sebagai salah satu sektor yang berkembang pesat di Indonesia, perkembangan sektor pariwisata tak luput menyebabkan dampak kerusakan lingkungan bagi kawasan pariwisata. Masalah sampah yang disebabkan industri pariwisata semakin lama kian memburuk karena produksi sampah yang terus terjadi tanpa diimbangi pengelolaan sampah yang memadai di kawasan pariwisata.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun gencar mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang menerapkan sistem SDGs untuk merespon isu ini. Selaras dengan regulasi tersebut, Greeneration Foundation melalui program EcoRanger berupaya untuk mendorong lahirnya sistem pengelolaan sampah, khususnya di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

ETS 3.0 dibuka dengan keynote speech dari Surana, MBA dari Koordinator Peningkatan Kompetensi SDM Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), mewakili Wisnu Tarunajaya sebagai Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf.

Surana menegaskan, “Sekarang ini muncul tren baru dalam dunia pariwisata paska pandemi. Dimana kompetensi CHSE menjadi aspek yang sangat penting untuk dimiliki destinasi wisata, termasuk desa wisata. Dalam pengembangan pariwisata butuh keterlibatan baik dari masyarakat, komunitas, dan pemerintah. Poin penting yang harus kita pegang dalam mengembangkan pariwisata adalah kita harus mengembalikan lingkungan dan alam karena kita hanya meminjam dari anak cucu kita dan harus mengembalikan seperti sedia kala.”

Dalam diskusi ETS 3.0, Armawati Chaniago, tokoh penggerak bank sampah asal Medan yang telah mengelola 268 bank sampah, menyatakan bahwa, “KSPN Danau Toba harus segera memiliki strategi untuk mengatasi sampah di desa wisata Danau Toba. Masalah ini tidak bisa ditunda untuk diselesaikan karena volume sampah lebih besar daripada kontainer sampah.”

Ojax Manalu, seniman yang merupakan Founder sekaligus Direktur Rumah Karya Indonesia (RKI) di Medan mengungkapkan, “Membangun pariwisata yang berkelanjutan itu tidak melulu hanya membicarakan strategi. Ada aspek yang tak kalah penting dan tidak boleh terlewatkan yaitu membangun budaya di masyarakat untuk bergerak bersama mengembangkan pariwisata berkelanjutan.”

Sementara Irwansyah Putra, Koordinator Fasilitas Pelaksanaan Pemanfaatan Dana Desa, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, berpendapat bahwa “Dalam membangun desa wisata, kita harus dukung aparatur desa, semua orang di desa memiliki keterbatasan, disitulah kita sebagai pegiat lingkungan bisa membantu memberdayakan mereka. Supaya kita bisa membawa perubahan agar desa lestari dan dan dapat menunjang perekonomian masyarakat Indonesia.”

Dengan diselenggarakannya ETS 3.0, harapannya banyak gagasan-gagasan baru yang muncul terkait membangun sistem pengelolaan sampah di destinasi pariwisata Indonesia. Direktur Eksekutif Greeneration Foundation Vanessa Letizia menyampaikan polemik yang terjadi dari pengembangan pariwisata.

Berawal dari diskusi, kedepannya diharapkan jutaan langkah nyata dari berbagai pihak menginisiasi program-program pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Demi tercapainya target pemerintah Indonesia dalam bidang pengelolaan sampah dan terciptanya lingkungan yang lestari dan sehat untuk ditinggali seluruh makhluk bumi dalam harmoni.

Kegiatan ini berkolaborasi bersama pesonadesa.id dan CAVENTER, serta bekerjasama dengan Gajahlah Kebersihan, Waste 4 Change, Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia, Tim Koordinator Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Zero Waste Indonesia, dan #Saya Pilih Bumi sebagai media partner.

 

SF-Admin