Mengenal Lebih Dekat Generasi Snapchat

Saat ini, teknologi digital sudah merambah hamper ke semua lini aktivitas harian, banyak hal kini dapat dilakukan dengan mudah dan murah. Salah satunya adalah dalam hal komunikasi. Beragam media untuk berkomunikasi bermunculan yang menjembatani seseorang dengan orang lain maupun orang-orang yang belum dikenal sebelumnya.

Salah satu media komunikasi yang dilakukan oleh sebagian pengguna media sosial dan smartphone adalah Snapchat. Aplikasi Snapchat ini merupakan salah satu aplikasi media sosial yang banyak digunakan oleh pengguna smartphone.

Untuk Generasi Snapchat, inklusivitas adalah kunci, menjadikan mereka grup yang unik dan beragam. 7 dari 10 Snapchatter di APAC memandang diri mereka inklusif dan lebih cenderung daripada non-Snapchatter untuk mengatakan bahwa mereka dan teman mereka inklusif terhadap orang, budaya, dan ide yang berbeda.

Di APAC, 7 dari 10 juga mengatakan mereka ingin representasi online mereka mewakili “diri saya yang sebenarnya”, namun mereka juga senang bermain-main karena mereka hampir 1,7X lebih mungkin daripada non-Snapchatter untuk mengatakan bahwa mereka biasanya mengedit atau menggunakan filter pada foto diri mereka sendiri karena mereka melihat hal ini sebagai ekspresi kreativitas.

Saat berkomunikasi, lebih dari setengah Generasi Snapchat di Indonesia menyertakan gambar dan media (mis., Emoji, foto, meme, video call) dalam komunikasi digital mereka. (56%)

Ekspresi kreatif adalah prioritas utama bagi mereka, dan mereka mengekspresikan diri melalui selera musik, pakaian, serta upaya kesehatan fisik dan mental. Sementara 70% Snapchatter mengatakan bahwa pakaian yang mereka kenakan mengekspresikan kepribadian mereka, 51% dari mereka mengatakan bahwa konten yang mereka buat/bagikan secara online menunjukkan kepribadian mereka.

Secara umum, mereka merasa tertekan untuk tumbuh dewasa dengan cepat, karena 60% Snapchatter merasa mereka diharapkan untuk bertindak seperti orang dewasa sejak usia muda, tetapi hanya 30% Snapchatter di Indonesia yang harus bertindak seperti orang dewasa sebelum dianggap dewasa secara hukum.

72% Snapchatter di Indonesia menghabiskan lebih dari 4 jam di depan layar (misalnya komputer, ponsel, tablet) pada hari kerja dan 77% pada akhir pekan, tidak termasuk waktu mereka menggunakan layar untuk bekerja atau sekolah pada hari kerja. Tiada hari tanpa memeriksa aplikasi sosial, komunikasi, dan/atau kamera (51%).

Alasan mereka menggunakan Snapchat adalah karena Snapchat membuat mereka tertawa (31%), membuat mereka tidak merasa bosan (29%), dan membantu mereka mengetahui apa yang terjadi/tetap berhubungan dengan teman-teman (28%).

 

Cara Baru untuk Terhubung

Alasan nomor satu mereka menggunakan Snapchat adalah untuk terhubung dengan teman dan keluarga. Dengan berbagai pilihan alat komunikasi digital di ujung jari mereka, menjadikan mereka tidak terbatas pada metode komunikasi tradisional.

Mereka 180% lebih mungkin dibandingkan non-Snapchatter untuk berkomunikasi dengan gambar daripada melalui kata-kata, bahkan ada 30% Snapchatter di Indonesia menyatakan hal yang sama. Bersama dengan gambar, mereka suka berbagi meme, video, dan emoji untuk tetap terhubung.

Pandemi saat ini juga membuat hubungan mereka menjadi lebih penting. 70% menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga mereka. Selain itumenurut mereka AR (augmented reality) membuat pengalaman digital terasa lebih imersif (misalnya, menggunakan filter dan lensa) (68%).

Cara baru lainnya untuk terhubung adalah melalui game. 75% Snapchatter Indonesia mengatakan mereka suka bermain dengan teman dan keluarga, dan 68% bahkan pernah bertemu teman baru melalui video game.

Namun,tidak semuanya hanya soal kesenangan dan permainan — lebih dari setengah dari mereka memandang permainan sebagai aktivitas produktif yang membantu mereka membangun keterampilan baru. Selain itu, para Snapchatter di Indonesia merasa bermain video game/game seluler membantu mereka bersantai (77%).

 

Membuat Perubahan melalui Platfrom Sosial

Dengan mosaik alat komunikasi, Generasi Snapchat percaya bahwa mereka dapat membantu mengubah dunia. 53% percaya bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membuat perubahan sosial dan berkontribusi pada gerakan aktivis menggunakan platform sosial.

Snapchatter di Indonesia tampak optimis dengan 63% setuju bahwa generasi mereka memiliki kekuatan untuk mengubah dunia melalui media digital (misalnya, aplikasi sosial, komunikasi, dan/atau kamera) dan 60% percaya bahwa gerakan sosial yang kuat dapat terjadi secara online.

Dedikasi yang kuat pada tujuan mereka memengaruhi setiap aspek kehidupan mereka, termasuk brand tempat mereka berinteraksi dan berbelanja. 1 dari 2 Generasi Snapchat mengatakan bahwa mereka cenderung tidak membeli dari brand yang memilih untuk mempromosikan sisi berlawanan dalam masalah sosial yang penting bagi mereka. Di Indonesia, 35% Snapchatter lebih suka memiliki produk/barang yang berasal dari toko kecil/lokal.

 

Hasrat Belanja yang Kuat

Sebagai sebuah grup, Snapchatters memiliki kekuatan belanja global sebesar $ 4,4 triliun – 16% di antaranya berasal dari lima pasar yaitu Australia, India, Indonesia, Malaysia, dan Jepang, tetapi mereka memikirkan dengan cermat dengan brand mana mereka akan berbelanja.

Karena nilai yang dipegang oleh brand tersebut sangat penting bagi mereka, mereka 1,2X lebih mungkin dibandingkan non-Snapchatter untuk mendukung brand yang mereka sukai, dan 1 dari 2 mengatakan mereka suka mempelajari latar belakang brand dan produk yang mereka beli.

Hal ini memberi brand peluang utama untuk terhubung dengan generasi ini melalui cerita asal mula yang menarik dan narasi bagaimana mereka membangun bisnis. 68% Snapchatter di Indonesia mengatakan bahwa mereka lebih suka mendapatkan pengalaman live yang keren dari suatu brand, daripada mendapatkan produk keren dari brand tersebut, dan belanja online adalah pilihan yang lebih disukai sejak Covid-19 (91%).

Generasi ini bersedia menghabiskan lebih banyak uang daripada non-Snapchatter di setiap kategori, dan mereka mempertimbangkan brand besar dan kecil secara setara. Begitu mereka setia pada suatu brand, mereka akan meleburkannya ke dalam identitas mereka, menggunakan logo untuk memberi sinyal kepada dunia tentang nilai-nilai brand tersebut yang juga mereka pegang, namun 64% Snapchatter di Indonesia lebih memilih untuk mencoba brand baru. Para Snapchatter Indonesia senang mempelajari latar belakang merek dan produk yang mereka beli (72%).

Mengenakan logo brand membantu Snapchatter Indonesia menunjukkan identitas mereka (60%), dan itu berarti mereka setuju dengan tujuan dari brand tersebut (63%). Studi tersebut juga menemukan bahwa Snapchatter di Indonesia merasa lebih terhubung dengan budaya negaranya (75%).

Generasi Snapchat di Indonesia juga cenderung menggunakan telepon genggam mereka (88%) saat berbelanja dan browsing lebih banyak daripada tahun lalu dan menggunakan AR untuk mencoba produk 2,4X lebih banyak daripada non-Snapchatter.

 

Kekuatan Penentu Masa Depan

Untuk terhubung dengan generasi ini, brand perlu menemukan cara untuk tampil secara otentik dan menetapkan peran mereka sebagai aktivis dengan mendukung dan berinvestasi dalam tujuan yang bermakna.

Para Snapchatter di Indonesia senang berbicara dengan orang lain tentang penyebab dan masalah sosial (65%). Keputusan diserahkan kepada brand untuk berpikir secara strategis tentang bagaimana menyertakan Generasi Snapchat ke dalam cerita mereka. Sebagai agen perubahan, generasi ini mengharapkan lebih banyak dari brand – mereka ingin brand bergabung dengan mereka saat mereka mengubah dunia.

Karena sebagian besar Snapchatter di Indonesia memiliki perasaan penuh pengharapan (67%) atas tahun 2021, tahun ini akan menjadi tahun penting untuk memulai sesuatu yang baru.

 

SF-Admin