Menggunakan Masker Tetap Berjalan, Meski Vaksinasi Mulai Diberikan

Distribusi Masker Medis AICE di Kota Batam

Dalam hal penanggulangan pandemi COVID-19 di Indonesia, Pemerintah Pusat telah menjelaskan bahwa proses vaksinasi ke seluruh masyarakat dapat memakan waktu satu setengah hingga tiga setengah tahun.

Mengingat cukup panjangnya proses pemberian vaksin ini,  tidak dapat serta merta melupakan protokol kesehatan yang sudah diterapkan sebelumnya, salah satunya adalah menggunakan masker, menjaga jarak, serta cuci tangan yang akan terus diimplementasikan di berbagai sektor.

Melihat kebijakan ini, Walikota Batam Muhammad Rudi mengatakan bahwa meskipun proses vaksinasi Covid-19 sudah mulai dijalankan, namun masyarakat tetap harus disiplin dalam menggunakan masker dan Protokol Kesehatan (Prokes 3M) dalam berbagai aktifitas sosialnya.

Lebih lanjut, Rudi menjelaskan bahwa Pemerintah dan segenap elemen masyarakat akan mendukung vaksinasi dalam membangun kekebalan melawan virus ini. Namun demikian, masker medis yang berkualitas tetap akan menjadi protokol penting bagi semua warganya dalam menghindarkan diri dari virus korona dan kemungkinan strain barunya yang muncul di dunia.

“Hingga pandemi ini usai, ada dua hal yang akan kita percepat dan perkuat implementasinya. Pertama adalah vaksinasi, dan yang kedua adalah disiplin penggunaan masker berkualitas dalam semua aktifitas sosial. Vaksin dan masker sama-sama pentingnya,” kata Rudi.

Rudi menyampaikan betapa pentingnya masker medis yang berkualitas bagi masyarakat dalam kesempatan distribusi 5 juta masker medis di 20 wilayah Indonesia, yang saat ini mulai menyambangi wilayahnya. Acara dilakukan di Aula Lantai 4 Kantor Walikota Batam, Rabu (20/1/2021) sore.

Misi Kemanusiaan yang mendistribusikan masker medis Aice-SHIELD dimotori oleh koalisi besar berbentuk pentahelix berbagai elemen pemangku kepentingan. Gerakan berawal dari Kantor Staf Presiden (KSP), Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan produsen es krim Aice Group.

“Masker medis yang didistribusikan GP Ansor dan Aice Group ini menjadi komplemen yang penting bagi proses vaksinasi Indonesia. Masker medis berkualitas adalah upaya kolektif koalisi stakeholder yang pas dalam menjagai masyarakat. Edukasi soal masker atau 3M memerlukan partisipasi semua elemen. Pemerintah kota (Pemko) sangat mengapresiasi gerakan masker medis ini,” tambah Walikota.

Walikota juga menambahkan meski vaksinasi sudah jalan bertahap, ia akan tetap menjaga kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan Protokol 3M. Terlebih lagi, proses vaksinasi akan berjalan dalam waktu yang cukup lama.

Juru Bicara sekaligus Brand Manager Aice Group Sylvana mengatakan bahwa perusahaannya telah sepakat bersama KSP dan GP Ansor dalam menjalankan aktivitas konkret melawan virus berbahaya ini.

Aice menilai setidaknya ada dua kunci sukses keberhasilan yang saling berkorelasi dalam menimalisasi penularan. Daya tahan masyarakat suatu daerah dalam melawan virus korona sangat ditentukan oleh adanya integrasi kepemimpinan yang tegas dengan partisipasi tinggi masyarakat menjalankan Prokes.

Sylvana menilai bahwa keterbatasan jumlah tempat tidur dan fasilitas kurasi di rumah sakit khusus pasien Covid-19 harus dipertimbangkan. Pencegahan penularan di kelompok masyarakat yang rentan tertular virus jahat ini.

Ia mengharapkan, gerakan Aice Group bersama KSP dan GP Ansor dalam mengalokasikan 150 ribu masker medis 3-ply ke Batam di pertengahan Januari ini akan efektif perburukan situasi. Batam sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar Indonesia perlu terhindar dari pandemi. Keterbatasan di infrastruktur kurasi sudah makin terlihat. Jumlah dokter dan Nakes akan kesulitan menyembuhkan seluruh warga.

“Keterbatasan fasilitas rumah sakit dan tingginya jumlah kematian Dokter dan Nakes yang cukup tinggi harus kita waspadai. Kita perlu bersama-sama dengan sekuat tenaga membatasi penularan. Aice Group berharap misi kemanusiaan 5 juta masker medis ini akan memperkuat langkah vaksinasi yang sedang berjalan. Mudah-mudahan 2021 akan menjadi tahun terakhir pandemi untuk bangsa kita,” harap Sylvana.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Kepulauan Riau Rahmad Budi Harto mengatakan bahwa misi kemanusiaan organisasinya bersama produsen es krim nasional ini adalah gerakan lintas kelompok masyarakat. Ansor, Aice dan KSP melibatkan semua elemen masyarakat dari semua suku, agama maupun kelompok profesi di Batam.

Menurutnya, misi kemanusiaan yang telah berjalan sejak April saat pandemi baru melanda Indonesia menempatkan diri di garda depan yang riil memperkuat titik terlemah infrastruktur dalam melawan virus jahat ini. Kelompok masyarakat paling rentan tertular menjadi titik fokus utamanya.

GP Ansor, Aice dan kalangan dokter dan Nakes  sudah melakukan banyak langkah perbaikan sejak awal pandemi di Indonesia. Pada April tahun lalu, Aice dan GP Ansor mendistribusikan Alat Pelindung Diri (APD) yang kala itu sangat langka di kalangan Nakes. Ansor dan Aice Group masuk ke belasan rumah sakit di wilayah Jabodetabek, Rembang dan Wisma Atlet untuk mengantarkan APD dan sejuta es krim untuk Nakes.

Saat itu, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas yang belum lama masuk Kabinet sebagai Menteri Agama mengatakan bahwa Ansor akan berada di garda depan dalam memperbaiki kondisi negeri saat pandemi ini. Pria yang kerap dipanggil Gus Yaqut ini memerintahkan Ansor dan Banser untuk memperkuat perlindungan keselamatan nyawa Nakes dengan APD yang lengkap.

Selain itu, sejuta es krim Aice juga didistribusikan GP Ansor dan Aice ke kalangan dokter dan Nakes. Ia meyakini es krim akan menimbulkan keceriaan di kalangan Nakes yang sudah lelah jiwa dan raganya saat awal pandemi tersebut.

Rahmad juga menjelaskan bahwa GP Ansor Kepri akan memfokuskan 150 ribu masker medis SHIELD kali ini untuk memperkuat pertahanan diri beberapa kalangan masyarakat yang paling rentan tertular virus. Profesi penggali kubur, petugas sampah, Pedagang Kaki Lima, Ojek Online, santri, guru, dan kyai menjadi beberapa kalangan yang akan didahulukan menerima cukup masker medis berkualitas ini.

“Ikhtiar kita saat ini adalah membuat 5 juta masker yang dibagikan ke masyarakat grass root yang rentan tertular bisa membangun ketangguhan bangsa kita melawan Covid-19. Insya Allah dengan semangat kekeluargaan dan kerja bersama konkrit ini, kita bisa mawas dan saling memperkuat diri satu sama lain. Insya Allah bangsa ini akan makin kuat dan rekat dalam menjalani cobaan, Amin,” harap Rahmad.

 

Total 20 Juta Masker Medis Berkualitas Diproduksi Aice

Masker medis yang didistribusikan dalam kampanye bernama Aice-SHIELD dinyatakan produsen es krim terkemuka ini memiliki spesikasi dan kualitas sangat baik. Masker medis ini berbahan dengan kualitas tinggi serta diproduksi oleh Aice Group sendiri. Aice Group menjelaskan bahwa SHIELD sudah mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Selain 5 juta masker medis yang didistribusikan ke kalangan masyarakat luas di 20 kabupaten dan kota, Aice juga membagikan 15 juta masker lainnya ke masyarakat lewat jaringan penjual es krim Aice di masyarakat.

Saat ditanyai media, Sylvana menjelaskan bahwa pada saat ini Aice memiliki lebih dari 250 ribu jaringan warung atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjual es krim produksinya. Produsen es krim yang dikenal dekat dengan masyarakat berbagai kalangan dan memiliki harga terjangkau oleh semua level masyarakat ini memiliki jaringan pemasar yang kuat di masyarakat.

Hal ini menjadikan 200 ribu lebih pemasar warung tradisional yang ada di seantero Nusantara membuat efektif dalam mengedukasi masyarakat menghindari penularan.

Produsen es krim yang berpabrik di Mojokerto, Bekasi dan satu lagi yang segera beroperasi di Sumatera Utara ini, mengatakan 100 persen masker ini diproduksi di dalam negeri. Sejak awal pandemi, Aice memproduksi sendiri SHIELD di pabriknya di Mojokerto.

Sylvana mengatakan bahwa gerakan kolektif berupa pentahelix semua anak bangsa yang peduli atas cobaan yang sedang dialami semua pihak.

Misi kemanusiaan GP Ansor dan produsen es krim Aice ini sendiri merupakan aksi bersama Pemerintah Pusat melalui KSP dan Pemerintah Daerah yang mengedepankan peranan komunitas.

Menariknya, gerakan ini menitikberatkan peran dari organisasi dan tokoh di masyarakat, akademisi, dan dukungan swasta, serta komunikasi yang efektif melalui media massa.

“Aice bersama dengan banyak stakeholder di 20 kota, akan mendistribusikan 5 juta masker. Kami akan terus bergerak bersama dan tidak akan menyerah. Kuantitas yang cukup dan edukasi disiplin  penggunaan masker berkualitas, ditambahi dukungan kearifan lokal dari para tokoh agama dan budaya di masyarakat menjadi kunci gerakan kita bersama ini,” kata Sylvana

Menurutnya, gerakan pentahelix membagikan masker berkualitas didasari niatan banyak pihak dalam menghindarkan masyarakat dari bahaya droplet mengandung virus dalam berbagai aktivitas yang makin meningkat saat ini secara optimal. Droplet mengandung virus ini dapat muncul di dalam batuk, bersin dan cairan yang keluar saat melakukan percakapan di ruang tertutup atau jarak dekat.

“Aice memproduksi masker medis dalam jumlah sangat besar untuk menekan penularan virus di masyarakat. Visi kemanusiaan akan selalu menjadi bagian dari proses bisnis Aice. Bukan hanya memberikan keceriaan lewat es krim yang berkandungan baik seperti Aice Susu Telur, misalnya, tapi juga dengan aktivitas riil ratusan ribu UMKM penjual Aice membagikan kebaikan dalam jutaan masker medis Shield ini,” tutup Sylvana.

 

SF-Admin