MSG Tidak Membahayakan Kesehatan Jika Digunakan dengan Bijak

Arnold (Senior Product Manager PT Sasa Inti), Albert Dinata (General Manager Marketing PT Sasa Inti), DR med. Dr Maya Surjadjaja M Gizi, Sp GK (IAAF, Head of Partnership, Development and Inter-institutional Relationship PDGKI), Fenny Kusnaidy (General Manager Brand PT Sasa Inti), Chef Igo (Professional Chef PT Sasa Inti)

MSG atau Monosodium Glutamate selama ini kita kenal, telah digunakan sebagai bahan penambah rasa masakan sejak lama. Tapi, dewasa ini, banyak yang berasumsi bahwa MSG dapat menggangu kesehatan tubuh. MSG diasumsikan bisa merusak otak yang pada akhirnya berpengaruh terhadap penurunan intelegensi.

Dari asumsi yang beredar ini, muncullah istilah “generasi micin”, dimana seolah-olah MSG menjadi gambaran perilaku generasi muda saat ini, saat mereka bertindak tanpa berpikir dulu, walaupun asumsi ini belum bisa dibuktikan kebenarannya.

PT Sasa Inti, selaku produsen Sasa MSG sangat menaruh perhatian terhadap asumsi yang beredar seperti ini, dan merasa perlu untuk memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai penggunaan bumbu penyedap rasa kepada masyarakat dengan melakukan kerja sama edukasi bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI).

Program kerja sama edukasi yang dilakukan melalui acara Konferensi Pers yang bertemakan “Penggunaan bumbu penyedap rasa dengan bijak tidak berbahaya bagi kesehatan” yang rencananya akan dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia seperti di Jakarta, Semarang, Surabaya dan beberapa kota besar lainnya.

Dokter dan ahli nutrisi, Dr Maya Surjadjaja menjelaskan, sejak berabad-abad yang lalu, MSG merupakan penyedap rasa alami yang diperoleh dari hasil pengolahan rumput laut dan kini dengan berkembangnya teknologi, MSG dibuat dari proses fermentasi tepung yang pengolahannya mirip seperti membuat cuka, minuman anggur (wine) ataupun yoghurt.

Secara kimia, MSG berbentuk seperti bubuk Crystalline berwarna putih yang terkandung atas 78% asam glutamat dan 22% sodium dan air. Asam glutamat yang terkandung dalam MSG tidak memiliki perbedaan dengan asam glutamat yang terkandung dalam tubuh manusia dan dalam bahan-bahan makanan alami seperti keju, ekstrak kacang kedelai dan tomat.

Penggunaan MSG yang ditambahkan ke dalam masakan untuk menghasilkan rasa gurih semakin tinggi penggunaannya dari waktu ke waktu. Di banyak negara, MSG sering disebut sebagai “garam Cina (China salt) karena penggunaan MSG memang paling sering digunakan untuk berbagai menu masakan Asia serta beberapa makanan olahan di berbagai negara Barat.

Selain memberikan rasa gurih jika dibubuhkan ke dalam masakan, MSG memberikan aroma khas jika dibubuhkan ke dalam makanan olahan. Rasa gurih yang dihasilkan ini dinamakan dengan rasa “Umami” atau rasa kelima setelah rasa manis, asin, pahit dan asam. Kata “Umami” sendiri diambil dari bahasa Jepang yang artinya rasa menyenangkan dan gurih.

Berdasarkan hasil riset yang hasilnya telah dipublikasikan pada tahun 2015 melalui jurnal terbuka berjudul “Flavour” yang berisikan berbagai artikel mengenai “The Science of Taste” disebutkan bahwa rasa umami dapat memperbaiki rasa makanan rendah kalori yang mana hal itu justru dapat menguntungkan bagi kesehatan. Selain memberikan rasa gurih jika dibubuhkan ke dalam masakan, MSG memberikan aroma khas jika dibubuhkan ke dalam makanan olahan.

Ditemui dalam acara konferensi pers yang membahas mengenai penggunaan bumbu penyedap rasa dan efeknya bagi kesehatan, Prof. DR. Dr. Nurpudji A. Taslim, MPH, SpGK(K) selaku Ketua Umum PDGKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia) yang menjadi salah satu pembicara menjelaskan “Pembahasan mengenai Monosodium Glutamate atau MSG memang masih marak dibicarakan karena begitu banyaknya mispersepsi yang terjadi di kalangan masyarakat mengenai efek negatifnya terhadap kesehatan. Penggunaan bumbu penyedap rasa tidak berbahaya bagi kesehatan selama penggunaannya dilakukan dengan bijak, yang artinya bahan penyedap rasa itu digunakan sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan”.

Dari hasil penelitian, MSG aman untuk dikonsumsi bahkan oleh bayi sekalipun namun dengan dosis yang tepat atau tidak berlebihan. “Di MSG ada kandungan natrium. Konsumsi yang ada 10 miligram per kilogram berat badan. Misal berat badan 60 kilogram, kita hanya bisa konsumsi 6 gram saja atau cukup 1 sendok teh/hari,” jelasnya.

Bagaimana jika konsumsinya berlebihan? Pudji mengatakan makan apapun yang berlebihan tentu berisiko terhadap penyakit, tak terkecuali MSG. Kandungan natrium dalam MSG 5 kali lebih besar dari garam dapur.

Andai konsumsi berlebihan, bisa saja menyebabkan hipertensi dan akan memberatkan kerja jantung. “Makanya dikatakan penggunaan yang bijak sangat tergantung,” tegasnya.

“Selain itu, dari sisi yang menyantap makanan pun diharapkan selalu memperhatikan gizi yang seimbang. Jika kita memperhatikan asupan gizi dengan baik dan menggunakan MSG dalam porsi yang tepat dan seperlunya, tentunya tubuh kita tetap sehat dan tidak perlu dikhawatirkan bahwa MSG tersebut memberikan efek negatif terhadap kesehatan. Hal ini yang perlu disadari oleh masyarakat agar persepsi mengenai penggunaan MSG tidak lagi rancu dan mengakibatkan tumbuhnya berbagai asumsi yang kurang tepat,” jelasnya.

Kampanye Generasi Micin

Kehadiran Generasi micin, belakangan ini makin menjadi fenomena tersendiri di tengah masyarakat. Generasi ini sering dianggap negatif oleh masyarakat, karena sering dipersepsikan sebagai generasi yang ingin segala sesuatunya instan dan cepat yang tidak menghargai proses. Bahkan, generasi yang dianggap melawan aturan yang ada.

Bila diukur dari rentang usia, generasi micin bisa identik dengan generasi millenial, menurut Albert Dinata, GM Marketing PT Sasa Inti, generasi ini sedang beradaptasi terhadap perubahan jaman yang ada. “Perubahan-perubahan terjadi dengan sangat cepat dan mereka hanya ingin berperan serta lebih bebas dan berani dalam menjalani hidup dengan segala tantangan yang ada,” ucapnya.

Sementara itu, ia menambahkan “Tujuan kami mengadakan acara konferensi pers yang mengangkat topik penggunaan bumbu penyedap rasa ini adalah agar persepsi yang kurang tepat yang selama ini berkembang dalam masyarakat dapat diluruskan kembali”.

“Kami ingin agar masyarakat merasa aman untuk menggunakan MSG dalam masakan, seperti yang telah dipaparkan dengan jelas oleh dokter, MSG itu terbuat dari bahan alami dan diolah melalui proses fermentasi sehingga selain dapat memperkaya rasa berbagai masakan, MSG juga aman dikonsumsi selama tentunya digunakan dengan bijak,” jelasnya.

“Sudah cukup lama kesalahpahaman ini tidak disertai penjelasan yang berimbang akan MSG itu sendiri. Padahal, MSG itu aman dikonsumsi asal sesuai dengan takaran. Dan yang menyatakan keamanan itu adalah dari lembaga kredibel, baik secara Internasional seperti FDA, European Community, maupun nasional Indonesia sendiri seperti Permenkes, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), dan diperkuat oleh sertifikasi Halal yang diberikan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia),” paparnya.

“Kami ingin mendukung mereka untuk bisa lebih berperan aktif dan mendapat dukungan positif dari masyarakat. Oleh karena itu, pada akhir Januari ini, Sasa meluncurkan kampanye Generasi Micin,” ujarnya.

Kampanye Generasi Micin akan hadir dalam integrated marketing campaign yang mencakup all media channel, seperti Iklan TV, social media dan digital, cineplex, radio, brand activation (aktivasi merek), dan juga pada level store untuk mendukung pada sisi road to market. Sasa MSG ingin meningkatkan engagement dan familiarity kepada generasi millenial dan menjadi brand yang memberikan aspirasi sekaligus inspirasi bagi mereka.

Kampanye Generasi Micin yang diluncurkan sejak akhir Januari 2020 lalu, akan diikuti dengan rangkaian kegiatan selama dua hingga tiga bulan ke depan untuk mendukung peluncuran kampanye Generasi Micin, yang dikemas lewat event besar, konser “Micin Social Geng”. Event tersebut akan diselenggarakan pada 21 Februari 2020 mendatang, dengan menampilkan Sheila on 7, Isyana Sarasvati, Dipha Barus dan Kallula, Monica, dan MC Ronald Tike.

Tapi, menurut mereka, iklan Sasa MSG lebih menggambarkan lifestyle dari target konsumen, karena Sasa ingin menawarkan konsumen sesuatu yang Beyond Product. “Hal yang paling membahagiakan bagi kami adalah apresiasi yang tinggi dari masyarakat yang tercermin dari banyaknya statement yang menyatakan bahwa iklan itu ‘gue banget’, ‘I’m proud to be part of Micin Generation’, ‘this is me’, dan masih banyak lagi comment serupa,” tutur Albert.

SF-Admin