Dok. ©UNICEFUNI350114Ijazah.Man.

Pandemi Covid-19 memengaruhi kehidupan jutaan anak dan keluarga, meningkatkan kemungkinan lebih banyak masyarakat Indonesia jatuh ke dalam kemiskinan. Melihat kondisi ini, UNICEF yang telah berkiprah di Indonesia selama lebih dari 60 tahun, dan fokus untuk melindungi hak-hak anak di Indonesia, menjadikan layanan kesehatan dan pembangunan menjadi prioritas yang lebih besar.

Dengan dukungan dana dari Nokia, UNICEF dapat memanfaatkan internet dan konektivitas seluler untuk mengakses data dan memberikan informasi ke pusat untuk pengambilan keputusan penting dan memfasilitasi perubahan positif. 

Nokia dan UNICEF, melalui kemitraan dengan UNICEF Finlandia, mulai berkolaborasi di Indonesia pada tahun 2017, dan mendukung pemerintah dalam melakukan transformasi dan modernisasi layanan kesehatan dan perbaikan gizi masyarakat menggunakan aplikasi mHealth yang inovatif. Antara tahun 2017-2019.

UNICEF membuat langkah besar dengan menggunakan layanan digital, seperti platform berbasis SMS, RapidPro yang digunakan dalam beberapa inisiatif, termasuk menyediakan pendekatan terpadu untuk meningkatkan nutrisi anak, memonitor vaksinasi, serta memantau tes dan perawatan HIV di seluruh negeri.

Perluas dukungan saat krisis

Ketika Nokia memperbarui dukungan pendanaan pada tahun 2019, tidak ada yang menduga akan datangnya pandemi. Serangan Covid-19 pada tahun 2020 berdampak besar terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Pembatasan wilayah dan penutupan sekolah memperparah kesenjangan dan sangat berdampak pada kesehatan mental dan fisik anak-anak di Indonesia. 

“UNICEF menggunakan pendanaan Nokia untuk mengimplementasikan aplikasi digital dan membantu pemerintah dalam membatasi penyebaran virus dan menyediakan layanan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan dan dukungan pembangunan di berbagai provinsi,” ucap Marja-Riitta Ketola, Executive Director of UNICEF Finland.

Mengkoordinasikan kegiatan untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan sekitar 85 juta anak di negara yang terdiri atas ribuan pulau berpenghuni dengan lebih dari 300 bahasa daerah, bukanlah perkara mudah.

Kondisi semakin kompleks dengan keputusan perencanaan dan penganggaran yang terdesentralisasi, yang berarti data tentang kesehatan dan pembangunan negara terfragmentasi. Sisi baiknya, penetrasi internet cukup tinggi dengan akses yang meningkat lebih dari setengah populasi pada tahun 2017 menjadi sekitar 70 persen pada tahun 2021. 

Dengan memanfaatkan konektivitas untuk membangun jaringan serta menjangkau pasien, perawat, dan petugas kesehatan, UNICEF sadar bahwa hal ini dapat dilakukan setelah memahami kebutuhan masyarakat dan terus memberikan bantuan yang dibutuhkan.

Pendanaan Nokia telah berperan penting dalam pembentukan tim analisis data pada tahun 2019 di Indonesia. Dengan tim yang berfokus pada inovasi data, UNICEF menggunakan solusi digitalnya untuk terus mendukung pemerintah dalam upayanya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak di negara ini, meskipun dengan adanya pembatasan selama pandemi.

Jaga kesinambungan pelayanan gizi dan imunisasi

UNICEF melakukan survei penilaian kesehatan cepat menggunakan RapidPro untuk memahami kekhawatiran orangtua dan wali asuh anak-anak di bawah usia dua tahun terkait dimulainya layanan imunisasi.

Hasil survei digunakan untuk merumuskan pedoman yang dikirimkan bersamaan dengan persediaan kepada petugas kesehatan, agar mereka melanjutkan pekerjaan mereka dengan aman sambil meyakinkan masyarakat. 

Untuk memastikan layanan nutrisi dan dukungan konseling terus berlanjut, UNICEF mengembangkan chatbot WhatsApp RapidPro untuk ibu-ibu yang memiliki anak di bawah usia 5 tahun dengan gizi buruk.

Bantuan yang diberikan berupa cara mencatat tanda-tanda vital kesehatan untuk tujuan pemantauan dan pedoman bagi wali asuh agar dapat menghubungi fasilitas kesehatan jika diperlukan. Sebuah percontohan yang sukses di Kota Kupang membuat pemerintah memperluas layanan ke 24 kabupaten di 8 provinsi. 

Inisiatif penjangkauan imunisasi berbasis SMS diperluas dan menargetkan sekitar 10.000 wanita hamil dan 25.000 anak di bawah usia dua tahun di Provinsi Aceh. Ini digunakan untuk mengatasi kesenjangan selama 1.000 hari pertama kehidupan untuk meningkatkan kesehatan, nutrisi, air, dan sanitasi. Termasuk pengingat SMS tentang asupan zat besi, imunisasi dan perawatan antenatal, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak berbasis teks.

Staf di pos kesehatan setempat memberikan data penting melalui SMS yang laporannya dikirimkan setiap bulan kepada pengelola fasilitas kesehatan. Dengan menggunakan data ini, tim dapat menyesuaikan layanan untuk mengatasi masalah di zona merah potensial dengan cepat.

Optimalisasi pembelajaran jarak jauh 

Dengan lebih dari 500.000 sekolah ditutup, siswa mulai belajar dari rumah. Untuk memahami besarnya dampak terhadap daerah yang paling tertinggal, UNICEF merancang survei pesan seluler, melengkapi survei yang didistribusikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hasil survei mengungkapkan bahwa lebih dari 90 persen siswa belajar dari rumah, sekitar setengah dari mereka hanya dapat belajar beberapa jam per minggu. Alasan utamanya adalah konektivitas yang buruk.

Temuan itu digunakan untuk mengembangkan rekomendasi yang dapat membantu orangtua dan melengkapi sekolah dengan sistem manajemen pembelajaran untuk menutup kesenjangan digital dan mengoptimalkan pembelajaran jarak jauh.

Melacak penyebaran Covid-19 

Seiring waktu ketika varian dan kelompok kasus baru muncul, UNICEF menemukan cara untuk memantau dan melacak infeksi untuk membantu membatasi penyebaran virus.

Dengan mengembangkan dasbor yang menggunakan data dari semua rumah sakit untuk mengukur risiko penularan di tingkat kabupaten dan memprediksi dampaknya terhadap kapasitas rumah sakit, UNICEF dapat mendukung Kementerian Kesehatan untuk mengendalikan pandemi dengan lebih baik.

Informasi ini juga digabungkan dengan sumber data lain dan digunakan oleh pihak berwenang untuk menginformasikan keputusan di masa mendatang.

Pengembangan dasbor baru menunjukkan ketersediaan layanan WASH di fasilitas kesehatan dan sekolah dipetakan bersama risiko Covid-19 di tingkat kabupaten. Pemerintah menggunakan ini untuk mengembangkan pedoman untuk membuka kembali sekolah dan layanan kesehatan masyarakat dengan aman dan untuk meningkatkan layanan fasilitas.

Relawan dan staf di sekolah, tempat ibadah, transportasi umum, dan pasar, dapat memberi tahu masyarakat bagaimana mereka bisa tetap aman dan rajin cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak fisik, serta merekam pengamatan mereka melalui RapidPro.

Dengan menggunakan geo-tagging, informasi ini disajikan dalam tampilan dasbor kepada para pengambil keputusan di ibu kota Jakarta sehingga mereka dapat mengukur risiko dan melahirkan kebijakan yang tepat.

“Solusi digital ini dan solusi lainnya yang kami perkenalkan di masa lalu telah berperan penting dalam mempromosikan kesehatan dan perkembangan anak-anak di masa yang penuh tantangan di Indonesia. Ini membuktikan pentingnya konektivitas dan data berkualitas sangat krusial dalam menghasilkan nilai, meningkatkan kesehatan, dan hak-hak anak pada umumnya,” ungkap Hanna-Leena Markus, Key Account Manager, Corporate Collaborations of UNICEF Finland.

Dari tahun 2019 hingga 2021, setidaknya tujuh inisiatif digital UNICEF diadopsi oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan di beberapa komunitas masyarakat serta lebih dari 2 juta orang dijangkau menggunakan teknologi seluler.

“Kami berkomitmen untuk memanfaatkan teknologi digital untuk membuat perubahan positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami senang dapat bekerja sama dengan UNICEF di Indonesia. Kolaborasi ni telah menunjukkan bagaimana big data dapat memengaruhi pengambilan keputusan penting dan memungkinkan pendistribusian layanan inovatif yang memenuhi kebutuhan masyarakat dalam situasi yang paling menantang,” tutur Nicole Robertson, VP Environmental, Social and Governance from Nokia.

SF-Admin