markettrack.id – Dunia keamanan siber saat ini menghadapi tantangan besar seiring dengan masifnya integrasi kecerdasan buatan dalam operasional bisnis.

    Pemanfaatan teknologi ini ternyata membuka celah baru yang dimanfaatkan oleh peretas untuk memperluas jangkauan serangan mereka secara global.

    Kecepatan inovasi digital yang tidak dibarengi dengan sistem pertahanan mumpuni mengakibatkan risiko keamanan meningkat drastis.

    Perusahaan kini berada dalam posisi rentan karena infrastruktur mereka harus menanggung beban kerja AI yang sangat berat.

    Palo Alto Networks melalui laporan terbarunya memperingatkan bahwa metode perlindungan tradisional sudah tidak lagi memadai. Diperlukan transformasi total dalam strategi keamanan untuk menghadapi ancaman yang bergerak secepat mesin.

    Risiko Kode Insecure dan Lemahnya Manajemen Akses

    Data menunjukkan bahwa hampir seluruh responden atau sekitar 99% telah mengalami setidaknya satu kali serangan pada sistem AI mereka dalam setahun terakhir.

    Fenomena ini diperparah oleh tren vibe coding berbasis GenAI yang diadopsi oleh 99% organisasi, namun justru menghasilkan kode pemrograman yang tidak aman.

    Masalah krusial muncul ketika 52% tim pengembang rutin merilis kode setiap minggu, tetapi hanya 18% yang mampu memperbaiki kerentanan dengan kecepatan yang sama.

    Akibatnya, tumpukan risiko keamanan yang belum teratasi terus terakumulasi dengan sangat cepat di lingkungan cloud perusahaan.

    Selain masalah kode, sektor identitas masih menjadi titik terlemah dalam pertahanan siber saat ini. Sebanyak 53% praktisi mengakui bahwa praktik manajemen identitas dan akses (IAM) yang terlalu longgar menjadi tantangan utama yang memicu pencurian data.

    Urgensi Konsolidasi Alat Keamanan dan Penyatuan SOC

    Laporan yang melibatkan lebih dari 2.800 eksekutif keamanan di 10 negara ini juga menyoroti bahaya dari penggunaan terlalu banyak vendor keamanan.

    Rata-rata organisasi mengelola hingga 17 alat keamanan cloud dari lima vendor berbeda yang justru menciptakan celah informasi.

    Fragmentasi data tersebut mengakibatkan proses respons terhadap insiden melambat secara signifikan. Sekitar 30% tim membutuhkan waktu lebih dari satu hari penuh hanya untuk menyelesaikan satu masalah keamanan yang muncul.

    Elad Koren selaku Vice President of Product Management di Cortex menegaskan bahwa organisasi memerlukan platform berbasis agen untuk mengimbangi kecepatan lawan.

    Ia berpendapat bahwa tim keamanan tidak boleh hanya terpaku pada dasbor risiko, melainkan harus segera menyatukan operasional cloud dengan pusat operasi keamanan (SOC).

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply