Perusahaan Harus Pro-aktif Cegah Covid Masuk Kluster Perkantoran

Ilustrasi, saat ada acara Brand Marketing Con di kantor

Dalam penanganan pandemi, wilayah perkantoran dan pelayanan publik memerlukan strategi tersendiri. Saat diberlakukan PSBB di Jakarta, 11 bidang usaha vital diperbolehkan untuk tetap membuka kantor. Artinya, beberapa kantor masih membuka layanan on-site (di tempat) yang membuat adanya resiko penularan Covid di gedung perkantoran.

Sedangkan, data di bulan September 2020 dari pernyataan Satgas Penanganan Covid-19 di website covid19.go.id menyatakan, di kluster perkantoran terdapat 3,194 kasus aktif. Di Jakarta sendiri, kasus kluster perkantoran terbanyak terdapat di wilayah kementerian, perusahaan swasta, dan  media.

Perusahaan yang “membuka kantor”-nya juga perlu melakukan aksi-aksi pencegahan dan mitigasi agar tidak menimbulkan kluster baru. Aturan-aturan seperti mengisi hanya 50% kapasitas kantor, physical distancing, membawa peralatan makan dan kerja sendiri, penggunaan masker adalah hal wajib.

Selain itu, hal-hal berikut juga sangat penting untuk menjaga keamanan kerja dan mencegah kluster perkantoran. Simak dalam poin-poin di bawah ini:

 

Lakukan tes kesehatan berkala untuk karyawan

Saat ini sudah ada beberapa tes pencegahan dini, seperti rapid antibodi, rapid antigen, hingga PCR. Pencegahan dini melalui tes Covid-19 ini dapat diwajibkan untuk karyawan yang berasal dari zona merah, luar kota, dan karyawan dengan mobilitas tinggi.

Langkah ini juga dilakukan oleh perusahaan IT asal Yogyakarta, Niagahoster yang mewajibkan karyawan melakukan tes rapid sebelum melakukan aktivitas di kantor. Di kondisi pandemi, hal yang paling penting adalah menjaga karyawan yang bekerja on-site tetap sehat.

“Saat ini kami memang bekerja remote, tetapi kantor tetap buka jika ada aktivitas seperti meeting dan koordinasi di kantor. Tes rapid wajib dilakukan untuk keamanan sesama karyawan.” ungkap Rheinjani Dora, Head of People and Office Operation Niagahoster.

 

Jaga komunikasi antara perusahaan dengan karyawan

Kondisi pandemi ini membuat situasi perekonomian dan perindustrian menjadi tidak menentu. Hal ini juga menjadi kekhawatiran tersendiri bagi karyawan. Riset yang dilakukan Edelman menyebutkan 63% karyawan mengharapkan perusahaan memberikan update tentang pandemi.

Dora menyebutkan, karyawan perlu mendapat kepastian dari perusahaan. Baik itu terkait dengan penanganan perusahaan terhadap pandemi, status karyawan di masa pandemi (job security), hingga kompensasi atau benefit apa yang di dapat oleh karyawan tersebut.

“Perusahaan harus jujur dan terbuka dengan kondisi yang dihadapi. Selain untuk memberikan keamanan pada karyawan, hal ini juga penting untuk membangun ikatan personal yang kuat ke karyawan.” ungkap Dora.

Komunikasi yang secara intens dilakukan perusahaan akan memberikan kekuatan moral bagi para karyawan. Terlebih untuk karyawan yang sedang sakit berada di lingkungan keluarga yang positif Covid. Dukungan secara psikologis dan material juga wajib diberikan perusahaan.

 

Tetap prioritaskan bekerja secara remote

Situasi pandemi menuntut perusahaan juga bersikap lebih humanis dalam menangani karyawan. Tidak semua perusahaan memungkinkan untuk memindahkan proses bisnisnya secara 100% online. Namun, work from home masih menjadi pilihan yang paling tepat saat ini.

Bagi Dora, menjalankan work from home juga tantangan yang baru. Banyak hal yang harus disiapkan antara lain: peralatan kerja, koneksi internet, pengaturan jam kerja, menjaga produktivitas karyawan, dan lainnya.

“Niagahoster memprioritaskan remote working di masa pandemi. Kunci dari tantangan bekerja remote terletak di komunikasi. Karena karyawan tersebar di berbagai kota, komunikasi antar tim perlu kami dorong dengan lebih intensif.” ungkap Dora.

Demi menunjang produktivitas kerja, masalah teknis harus diminimalisir. Dora mengatakan, peran perusahaan adalah menyediakan segala kebutuhan teknis dan non-teknis untuk karyawan di masa pandemi.

 

SF-Admin