markettrack.id – SUSE, perusahaan global dalam perangkat lunak open source perusahaan, mengumumkan peluncuran Cloud Sovereignty Framework Self Assessment untuk membantu organisasi memahami celah dalam strategi digital mereka, khususnya dalam mempersiapkan roadmap teknologi masa depan menuju Sovereign AI.

    Melalui platform penilaian mandiri berbasis web ini, organisasi di kawasan Asia-Pasifik (APAC) kini dapat mengevaluasi infrastruktur AI mereka berdasarkan EU Cloud Sovereignty Framework 2025, sebuah tolak ukur pertama yang menghadirkan istilah bersama dan spesifik terkait Kedaulatan Digital, yang semakin banyak digunakan oleh regulator global sebagai acuan dalam menentukan tingkat kemandirian digital suatu organisasi.

    Seiring kedaulatan digital dan AI mendorong kembali adopsi cloud—dengan Forrester memprediksi pertumbuhan tahunan yang akan berlipat ganda pada 2026—perusahaan di kawasan Asia Pasifik menghadapi titik balik yang krusial. Dengan semakin banyaknya kerangka kerja kedaulatan digital yang diperkenalkan di berbagai negara, organisasi berisiko kehilangan kelayakan operasional jika tidak memiliki kontrol yang terbukti dan terlokalisasi atas tumpukan teknologi AI mereka.

    Cloud Sovereignty Framework Self Assessment dari SUSE menghadirkan acuan awal bagi perusahaan di Asia Pasifik yang ingin memahami tingkat kesiapan Kedaulatan Digital mereka di tengah lanskap regulasi yang terus berubah.

    Proses yang sebelumnya kompleks dan dilakukan secara manual kini disederhanakan menjadi alat visibilitas otomatis yang dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 20 menit.

    Alat ini juga memberikan skor Sovereignty Effective Assurance Level (SEAL) yang objektif, untuk mengukur strategi AI organisasi berdasarkan delapan tujuan kedaulatan (sovereignty objectives) yang krusial.

    “Organisasi di seluruh dunia menghadapi masalah ‘black box’ dalam hal kedaulatan digital, yang menciptakan risiko tersembunyi yang signifikan,” ujar Andreas Prins, Head of Global Sovereign Solutions, SUSE.

    Ia menambahkan, “Cloud Sovereignty merupakan fondasi utama bagi Sovereign AI, karena sebuah model AI hanya dapat benar-benar bersifat otonom apabila infrastruktur cloud di baliknya menyediakan residensi data yang terlokalisasi dan kontrol operasional yang memadai. Tanpa tumpukan cloud yang berdaulat, organisasi berisiko menghadapi masalah ‘black box’ di mana model AI dan data mereka tetap berada pada yurisdiksi eksternal, ketergantungan pada satu vendor, serta kerentanan dalam rantai pasok.”

    “Di tengah meningkatnya perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan di kawasan Asia Pasifik terhadap isu Kedaulatan Digital dan Sovereign AI, membangun fondasi yang tepat mulai sekarang akan memberdayakan perusahaan untuk mengoptimalkan roadmap teknologi mereka agar tetap kompetitif secara global,” tambah Andreas

    Fitur Utama bagi Perusahaan di Asia Pasifik:

    • Benchmark SEAL: Memetakan infrastruktur AI ke dalam lima tingkat (SEAL 0–4), sehingga perusahaan di Asia Pasifik dapat menyelaraskan diri dengan persyaratan sektor publik internasional (misalnya, “Kami berada di SEAL-1, tetapi kontrak global kami mengharuskan SEAL-3”).
    • Targeted Risk Analysis: Alat ini mengevaluasi delapan tujuan kedaulatan (SOVs), khususnya pada keamanan rantai pasok (20%) dan otonomi operasional (15%).
    • Privacy-First and Secure: Hasil penilaian disimpan hanya di browser pengguna. Pendekatan yang mengutamakan privasi ini sangat penting bagi organisasi dengan tingkat keamanan tinggi di Asia Pasifik agar dapat berpartisipasi tanpa khawatir adanya kebocoran data.
    • Strategic Roadmap: Mengubah percakapan yang masih abstrak menjadi rencana peningkatan yang konkret dan dapat diundur dalam format PDF, sebagai panduan bagi investasi TI di masa mendatang.

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply