markettrack.id – Di seluruh Asia Tenggara, pengalaman bersantap mewah saat ini tengah mengalami transformasi yang signifikan.
Bagi konsumen premium, fine dining tidak lagi hanya dipandang sebagai simbol status melainkan sebagai sarana untuk mengekspresikan identitas dan membangun koneksi sosial.
Terkait hal tersebut, temuan ini diungkap dalam white paper terbaru bertajuk “Taste and Transformation: How Luxury Dining Is Shaping Identity, Connection and Lifestyle in Southeast Asia”.
Studi hasil kolaborasi BurdaLuxury dan Vero ini mengeksplorasi bagaimana konsumen premium di Malaysia, Singapura, dan Thailand memaknai pengalaman bersantap mewah mereka.
Untuk metodenya, temuan studi didasarkan pada survei terhadap 600 konsumen premium yang dilakukan bersama GMO-Z.com Research.
Hasil riset ini kemudian diperkenalkan dalam ajang Lifestyle Asia Best Bites Awards yang diselenggarakan di Andaz One Bangkok.
“Melalui white paper ini, kami ingin memahami lebih dalam apa yang benar-benar penting bagi para penikmat kuliner mewah di Asia Tenggara,” ujar Björn Rettig, CEO BurdaLuxury.
Menurutnya, terjadi pergeseran dari konsumsi berorientasi status menuju pencarian pengalaman yang jauh lebih bermakna.
Secara regional, studi menemukan bahwa konsumen premium Asia Tenggara semakin mendefinisikan kemewahan melalui nilai emosional dan makna personal.
Di ketiga negara, pengalaman kuliner premium dipandang sebagai pilihan sadar untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri, merayakan pencapaian, maupun melepaskan diri dari tekanan.
Meski terdapat kesamaan motivasi, studi menunjukkan bahwa perilaku bersantap mewah berkembang secara berbeda di tiap pasar Asia Tenggara.
Di Malaysia dan Singapura, pengalaman bersantap premium cenderung diposisikan sebagai momen spesial yang dinikmati sesekali saja.
Sementara itu, konsumen Thailand menunjukkan frekuensi kunjungan yang lebih tinggi serta keterlibatan media sosial yang lebih aktif.
Perbedaan perilaku ini mencerminkan bagaimana budaya lokal dan tingkat kematangan pasar membentuk ekspektasi konsumen di kawasan tersebut.
Di sisi lain, media sosial kini memainkan peran sentral dalam membentuk keputusan konsumen terkait pengalaman bersantap premium.
Sebanyak sembilan dari sepuluh responden mengaku pernah mencoba restoran atau hidangan baru setelah melihatnya secara online.
Dampaknya, pengalaman bersantap yang berkesan terbukti dapat memicu ketertarikan terhadap kategori gaya hidup lain, seperti home & design, fashion, dan wellness. Sektor fashion menunjukkan keterkaitan kuat dengan angka 40,16%, terutama di Thailand yang mencapai 51%.
“Kami melihat adanya pergeseran, di mana pengalaman bersantap kini menjadi momen yang dipengaruhi oleh emosi sekaligus membentuk identitas seseorang,” ujar Sireethon Auerat, Account Director Vero Thailand.
Ketika kuliner mampu meninggalkan kesan kuat, pengaruhnya akan memengaruhi cara seseorang memilih destinasi perjalanan hingga berinteraksi dengan sebuah brand.
Oleh karena itu, setiap pengalaman kuliner perlu memberikan nilai yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan oleh konsumen.
Hal ini menjadi semakin penting di pasar yang lebih berhati-hati dalam berbelanja, di mana kredibilitas dan keaslian menjadi faktor utama.
Dari sisi komunikasi, brand perlu lebih mengedepankan konten yang menampilkan pengalaman nyata konsumen dibandingkan pesan promosi biasa.
Pada saat yang sama, pengalaman bersantap harus dirancang untuk mendorong interaksi guna memicu percakapan serta rekomendasi di media sosial.
SF-Admin


