markettrack.id – FedEx memperkuat dukungannya bagi para pelaku bisnis di kawasan Asia Pasifik dalam menghadapi penghapusan bea masuk de minimis oleh Uni Eropa yang akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Perubahan kebijakan ini akan membawa persyaratan kepabeanan baru yang lebih ketat sekaligus berdampak pada biaya pengiriman lintas batas ke kawasan Eropa.
Sebagai bagian dari upaya membantu pelanggan, FedEx telah menyelenggarakan serangkaian webinar edukasi yang menjangkau lebih dari 5.000 pelaku bisnis di 12 pasar utama Asia Pasifik. Inisiatif ini ditujukan untuk membantu perusahaan memahami perubahan regulasi, menjaga kelancaran operasional, dan mengurangi risiko munculnya biaya tak terduga.
Terkait hal tersebut, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha telah mengetahui perubahan aturan de minimis Uni Eropa. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara tingkat pemahaman dan kesiapan implementasi di lapangan.
Berdasarkan data survei, sebanyak 59% pelaku usaha menyatakan telah siap, sementara 41% sisanya mengaku masih berada dalam tahap awal persiapan. Beberapa hambatan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan akses terhadap panduan yang jelas serta kurangnya keahlian internal terkait regulasi kepabeanan.
Di samping itu, kesulitan mengikuti perubahan aturan serta jadwal implementasi yang terus berkembang juga menjadi kendala. Perusahaan yang belum bersiap berisiko mengalami keterlambatan proses kepabeanan karena adanya persyaratan baru terkait data produk dan standar dokumentasi yang ketat.
Dampaknya, meningkatnya tuntutan kepatuhan dan tekanan biaya mendorong banyak perusahaan untuk mengevaluasi ulang strategi mereka di pasar Eropa. Sebanyak 45% responden bahkan melihat regulasi kepabeanan Uni Eropa sebagai salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan bisnis mereka.
Kondisi ini dipicu oleh lonjakan biaya keseluruhan (landed costs) sebesar 24% dan beban administratif yang lebih berat mencapai 23%. Lebih dari sepertiga responden telah atau berencana menyesuaikan harga produk mereka di pasar Eropa.
Sementara itu, separuh lainnya mengungkapkan bahwa perubahan ini turut mempengaruhi strategi koridor perdagangan mereka. Di antara perusahaan yang mulai mendiversifikasi pasar di luar Eropa, kawasan Intra-Asia dan Amerika Serikat muncul sebagai tujuan alternatif utama.
Menanggapi situasi ini, Salil Chari selaku president Asia Pacific FedEx menyatakan bahwa pihaknya memahami pelaku usaha menghadapi kompleksitas regulasi yang semakin tinggi. FedEx memadukan keahlian perdagangan internasional, solusi digital, serta jaringan global untuk membantu pelanggan beradaptasi lebih cepat.
Untuk itu, platform pengiriman, penagihan, dan proses kepabeanan FedEx telah disesuaikan dengan persyaratan data terbaru Uni Eropa. Langkah ini diambil guna memenuhi kebutuhan 29% responden yang menempatkan solusi digital untuk kepabeanan sebagai prioritas utama.
Selain solusi digital, FedEx meluncurkan program dukungan pelanggan proaktif yang mencakup panduan mendalam terkait persyaratan Product Identifier (PID) dan skema Import One-Stop Shop (IOSS). Fasilitas ini juga menyediakan konsultasi dengan spesialis kepabeanan untuk membantu pelanggan dalam aspek klasifikasi barang dan dokumentasi.
Guna memperkuat konektivitas, FedEx juga menyediakan halaman informasi de minimis Uni Eropa yang diperbarui secara berkala di berbagai pasar Asia Pasifik. Langkah operasional lainnya adalah penambahan lima penerbangan mingguan antara Asia dan Eropa dalam satu tahun terakhir.
Kini, terdapat total 26 penerbangan mingguan yang melayani pengiriman dari Asia Pasifik ke Eropa. Infrastruktur ini memungkinkan layanan ekspres dengan waktu tempuh pengiriman logistik mulai dari 48 jam.
Melalui seluruh strategi tersebut, FedEx berkomitmen membantu pelanggan untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah perubahan regulasi global. Pelanggan yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat mengunjungi FedEx Go-To Europe Hub atau menghubungi perwakilan terdekat.
SF-Admin

