markettrack.id – Akamai Technologies mencatat pendapatan tahunan di atas $1 miliar di Asia Pasifik (APAC) pada 2025. Pencapaian ini menjadi titik balik bagi bisnis regional Akamai yang kini mempertajam fokusnya untuk mendukung gelombang penerapan kecerdasan buatan (AI) berikutnya.
Melalui pengalaman lebih dari dua dekade di kawasan Asia-Pasifik, perusahaan terus melihat peluang pertumbuhan yang signifikan. Langkah tersebut menjadi landasan fase pertumbuhan berikutnya yang berfokus pada upaya membantu perusahaan mengimplementasikan AI lewat proses inferensi di edge.
Strategi besar ini dipimpin oleh Sean Li selaku Senior Vice President of Sales dan Managing Director untuk Asia Pasifik yang baru ditunjuk. Di bawah kepemimpinan Sean Li, bisnis APAC Akamai terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan operasional berbasis AI bagi perusahaan.
Terkait perkembangan tersebut, Sean Li menyatakan bahwa kawasan Asia-Pasifik kini telah melewati tahap eksperimen AI dan memasuki tahap eksekusi. Tantangan sesungguhnya saat ini adalah memastikan AI berfungsi baik di lingkungan nyata tempat latensi dan keandalan memengaruhi pendapatan.
Oleh karena itu, memindahkan proses inferensi ke edge akan menghadirkan platform bagi perusahaan agar dapat menerapkan AI secara instan dan aman. Skala platform terdistribusi ini diklaim berada dalam tingkat yang tidak dapat ditandingi oleh cloud terpusat.
Di sisi lain, banyak perusahaan di APAC mempercepat adopsi AI tetapi menghadapi kendala arsitektur cloud konvensional yang tidak dirancang untuk skala besar. Akamai berupaya mengatasi kesenjangan ini dengan menjalankan beban kerja AI di salah satu platform cloud paling terdistribusi di dunia.
Langkah teknis ini mendekatkan komputasi berbasis GPU kepada pengguna dan data untuk menghadirkan pengalaman AI real-time. Layanan tersebut mencakup mesin rekomendasi, live video intelligence, kendaraan otonom, agen pendukung, dan alur kerja video resolusi tinggi.
Perubahan ini sekaligus mencerminkan transisi industri dari model pelatihan terpusat menuju sistem inferensi terdistribusi. Pada sistem ini, selisih waktu dalam hitungan milidetik sangat menentukan hasil dalam keterlibatan pelanggan dan efisiensi operasional.
Lebih lanjut, Sean Li menegaskan bahwa keunggulan Akamai tidak hanya terletak pada kemampuan mendukung aplikasi tetapi juga pada lokasi eksekusinya. Dengan mendekatkan layanan cloud dan inferensi ke titik interaksi, pelanggan dapat bergerak lebih cepat dan merespons secara real-time.
Sementara itu, keberagaman pasar di APAC kini muncul sebagai katalis inovasi bagi perkembangan infrastruktur digital. Pasar yang matang seperti Jepang dan Australia semakin banyak mengadopsi model infrastruktur terkelola untuk meningkatkan performa.
Sebaliknya, ekonomi yang tumbuh pesat seperti di India, Tiongkok, dan Asia Tenggara melahirkan perusahaan AI-native generasi terbaru. Korea secara khusus mencerminkan kedua tren tersebut melalui modernisasi sistem lama dan pergerakan pelaku digital-first.
Dinamika ini akhirnya merekonstruksi kebutuhan infrastruktur di seluruh kawasan secara masif. Situasi tersebut mendorong permintaan terhadap platform terdistribusi yang dapat beroperasi konsisten di tengah regulasi yang terfragmentasi.
Pada fase berikutnya, Akamai di APAC akan fokus membuka potensi AI dari pusat data terpusat. Strategi ini dilakukan dengan mendekatkan inferensi berbasis GPU ke pengguna dan data di seluruh jaringan global.
Secara bersamaan, perusahaan menanamkan keamanan termasuk perlindungan aplikasi dan beban kerja AI langsung ke dalam infrastruktur. Integrasi ini memastikan tidak ada hal yang dikorbankan baik di sisi performa maupun perlindungan.
Sebagai penutup, Sean Li menyebutkan bahwa tonggak pencapaian pendapatan ini mencerminkan kepercayaan pelanggan selama dua dekade terakhir. Saat AI mentransformasi cara bisnis beroperasi, Akamai terus merancang infrastruktur cerdas yang dibutuhkan untuk ekosistem web agentik.
SF-Admin


