markettrack.id – Banyak organisasi di Indonesia kini tengah gencar menyongsong masa depan berbasis kecerdasan buatan atau AI. Di tengah ambisi besar tersebut, kenyataan menunjukkan baru sekitar 19 persen organisasi yang menyatakan diri mereka matang secara digital.
Kondisi ini diperparah oleh warisan transformasi digital masa lalu yang lebih memprioritaskan sistem ketimbang aspek manusia.
Dampaknya, alat kerja menjadi terfragmentasi dan karyawan merasa kurang terlibat, sehingga mengancam ambisi adopsi AI di tempat kerja.
Berdasarkan laporan terbaru bertajuk The Paradox of Progress, terdapat kesenjangan yang makin melebar antara ambisi pemimpin dan realitas harian karyawan.
Riset independen yang melibatkan ribuan responden di Asia Tenggara termasuk Indonesia ini digagas oleh penyedia ruang kerja AI, Lark.
Lebih lanjut, sebanyak 63 persen karyawan di Indonesia merasa bahwa pihak manajemen atau pemimpin perusahaan tidak selaras dengan kebutuhan digital mereka.
Ketidakselarasan tersebut terlihat jelas pada investasi digital yang masih timpang dan hanya berfokus pada departemen pendorong efisiensi biaya seperti TI, Keuangan, serta Pemasaran.
Sementara itu, pilar penting seperti pengalaman karyawan dan bidang Sumber Daya Manusia justru tertinggal di belakang. Akibatnya, penggunaan banyak alat kerja baru tidak serta-merta meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
Bahkan, sekitar 58 persen karyawan kehilangan waktu hingga tiga jam atau lebih setiap pekan akibat inefisiensi kolaborasi digital. Ditambah lagi, hampir separuh karyawan merasa kewalahan oleh banyaknya platform kerja yang harus mereka periksa setiap jam.
Di sisi lain, kesenjangan pelatihan juga menciptakan kendala baru karena hanya 36 persen karyawan yang merasa terlatih untuk berinovasi dengan percaya diri.
Mayoritas dari mereka sebenarnya membutuhkan dukungan lebih lanjut dalam hal keamanan siber serta produktivitas berbasis AI.
General Manager Asia Pasifik Lark, Olivier Adam, menyatakan bahwa situasi ini harus menjadi peringatan penting bagi para pemimpin perusahaan. Pihaknya menegaskan bahwa fondasi digital saat ini tidak sekokoh yang diyakini oleh jajaran manajemen organisasi.
Selain tantangan operasional, krisis kepercayaan juga membayangi karena hanya 30 persen karyawan yang menilai organisasi mereka transparan mengenai penerapan AI.
Ketidakjelasan ekspektasi dari manajemen akhirnya memicu kekhawatiran karyawan akan hilangnya peran atau pekerjaan mereka di masa depan.
Meskipun diselimuti kecemasan, sekitar 90 persen responden sebenarnya tetap antusias agar AI dapat mengambil alih tugas-tugas rutin.
Solusi struktural seperti konsolidasi ke platform terpadu terbukti mampu memangkas friksi komunikasi sekaligus meningkatkan efisiensi kerja secara instan.
SF-Admin

