markettrack.id – Marriott International terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan talenta karyawan dan meningkatkan standar di industri pariwisata melalui edisi ketiga APEC Sustainable Bartender Championship. Program regional ini menyoroti para profesional bar berbakat di kawasan Asia Pasifik, kecuali Tiongkok.

    Kompetisi tahun ini menantang para peserta untuk mendefinisikan ulang miksologi modern dengan mengolah bahan-bahan inovatif serta menerapkan operasional minim limbah. Selain itu, peserta juga ditantang mengangkat narasi budaya lokal menjadi pengalaman yang berkesan dalam setiap sajian.

    Lebih dari sekadar kompetisi meracik cocktail, edisi tahun ini hadir sebagai wujud nyata bagi perubahan industri pariwisata. Acara ini membuktikan bahwa miksologi kreatif mampu menghadirkan pengalaman tamu yang lebih istimewa sekaligus konsisten mengusung praktik responsible hospitality.

    Selanjutnya, edisi tahun ini dirancang berdasarkan tiga pilar utama yaitu mengedepankan budaya lokal, memelopori inovasi bahan baku, dan menghidupkan kisah destinasi lewat kreasi penataan saji.

    Berdasar pada prinsip-prinsip nyata dari komitmen keberlanjutan Marriott International, Serve 360, kejuaraan regional ini secara aktif mengubah program bar modern menjadi pusat inovasi yang dinamis.

    Melalui rangkaian aktivitas lokal yang kompetitif di wilayah Asia Pasifik, kejuaraan ini memicu inovasi yang mengesankan dalam dunia minuman.

    Para bartender ditantang untuk menunjukkan penguasaan teknik yang matang dengan menggabungkan kreativitas sensorik yang berani serta kesadaran lingkungan yang mendalam.

    Sementara itu, tema kreatif tahun ini, “The Future Larder”, mendorong para peserta untuk mengangkat bahan-bahan pilihan. Mereka juga wajib menggunakan teknik persiapan berkelanjutan yang diyakini akan membentuk masa depan industri makanan dan minuman global.

    “Di Marriott International, kami selalu percaya bahwa makanan dan minuman adalah gerbang yang penting untuk memahami budaya,” ungkap Masri, Senior Director of Operations, Indonesia & Malaysia, Marriott International. “Kompetisi ini menggarisbawahi pentingnya bahan yang ada di dalam gelas untuk merefleksikan sebuah tempat, masyarakat, dan warisannya.”

    Masri menambahkan bahwa para finalis di tahun 2026 menunjukkan bahwa layanan kelas dunia, hasil bisnis, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan.

    Dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal serta praktik minim limbah, para rising star ini turut membantu membangun masa depan industri yang lebih bertanggung jawab.

    Terkait pelaksanaan lomba, para bartender telah melalui fase operasional yang intensif selama sebulan dengan menghadirkan kreasi andalan kepada para tamu di hotel masing-masing. Setelah berhasil menjadi favorit di hati para tamu, para bartender dengan performa terbaik pun melaju ke babak final pada 10 Juni 2026.

    Tidak sekadar menilai aspek rasa, panel juri mengevaluasi finalis berdasarkan lima pilar utama. Pilar tersebut meliputi integrasi bahan Future Larder, keberlanjutan operasional, performa penjualan, keseimbangan rasa dan alkohol, serta presentasi teknis secara keseluruhan.

    Kini, dua bartender terbaik dari masing-masing negara telah ditentukan sebagai pemenang kompetisi. Mereka akan dipersiapkan menuju final regional mendatang untuk memperebutkan gelar 2026 Sustainable Bartender Champion Rising Star bersama talenta dari wilayah APEC lainnya.

    Perwakilan Indonesia, Deni Alan Hartono, membawa kreasi bernama “Segara Alchemy” dari The Westin Resort, Nusa Dua Bali. Terinspirasi dari semangat pesisir pantai yang diusung oleh Ikan Restaurant & Bar, cocktail ini dibuat dengan mengedepankan visi keberlanjutan.

    Dalam kreasinya, minyak ikan Cakalang asap yang diolah kembali dari dapur digunakan dengan metode fat-washing pada Absolut Elyx. Proses tersebut memberikan kedalaman rasa yang halus dengan sentuhan aroma laut yang khas.

    Selain itu, sisa potongan sayuran juga dimanfaatkan menjadi air acar (pickle brine). Pemenang dari Indonesia ini juga mengubah kulit jeruk yang dipadukan dengan bagian bawah serai menjadi island tonic buatan sendiri.

    Melalui teknik tersebut, kreasi ini sukses mengubah bahan yang biasanya dibuang menjadi kesegaran dan keseimbangan di setiap gelas. Langkah ini membuktikan kreativitas tinggi dalam pemanfaatan limbah dapur hotel.

    Sementara itu, perwakilan Malaysia diraih oleh Tharshan Velu dengan “Refresh Garden” dari Four Points by Sheraton, Kuala Lumpur Chinatown. Cocktail Refresh Garden merupakan sebuah dedikasi untuk bunga kantan, bahan khas Malaysia yang harum namun sering kali kurang dimanfaatkan.

    Pada racikan ini, kulit jeruk dan buah-buahan yang terlalu matang didaur ulang menjadi cairan jeruk yang jernih (clarified citrus) serta sirup leci buatan sendiri. Bahan-bahan yang biasanya dibuang begitu saja tersebut kini menjadi inti minuman sesuai dengan tema The Future Larder.

    Campuran tersebut kemudian dipadukan dengan Monkey 47 Dry Gin yang telah diinfusi bunga kantan. Kreasi ini membuktikan bahwa konsep keberlanjutan justru memperkaya cita rasa minuman modern.

    Sebagai bagian dari momen penting ini, Marriott International dengan bangga mengapresiasi seluruh dua belas finalis dari Indonesia dan Malaysia. Para bartender visioner ini telah menangkap esensi dari industri keramahtamahan modern ke dalam karya mereka.

    Mereka berhasil menyelaraskan filosofi zero-waste, cerita warisan budaya, dan ketajaman bisnis. Hal tersebut menjadikan mereka sebagai talenta industri baru yang sangat patut diperhatikan.

    Dari Indonesia, Ni Kadek Listya Dewi dari Mandapa, a Ritz-Carlton Reserve memperkenalkan “Penglipuran White Heat”. Cocktail ini memadukan tequila dan mezcal dengan soda Cemcem untuk sensasi herbal yang menyegarkan.

    Selanjutnya, Chang Ping Sakimin dari The Laguna menyajikan “Bali Blossom” yang dirancang dengan pendekatan zero-waste belimbing wuluh. Buahnya diperas untuk keasaman alami, sementara bunganya diolah menjadi teh dan sirup lembut.

    Ada pula I Kadek Angga Saputra dari Renaissance Bali Uluwatu Resort and Spa yang menciptakan “Betel Legacy”. Cocktail ini menggunakan daun sirih serta memanfaatkan sisa pulp apel dari layanan sarapan hotel.

    Sementara itu, Candra Adi Kusuma dari Natra Bintan menghadirkan “Living Larder” yang mengandalkan fermentasi laktat jahe dan cabai. Minuman ini juga menggunakan kefir air apel dan jahe sebagai elemen karbonasi alami.

    Finalis Indonesia lainnya, Dimas Rio Gaku Sugoro dari Sheraton Bali Kuta Resort, memperkenalkan “Loloh Sirih Revival”. Minuman ini memadukan Loloh Sirih asli, tabia bun, soda belimbing wuluh, dan Monkey 47 Dry Gin.

    Beralih ke Malaysia, Muniyandi Narayanammurty dari Le Méridien Kuala Lumpur meracik “Kueh Seri Muka”. Cocktail ini mengubah hidangan penutup klasik tersebut menjadi minuman segar tanpa menghilangkan keaslian rasa pandan dan kelapa.

    Kemudian, Arjenier Leong Xiao Fu dari Le Méridien Kota Kinabalu memperkenalkan “Tandahau Ember”. Kreasi ini mengombinasikan Monkey 47 Dry Gin dengan lihing khas Sabah, fermentasi bambangan, serta jahe Uinah.

    Finalis berikutnya, Shim Kian Hong Alex dari Sheraton Kota Kinabalu, menyajikan “Borneo Clarity”. Cocktail berkelanjutan ini berbasis KI NO BI Gin dan buah bambangan yang dimurnikan lewat teknik milk clarification.

    Di sisi lain, Eric Livingstonraj Murty dari The Ritz-Carlton, Langkawi menciptakan “Kaffir Reverie”. Minuman ini terinspirasi dari aroma khas Asia Tenggara, khususnya wewangian daun jeruk purut dan serai.

    Terakhir, Zelicxron Dave Majis dari W Kuala Lumpur mempersembahkan “Umami Mango Lassi”. Mangga matang dipadukan dengan elemen umami lalu dijernihkan menjadi cairan bening yang tetap mempertahankan kekayaan rasa.

    Sebagai penutup, kejuaraan tahunan APEC Sustainable Bartender Championship hadir sebagai bukti nyata dari dedikasi berkelanjutan Marriott International. Ajang ini menggambarkan bagaimana keahlian minuman tingkat tinggi dan keputusan bisnis yang berkelanjutan dapat saling menopang.

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply