markettrack.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) mengadakan seminar serta lokakarya mengenai sel punca. Acara ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem penelitian dan aplikasi sel punca di Indonesia.

    Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong inovasi medis dan memberikan harapan baru bagi pasien dengan penyakit degeneratif dan metabolik.

    Dr. dr. Rahyussalim, SpOT(K), Ketua ASPI menuturkan, “Indonesia telah membuktikan posisinya sebagai negara terdepan dalam riset sel punca di tingkat regional. Keberhasilan ini tidak lepas dari berbagai uji klinis yang dilakukan, bahkan banyak model penelitian yang ditiru oleh negara lain di kawasan Asia Pasifik.”

    Pemanfaatan terapi sel punca di Indonesia sudah diterapkan pada lebih dari 2.000 kasus penyakit degeneratif dan metabolik, termasuk diabetes.

    Hal ini menunjukkan kemampuan Indonesia dalam mengimplementasikan hasil penelitian menjadi solusi medis nyata.

    Rahyussalim menambahkan, “Meskipun riset dasar sel punca telah maju, tantangan utama saat ini adalah implementasi klinis yang optimal. Uji klinis yang saat ini dilakukan di rumah sakit pelayanan umum seringkali terganggu oleh padatnya aktivitas pelayanan dan pendidikan.”

    Oleh karena itu, lanjutnya, “Diperlukan sebuah rumah sakit riset klinis yang secara khusus fokus pada pengembangan sel punca.”

    Fasilitas ini akan memungkinkan pemantauan yang lebih akurat terhadap manfaat dan efikasi terapi sel punca. Dengan adanya rumah sakit ini, penelitian dapat menargetkan kasus-kasus ekstrem, seperti penyakit bawaan pada anak-anak hingga masalah degeneratif pada pasien lansia di atas 90 tahun.

    BRIN telah menyatakan kesediaannya untuk mendukung pendirian fasilitas ini, bahkan telah mengusulkan lokasi di Cibinong.

    Kolaborasi BRIN dan ASPI dalam Ekosistem Sel Punca

    Peran BRIN sangat penting dalam ekosistem sel punca melalui Organisasi Riset (OR) Kesehatan yang berfokus pada riset dasar sel punca.

    Namun, riset saja tidak cukup. Dibutuhkan kolaborasi erat dengan para dokter klinis, asosiasi profesi, dan industri untuk mempercepat pembuktian efikasi terapi.

    Sementara itu, ASPI akan berperan dalam membantu mengelola rumah sakit riset klinis tersebut, dengan mencari mitra profesional di bidang manajemen rumah sakit.

    Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini dijabat oleh Laksana Tri Handoko, mengatakan, “Kolaborasi ini diharapkan bisa mempercepat lahirnya Panduan Pelayanan Klinis (PPK) dan Panduan Nasional Praktik Klinik (PNPK) untuk terapi sel punca.”

    Saat ini, panduan tersebut masih dalam proses penyusunan, yang menjadi salah satu alasan mengapa terapi sel punca masih dianggap “pengobatan masa depan”. Standar ini sangat krusial untuk memastikan terapi sel punca dapat diterapkan secara aman dan masif.

    Posisi Indonesia yang akomodatif terhadap implementasi terapi baru membuat riset sel punca di Indonesia berada di garis depan.

    Dukungan dari berbagai lembaga, termasuk BPOM, serta kolaborasi internasional, menunjukkan pengakuan terhadap kemajuan yang dicapai.

    Namun, Laksana menambahkan, “Untuk membawa terapi ini dari laboratorium ke pelayanan umum, diperlukan sebuah wadah yang memungkinkan penelitian klinis berjalan lebih cepat dan terstruktur.”

    “Dengan adanya rumah sakit riset klinis khusus, diharapkan akan lebih banyak protokol terapi yang terbukti efektif dan aman,” tutupnya.

    Ini akan membuka jalan bagi sel punca untuk tidak lagi menjadi pengobatan masa depan, melainkan menjadi terapi standar yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Kolaborasi antara BRIN dan ASPI menjadi pilar utama dalam mewujudkan visi ini.

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply