markettrack.id – Masyarakat pesisir Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi biru nasional. Namun, banyak masyarakat pesisir yang masih menghadapi ketidakstabilan pendapatan meskipun berkontribusi besar terhadap nilai ekonomi.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, nilai ekspor perikanan Indonesia pada tahun 2025 mencapai rekor tertinggi sebesar US$6,27 miliar. Di sisi lain, Indonesia juga memiliki cadangan karbon mangrove terbesar di dunia dengan sekitar 3,1 miliar ton karbon.
Namun, keterbatasan fasilitas rantai dingin, kapasitas pengolahan, infrastruktur logistik, dan akses pasar menyebabkan nilai ekonomi tersebut belum dinikmati sepenuhnya. Oleh karena itu, Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP) bekerja sama dengan Konservasi Indonesia serta berbagai mitra.
Kolaborasi ini mendukung masyarakat pesisir di Maluku dalam mengidentifikasi kebutuhan lokal sekaligus mengembangkan solusi terintegrasi.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat mata pencaharian, meningkatkan ketahanan masyarakat, serta melindungi ekosistem laut.
Terkait hal tersebut, Rizky Fauzianto selaku Indonesia Country Lead GEAPP menyatakan bahwa masyarakat pesisir sejatinya telah memiliki sumber daya dan potensi ekonomi.
Tantangannya adalah memastikan investasi pada energi bersih, infrastruktur, akses pasar, dan pengelolaan ekosistem berjalan terpadu.
Melalui keterpaduan ini, masyarakat dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil yang mereka ciptakan. Di banyak desa nelayan, para nelayan kerap kembali dari melaut dengan hasil tangkapan yang melimpah.
Sayangnya, keterbatasan akses terhadap es dan fasilitas penyimpanan dingin memaksa mereka menjual hasil tangkapan secepat mungkin dengan harga rendah. Bahkan di beberapa wilayah, kehilangan hasil pascapanen dapat mencapai 30 hingga 50 persen.
Kondisi serupa juga dialami oleh para petani rumput laut di berbagai daerah. Dari total produksi 10,8 juta ton pada tahun 2024, sebagian besar masih diekspor dalam bentuk bahan baku kering alih-alih diolah di dalam negeri.
Melihat kendala tersebut, ketersediaan energi yang andal menjadi salah satu kunci untuk mengatasi berbagai tantangan.
Di banyak pulau terpencil, masyarakat masih bergantung pada generator diesel dengan pasokan bahan bakar yang harus diangkut jarak jauh.
Kondisi geografis ini membuat biaya listrik menjadi mahal sekaligus rentan terhadap gangguan pasokan. Sementara itu, penerapan solusi energi bersih yang sesuai kebutuhan dapat mendukung operasional produksi es hingga fasilitas penyimpanan dingin.
Dengan memungkinkan produk disimpan lebih lama, akses terhadap energi yang andal membantu masyarakat menjangkau pasar bernilai tambah tinggi. Langkah ini sekaligus membangun perekonomian lokal yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Inisiatif tersebut diwujudkan dalam sebuah pendekatan bertajuk “Sun to Sea”. Pendekatan ini menghubungkan pemanfaatan energi untuk kegiatan produktif dengan penguatan mata pencaharian serta pengelolaan ekosistem.
Melalui rantai dingin yang didukung energi andal, tekanan terhadap sumber daya perikanan dapat dikurangi. Poin ini penting karena ekosistem pesisir yang sehat memegang peranan yang sama besarnya bagi produktivitas perikanan.
Hutan mangrove, seagrass meadows, dan terumbu karang berkontribusi melindungi garis pantai dari abrasi dan cuaca ekstrem.
Ketika masyarakat mampu meningkatkan pendapatan, mereka akan memiliki kapasitas lebih besar untuk berinvestasi dalam pengelolaan alam jangka panjang.
Di samping itu, inisiatif ini sejalan dengan program Kampung Nelayan Merah Putih yang menargetkan pengembangan 5.000 kampung nelayan. Program tersebut berjalan beriringan dengan target 100GW Village Solarisation untuk memperluas akses terhadap energi surya.
Rizky Fauzianto menambahkan bahwa peluang terbesar adalah menghubungkan berbagai investasi tersebut di tingkat komunitas. Ketika seluruh aspek dirancang untuk saling terhubung, masing-masing akan saling mendukung dengan cara yang optimal.
Sebagai langkah awal, para mitra akan mendampingi sejumlah komunitas percontohan untuk menguji model pembangunan ini. Dukungan melalui catalytic grants dan pendanaan filantropi diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran awal serta mengurangi risiko implementasi.
Setelah model tersebut terbukti efektif, pemerintah dan investor diharapkan dapat mendukung replikasi solusi di berbagai wilayah pesisir. Melalui keterhubungan ini, Indonesia memiliki peluang memastikan manfaat ekonomi biru dirasakan secara optimal oleh masyarakat pesisir.
SF-Admin

