markettrack.id – HSBC Indonesia resmi meluncurkan solusi trade finance HSBC TradeCash. Layanan terbaru ini memungkinkan nasabah mencairkan modal kerja dengan mengunggah faktur penjualan (invoice) dengan proses mudah dan cepat.
Nasabah yang memenuhi kriteria dapat menerima modal kerja dalam hitungan menit setelah seluruh informasi yang diperlukan telah disampaikan dan disetujui melalui HSBCnet. Skema ini memungkinkan bisnis memperoleh likuiditas lebih cepat dari siklus pembayaran yang umumnya mencapai 30 hari atau lebih.
Selanjutnya, layanan HSBC TradeCash menjembatani kesenjangan arus kas, mengurangi beban administrasi dan mendukung pertumbuhan bisnis. Kebutuhan modal kerja meningkat di tengah volatilitas geopolitik dan tren kenaikan suku bunga global yang memicu tekanan likuiditas.
Di tengah gejolak geopolitik, aktivitas perdagangan Indonesia yang tetap tumbuh tinggi mendorong permintaan terhadap akses modal kerja yang mudah dan cepat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, ekspor mencapai US$25,30 miliar di April 2026, naik 21,98% dibandingkan periode yang sama pada April 2025.
Sementara itu, aktivitas impor juga meningkat 22,49% mencapai US$25,21 miliar pada periode sama. Survei terbaru HSBC terhadap 3.000 pebisnis dan investor mencatat bahwa 88% responden menyusun ulang alokasi modal sebagai respons terhadap volatilitas yang meningkat
.
Selain itu, sebesar 89% responden secara aktif memperbesar penempatan modal di pasar dengan pertumbuhan tinggi. Fakta ini diperkuat oleh siklus pembayaran yang lebih panjang yang menahan kas dan menambah tekanan likuiditas sehari-hari.
“Di tengah volatilitas yang meningkat, siklus pembayaran panjang, dan kenaikan biaya operasional, akses terhadap modal kerja kini telah menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga likuiditas dan pertumbuhan,” ujar Delia Melissa, Country Head Global Trade Solutions HSBC Indonesia. Menurut Delia Melissa, kemudahan akses modal kerja menjadi faktor krusial yang menentukan daya saing, khususnya bagi pebisnis Indonesia yang sedang ekspansi pasar ekspor.
Di sisi lain, Vivek Ramachandran selaku Global Head of Trade HSBC menyatakan HSBC TradeCash dirancang untuk membantu nasabah memaksimalkan kas yang tertahan dalam piutang. Melalui proses digital yang cepat, layanan ini mampu meminimalisir beban administratif.
“Dengan menghadirkan akses pendanaan yang cepat, kami membantu bisnis mengalihkan fokus dari pengelolaan dokumen ke pemenuhan pesanan, investasi, dan ekspansi,” jelas Vivek. Terlebih lagi, gejolak geopolitik dan perang tarif turut mendorong kenaikan harga barang serta keterlambatan pengiriman.
Kondisi tersebut pada akhirnya memperbesar kebutuhan akan solusi modal kerja yang mudah diakses dan efisien. Oleh karena itu, layanan HSBC TradeCash hadir melengkapi solusi trade finance HSBC yang sudah ada, termasuk HSBC TradePay.
Sebagai informasi, proses pembiayaan konvensional menimbulkan beban administratif yang berat karena perusahaan harus menghabiskan waktu setiap bulan untuk mengelola dokumen. Di pasar Indonesia sendiri, HSBC menyandang predikat bank nomor satu Trade Finance Provider dari Euromoney selama 3 tahun terakhir.
SF-Admin

