markettrack.id – Gangguan mata seperti uveitis dan masalah retina sering kali berkembang tanpa disadari. Gejalanya, seperti mata merah dan penglihatan kabur, sering dianggap sepele. Padahal, jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan permanen hingga kebutaan.

    Peringatan Hari Retina Sedunia pada bulan September dan Pekan Kesadaran Penyakit Mata Inflamasi di bulan Oktober menjadi momentum penting. JEC Eye Hospitals and Clinics mengajak masyarakat untuk lebih peduli pada kesehatan mata. Deteksi dini dan penanganan cepat adalah kunci untuk mencegah konsekuensi yang lebih parah.

    Retina adalah bagian mata vital yang mengubah cahaya menjadi sinyal visual ke otak. Kerusakan kecil pada retina dapat mengganggu penglihatan secara keseluruhan. Peradangan mata, termasuk uveitis, dapat merusak retina.

    Uveitis, Peradangan Mata yang Mengancam

    Uveitis adalah peradangan pada lapisan tengah mata yang disebut uvea. Kondisi ini bisa menyerang siapa saja, terutama usia produktif 20-60 tahun. Di negara berkembang, uveitis bertanggung jawab atas 25% kasus kebutaan.

    Infeksi virus dan bakteri adalah pemicu utama. Di Indonesia, penyebab terbanyak adalah penyakit infeksi sistemik seperti tuberkulosis dan toksoplasma. Studi menunjukkan 48-70% kasus tidak diketahui penyebab pastinya.

    Uveitis bukan peradangan mata biasa, menurut dokter Eka Octaviani Budiningtyas. Banyak pasien tidak merasakan gejala dini, membuat mereka terlambat berobat. Tanpa penanganan yang tepat, uveitis bisa menyebabkan komplikasi seperti katarak, glaukoma, kerusakan retina, dan kebutaan permanen.

    Deteksi dini adalah solusi paling efektif, kata Eka Octaviani Budiningtyas. Gejala umum uveitis meliputi mata merah, penglihatan kabur, serta munculnya floaters. Penderita juga bisa mengalami photophobia atau sensitif terhadap cahaya.

    Gejala ini mirip infeksi mata ringan seperti konjungtivitis, membuat banyak orang abai. Padahal, uveitis dapat memburuk dengan cepat. Diagnosis akurat dan koordinasi antarprofesi medis sangat penting.

    Penanganan uveitis membutuhkan pendekatan menyeluruh. Dimulai dengan pemeriksaan oftalmologi lengkap dan pencitraan mata. Terapi mencakup tetes mata kortikosteroid dan dilating drops.

    Pada kasus yang lebih parah, kortikosteroid oral atau suntik mungkin diberikan. Obat imunosupresan diperlukan untuk kasus kronis atau autoimun. Antibiotik, antivirus, atau antijamur diberikan jika penyebabnya infeksi.

    Gangguan retina merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di dunia. WHO memperkirakan 196 juta orang menderita degenerasi makula. Sekitar 146 juta orang menderita retinopati diabetik.

    Di Indonesia, prevalensi retinopati diabetik mencapai 43,1%. JEC Eye Hospitals and Clinics merupakan pionir dalam penanganan gangguan retina. JEC menyediakan layanan retina di 16 cabangnya dengan penatalaksanaan terstandardisasi.

    Layanan ini mencakup terapi laser, injeksi, dan bedah retina. JEC Retina Center di RS Mata JEC @ Menteng melayani kegawatdaruratan retina 24 jam. Pusat ini didukung 11 dokter mata subspesialis retina.

    Dalam tiga tahun terakhir, RS Mata JEC @ Menteng telah menangani lebih dari 12 ribu pasien. Referano Agustiawan, Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng, menegaskan komitmen JEC. Melalui JEC Retina Center, pihaknya mengoptimalkan penglihatan masyarakat.

    Pusat ini memadukan keahlian medis dan teknologi canggih. JEC Retina Center dilengkapi dengan Comprehensive Diagnostic Center (CDC). Fasilitas unggulan lainnya termasuk teknologi pencitraan fundus dan Optical Coherence Tomography (OCT).

    Ada juga USG mata, laboratorium, dan kamar bedah. Referano Agustiawan mengajak semua orang menjaga kesehatan mata. Deteksi dini gangguan retina dan inflamasi mata sangat krusial.

    Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang penglihatan terselamatkan. Jangan tunda untuk memeriksakan mata Anda. Lindungi “jendela dunia” dari risiko serius.

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply