oleh Athul Prasad, Global Director, AI Industry Solutions, Telco, Media & Entertainment, Cloudera
markettrack.id – Ketahanan dalam industri telekomunikasi dulu berarti menjaga agar jaringan tetap beroperasi. Namun saat ini, itu saja tidak lagi cukup.
Seiring AI mengambil peran yang semakin besar dalam pengelolaan jaringan, operator harus memastikan layanan tetap berjalan mulus meskipun infrastruktur semakin terdistribusi dan data menjadi semakin sensitif.
Inilah tantangan yang tercermin dalam tema World Telecommunication and Information Society Day tahun ini, “Strengthening resilience in a connected world.”
Ketahanan kini harus dibangun di setiap lapisan konektivitas, mulai dari jaringan terestrial dan kabel bawah laut hingga satelit dan pusat data.
Tantangan tersebut menjadi semakin mendesak seiring jaringan telekomunikasi terus berkembang dalam skala dan kompleksitas.
Ericsson memprediksi bahwa trafik data seluler global akan mencapai 280 exabyte per bulan pada tahun 2030, sementara jumlah pelanggan 5G diperkirakan mencapai 6,3 miliar atau mencakup dua pertiga dari seluruh pelanggan seluler.
Di Indonesia, penetrasi 5G telah menjangkau 48 kota dan terus meluas ke berbagai wilayah lainnya. Trafik yang semakin besar, infrastruktur yang semakin terdistribusi, serta pengambilan keputusan berbasis AI yang semakin masif, membuat ketahanan bukan lagi sekadar isu engineering di balik layar.
Dalam lingkungan seperti ini, ketahanan telekomunikasi akan semakin bergantung pada tiga hal: kontrol kedaulatan atas data, orkestrasi cerdas di jaringan yang semakin kompleks, serta kemampuan untuk mengoperasionalkan AI secara aman dalam skala besar.
Kontrol kedaulatan atas data
Ketahanan telekomunikasi dimulai dari kedaulatan data, karena operator tidak dapat membangun jaringan yang tangguh jika mereka tidak mengetahui ke mana data sensitif mengalir, siapa yang dapat mengaksesnya, atau bagaimana data tersebut dikelola.
Tantangan ini menjadi semakin mendesak ketika perusahaan telekomunikasi menghadapi tekanan yang terus meningkat untuk membuka data jaringan demi layanan baru, kemitraan ekosistem, dan peluang monetisasi.
Seiring operator memperluas layanan ke ranah AI services, network API, dan berbagai bentuk inferensi yang semakin terdistribusi, kedaulatan data kini menjadi isu arsitektur yang sama pentingnya dengan kepatuhan regulasi.
Operator perlu memahami bagaimana data bergerak, di mana data diproses, serta bagaimana data dibagikan di lingkungan yang semakin kompleks.
Mereka juga membutuhkan kontrol atas bagaimana data diakses dan digunakan dengan cara yang mendukung inovasi, bukan justru menghambatnya.
Di sinilah platform seperti Cloudera dapat berperan, membantu operator mengelola akses data secara lebih konsisten melalui kapabilitas seperti data lineage dan data fabric yang lebih terpadu untuk eksposur data yang aman.
Taruhannya menjadi semakin besar di tengah lingkungan geopolitik yang semakin tidak menentu, ketika pertanyaan mengenai ke mana data bergerak dan apakah data tersebut melewati lingkungan yang berpotensi tidak bersahabat, kini telah menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan.
Orkestrasi cerdas di jaringan yang semakin kompleks
Ketahanan juga bergantung pada kemampuan operator untuk mengkoordinasikan lingkungan jaringan yang semakin kompleks dan terdistribusi tanpa mengorbankan pengalaman pengguna.
Bagian penting dari ketahanan di masa depan adalah integrasi yang lebih erat antara jaringan terestrial dan non-terestrial, dengan satelit sebagai lapisan cadangan penting ketika kondisi lingkungan atau gangguan backhaul mempengaruhi konektivitas.
Namun integrasi teknis saja tidak cukup. Yang terpenting adalah apakah kompleksitas tersebut dapat dikelola tanpa mengganggu pengalaman pengguna.
Pengguna tidak peduli jaringan mana yang mereka gunakan; mereka hanya berharap layanan dapat berfungsi dengan baik.
Di sinilah AI menjadi penting, membantu operator mengelola mobilitas, signaling, dan perpindahan real-time di antara lingkungan jaringan agar konektivitas tetap berjalan mulus.
Hal ini penting karena tekanan terhadap operasional sudah mulai terlihat. Berdasarkan latest Data Readiness Index terbaru dari Cloudera, tiga dari lima responden di industri telekomunikasi mengatakan bahwa kinerja infrastruktur secara konsisten menghambat inisiatif operasional, tertinggi dibandingkan seluruh industri yang disurvei.
Seiring konstelasi satelit baru menjadi bagian dari lanskap konektivitas, ketahanan akan semakin bergantung pada seberapa cerdas operator dapat mengorkestrasi lingkungan jaringan yang semakin terdistribusi.
Di sinilah Cloudera melihat peluang: menghadirkan infrastruktur data terdistribusi yang mampu mendukung aplikasi private AI berlatensi rendah lebih dekat ke edge jaringan.
Dalam konteks ini, peran AI bukan untuk menambah lapisan kompleksitas baru, melainkan menjadi lapisan koordinasi yang membantu jaringan beradaptasi secara real-time.
Mengoperasionalkan AI secara aman dalam skala besar
Membangun ketahanan di era AI menuntut operator mengoperasionalkan AI secara aman, karena jaringan tidak akan menjadi lebih tangguh apabila sistem yang mengambil keputusan di dalamnya masih sulit diatur, dipantau, atau dipercaya.
Sebagian besar perusahaan telekomunikasi masih berada pada tahap awal dalam perjalanan menuju kematangan AI, dan kehati-hatian tersebut terus memengaruhi laju adopsinya.
Operator tetap sangat menghindari risiko, dengan banyak di antaranya masih khawatir bahwa penerapan AI ke dalam jaringan dapat mengganggu layanan yang tidak boleh mengalami gangguan.
Karena itu, tantangan terbesar bukanlah mengadopsi AI secara prinsip, melainkan membangun fondasi operasional yang dibutuhkan untuk menggunakannya secara bertanggung jawab dalam skala besar.
Artinya, operator perlu menyiapkan alur kerja data, model tata kelola, praktik pemantauan, dan mekanisme akuntabilitas yang tepat sebelum AI diterapkan lebih dalam ke operasional jaringan secara langsung.
McKinsey menemukan bahwa meskipun sekitar 50% eksekutif level C di industri telekomunikasi mengatakan mereka sudah melihat dampak dari AI dan AI generatif, sebanyak 45% masih melihat data sebagai hambatan utama dalam mengembangkan agen AI.
Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia), IDC InfoBrief menemukan bahwa para pemimpin level C di berbagai industri, termasuk telekomunikasi, menilai AI dan agentic
AI mendorong transformasi secara signifikan, namun keterbatasan akses data tetap menjadi salah satu dari lima tantangan utama dalam implementasi AI.
Permasalahannya bukan ambisi yang kurang, melainkan apakah fondasi yang ada cukup kuat untuk mendukung AI di lingkungan produksi.
Kesenjangan tersebut sangat terlihat dalam agentic AI. Meskipun momentumnya terus berkembang dan AI-RAN Alliance telah menampilkan sejumlah demo yang mengesankan di MWC 2026, pembahasannya masih berfokus seputar eksperimentasi, pengawasan manusia, serta pertanyaan yang belum terjawab terkait guardrails dan kedaulatan.
Perusahaan telekomunikasi mungkin menginginkan manfaat dari operasional berbasis AI-native dan otomatisasi agentic, namun ketahanan pada akhirnya akan bergantung pada kemampuan mereka untuk menskalakan sistem tersebut dengan pengawasan, explainability, observability, dan akuntabilitas yang tepat.
Seiring jaringan menjadi lebih cerdas, jaringan juga menjadi lebih sulit dikelola. Lebih banyak otomatisasi, infrastruktur yang semakin terdistribusi, dan lebih banyak data yang bergerak di berbagai lingkungan dapat membuat telekomunikasi menjadi lebih adaptif, tetapi juga lebih rentan jika fondasinya lemah.
Karena itulah, ketahanan harus dirancang ke dalam cara data dikelola, bagaimana jaringan diorkestrasi, dan bagaimana AI diterapkan sejak awal.
Bagi operator telekomunikasi, peluang sebenarnya adalah membangun jaringan yang tetap tepercaya, dapat dikendalikan, dan tangguh seiring kecerdasan semakin tertanam lebih dalam di seluruh sistem.
SF-Admin


