markettrack.id – Perdagangan komoditas global kini menghadapi tuntutan baru yang mendesak. Konsumen dan regulator semakin menuntut jaminan keberlanjutan.

    Salah satu komoditas yang menjadi sorotan adalah karet alam, yang rantai pasoknya dikenal rumit dan terfragmentasi. Untuk memastikan produknya dapat dilacak, produsen karet asal Thailand, GT Rubber, menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan agritech asal Indonesia, Koltiva.

    Kolaborasi ini berfokus pada pembangunan sistem yang komprehensif. Tujuannya adalah memetakan lahan dan memverifikasi petani karet kecil.

    Sistem ini akan memastikan setiap produk dapat dilacak hingga ke sumber aslinya. Hal ini sejalan dengan regulasi global yang semakin ketat, khususnya European Union Deforestation Regulation (EUDR).

    GT Rubber menyadari pentingnya memenuhi standar keberlanjutan. Dengan menggandeng Koltiva, mereka mengambil langkah nyata dalam menanggapi tekanan pasar yang terus meningkat.

    Inisiatif ini memastikan rantai pasok karet perusahaan terbebas dari isu deforestasi. Kesiapan ini menjadi kunci untuk tetap kompetitif di pasar internasional.

    Lebih dari 90% karet alam global dihasilkan oleh petani kecil. Sebagian besar petani ini berada di luar rantai pasok formal dan memiliki akses terbatas ke pasar global.

    Kondisi ini membuat upaya verifikasi asal usul produk menjadi sangat sulit. Padahal, ekspansi perkebunan karet sering dikaitkan dengan deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan konflik kepemilikan tanah.

    Sebuah studi dari Nature Journal pada tahun 2023 menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: lebih dari 4 juta hektare hutan—setara dengan luas negara Swiss—telah dibuka untuk perkebunan karet sejak tahun 1993.

    Setengah dari luasan tersebut terjadi setelah tahun 2000. Fakta ini menegaskan pentingnya tindakan nyata. Untuk tetap dapat bersaing, produsen harus mampu membuktikan keberlanjutan produk mereka hingga ke tingkat petani. Kemampuan ini bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan.

    Solusi Digital untuk Mengatasi Tantangan Ketertelusuran

    GT Rubber menggunakan sistem digital canggih dari Koltiva. Sistem ini membantu memverifikasi legalitas lahan dan menilai risiko deforestasi.

    Dengan sistem ini, data dari tingkat petani dapat langsung terhubung dengan transaksi pasok. Hingga saat ini, lebih dari 15.000 lahan petani kecil di Thailand telah dipetakan.

    Lebih dari 4.500 petani karet telah diverifikasi melalui analisis geospasial, pemeriksaan hak atas lahan, dan penilaian risiko deforestasi.

    Semua data ini terintegrasi dalam sebuah Sistem Informasi Manajemen (MIS) terpusat. Hal ini memungkinkan tim kepatuhan GT Rubber untuk memantau, menilai, dan merespons risiko secara real-time.

    Sistem ini dirancang agar selaras dengan sistem informasi Uni Eropa yang akan datang (EUIS). Manfred Borer, CEO dan Co-Founder Koltiva, menekankan bahwa data lapangan yang dapat diverifikasi sangat penting.

    Menurutnya, regulasi seperti EUDR bukan hanya hambatan, tetapi juga arah masa depan perdagangan global. Kemampuan untuk menunjukkan ketertelusuran adalah bagian penting dari ketahanan jangka panjang perusahaan.

    Untuk memperkuat integritas data, GT Rubber memberikan pelatihan kepada lebih dari 200 mitra rantai pasok. Pelatihan ini menggabungkan literasi regulasi dengan penerapan praktis di lapangan.

    Selain itu, sistem pelabelan juga diterapkan untuk memisahkan karet yang telah terverifikasi dari yang belum. Hal ini mencegah kontaminasi yang dapat merusak kredibilitas seluruh rantai pasok.

    Olivier Barents, Senior Head of Marketing APAC di Koltiva, menjelaskan bahwa data petani saja tidak cukup. Jika mitra mencampur produk, seluruh kredibilitas sistem akan dipertanyakan.

    Prioritas perusahaan adalah memastikan ketertelusuran di seluruh level, dari petani hingga mitra rantai pasok. Risiko dari satu pengiriman yang tidak terdokumentasi bisa berujung pada sanksi mahal atau penolakan masuk pasar.

    Membangun Ketertelusuran di Lapangan

    Sebuah inisiatif terbaru dari GT Rubber di wilayah selatan Thailand menjadi contoh konkret. Program ini disusun berdasarkan kerangka keterlibatan tiga tingkatan: penyelarasan strategis di tingkat korporasi, pelatihan bagi mitra rantai pasok lokal, dan pendampingan berkelanjutan bagi petani kecil.

    Pendekatan berlapis ini memperkuat integritas data dan meningkatkan ketertelusuran pada titik-titik agregasi kritis.

    Yang membedakan model ini adalah integrasi berbagai sistem deteksi risiko. Citra satelit, catatan penggunaan lahan nasional, dan platform peringatan dini deforestasi digabungkan.

    Hal ini membentuk profil geospasial dinamis yang memungkinkan penilaian risiko lebih akurat dan intervensi lebih proaktif.

    GT Rubber berencana memperluas inisiatif ini ke lebih banyak provinsi pada tahun 2025. Targetnya adalah menjangkau setidaknya 10.000 petani kecil hingga tahun 2027.

    Dengan demikian, porsi karet terverifikasi dalam total produksi akan meningkat signifikan. Perusahaan juga terus bekerja sama dengan Koltiva untuk memperkuat kerangka ketertelusuran.

    Managing Director GT Rubber, Tanaphon Tanunpatcharapol, menegaskan bahwa pembeli kini tidak hanya menuntut kualitas produk.

    Mereka juga menuntut bukti bahwa bahan baku dapat ditelusuri dan bebas deforestasi. Kemampuan ini menjadi daya saing jangka panjang dan arah masa depan perdagangan global.

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply