markettrack.id – The Asia Pacific Foundation of Canada (APF Canada) menggelar Canada-in-Asia Conference 2026 (CIAC 2026) di Singapura.

    Konferensi ini menghadirkan lebih dari 700 pemangku kebijakan, pemimpin bisnis, investor, dan pakar dari Kanada serta berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.

    Di tengah ketidakpastian geopolitik dan transisi ekonomi global, CIAC 2026 berfokus pada tiga pilar utama: ketahanan pangan, ketahanan energi, dan infrastruktur.

    Konferensi ini membahas bagaimana Kanada dan negara-negara Asia dapat membangun kemitraan yang tangguh dan siap menghadapi masa depan melalui penyelarasan kebijakan, investasi strategis, serta kolaborasi lintas negara.

    Konferensi ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi pemerintah, termasuk Maninder Sidhu, Menteri Perdagangan Internasional Kanada, serta Gan Siow Huang, Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri dan Perdagangan & Industri Singapura, yang mencerminkan pentingnya kemitraan strategis Kanada dan Asia di tingkat regional maupun bilateral.

    Dari Dialog Menuju Implementasi di Tengah Perubahan Indo-Pasifik

    Dalam pembukaan konferensi, Jeff Nankivell, Presiden dan CEO APF Canada, menekankan pentingnya kemitraan jangka panjang yang dilandasi kepercayaan antara Kanada dan negara-negara di Asia.

    “Di seluruh kawasan Indo-Pasifik, pemerintah dan pelaku usaha menghadapi berbagai tantangan bersama, mulai dari ketahanan pangan dan energi hingga ketahanan rantai pasok serta pembiayaan infrastruktur. CIAC 2026 membuka ruang untuk melangkah dari sekadar dialog menuju kolaborasi nyata yang memberikan manfaat bersama bagi Kanada dan mitra kami di Asia,” ujar Nankivell.

    Melalui pidato utama, diskusi tingkat menteri, dan panel sektoral, para pembicara membahas bagaimana keahlian Kanada di bidang energi bersih, pengelolaan sumber daya, inovasi agrifood, dan perencanaan infrastruktur dapat melengkapi pertumbuhan pasar serta kepemimpinan teknologi di Asia.

    Sesi Utama yang Menyoroti Prioritas Kawasan

    Sejumlah sesi utama di CIAC 2026 membahas berbagai tantangan regional lintas sektor yang memengaruhi hubungan Kanada dan Asia.

    Dalam sesi tingkat tinggi mengenai geopolitik dan fragmentasi ekonomi, para pembicara membahas bagaimana negara-negara berkekuatan menengah dapat menghadapi persaingan strategis yang semakin kuat, perubahan perdagangan, serta gangguan rantai pasok.

    Diskusi juga menyoroti dampaknya terhadap arus investasi, kebijakan industri, dan kerja sama regional, sekaligus menekankan pentingnya kemitraan yang lebih beragam serta lingkungan regulasi yang stabil dan dapat diandalkan.

    Sesi lainnya membahas investasi dan pembiayaan infrastruktur dengan mempertemukan pembuat kebijakan, investor, serta pengembang proyek untuk membahas upaya mendorong mobilisasi modal swasta bagi pembangunan infrastruktur berskala besar di Asia.

    Para panelis juga mengulas model pembiayaan campuran, mekanisme berbagi risiko, serta peran lembaga pembiayaan pembangunan dalam membuka peluang bagi proyek-proyek berkelanjutan yang layak secara komersial.

    Pembahasan tentang ketahanan energi dan transisi energi menyoroti upaya memperluas pemanfaatan energi bersih tanpa mengorbankan keterjangkauan dan keandalan.

    Peluang kolaborasi dibahas dalam bidang energi terbarukan, penyimpanan energi, modernisasi jaringan listrik, serta critical minerals, dengan Kanada diposisikan sebagai mitra pelengkap dalam transisi Asia menuju sistem energi rendah karbon.

    Diskusi khusus mengenai sistem pangan dan ketahanan rantai pasok mengulas bagaimana tekanan iklim, perubahan demografi, dan guncangan geopolitik membentuk ulang ketahanan pangan di kawasan.

    Inovasi teknologi pertanian, produksi berkelanjutan, serta kerja sama regulasi dinilai sebagai kunci ketahanan jangka panjang.

    Sorotan Hubungan dengan Negara-Negara Kunci

    CIAC 2026 juga menghadirkan sesi khusus untuk beberapa negara, terutama India, China, dan Indonesia, yang semakin penting dalam keterlibatan Kanada di Indo-Pasifik.

    Canada–India dan Canada–China: Memperluas Kerja Sama di Tengah Perubahan Ekonomi

    Diskusi mengenai hubungan Kanada dengan Tiongkok dan India membahas bagaimana ketiga negara dapat memperkuat kerja sama di tengah perubahan situasi geopolitik dan ekonomi.

    Para pembicara menekankan meningkatnya kebutuhan India dan Tiongkok terhadap ketahanan pangan, diversifikasi energi, serta investasi infrastruktur berskala besar, sekaligus mengkaji bagaimana perusahaan, institusi, dan investor Kanada dapat berkontribusi pada sektor-sektor utama tersebut.

    Kanada-Indonesia: Jadikan Keselarasan Kebijakan sebagai Aksi Nyata

    Sesi Kanada-Indonesia membahas peluang memperdalam kolaborasi di sektor agrifood, energi bersih, critical minerals, dan pembangunan infrastruktur.

    Indonesia dipandang sebagai pusat manufaktur dan sumber daya yang semakin strategis di kawasan. Keahlian Kanada dinilai dapat mendukung produksi berkelanjutan, penguatan regulasi, serta ketahanan rantai pasok.

    Para panelis menekankan pentingnya menerjemahkan keselarasan kebijakan menjadi kemitraan komersial nyata, khususnya dalam pengolahan hilir, agri-tech, dan dukungan investasi. Kanada diposisikan sebagai mitra jangka panjang dalam transformasi ekonomi Indonesia.

    Vina Nadjibulla, Vice-President Research & Strategy APF Canada, yang memimpin sesi Canada–India, menegaskan bahwa hubungan kedua negara perlu melampaui pendekatan transaksional.

    “Hubungan Kanada-India memasuki fase baru di mana keselarasan strategis harus diikuti kolaborasi berkelanjutan yang dipimpin sektor-sektor prioritas. Di CIAC 2026, terlihat jelas adanya minat membangun kemitraan yang menggabungkan investasi, alih teknologi, pengembangan keterampilan, dan keamanan bersama – faktor-faktor penting untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi kedua ekonomi,” ujar Nadjibulla.

    Dalam berbagai diskusi yang berfokus pada negara, para peserta sepakat bahwa kemitraan yang sukses tidak hanya soal perdagangan, tetapi juga pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas tenaga kerja, serta hubungan antarmasyarakat – selaras dengan tiga pilar utama CIAC 2026: ketahanan pangan, ketahanan energi, dan infrastruktur.

    Menjaga Momentum Pasca CIAC 2026

    Dalam penutupan, Barrett Bingley, Asia Regional Director APF Canada, menegaskan bahwa CIAC 2026 menjadi titik transisi dari diskusi menuju kolaborasi berkelanjutan.

    “CIAC bukan sekadar acara satu kali. Ini adalah bagian dari upaya jangka panjang untuk menghubungkan pemerintah, pelaku usaha, dan institusi yang membentuk masa depan hubungan Kanada–Asia. Relasi dan gagasan yang dibangun di Singapura akan dilanjutkan melalui pertemuan lanjutan dan kemitraan konkret di seluruh kawasan,” ujarnya.

    Momentum kerja sama yang berkembang turut terlihat dari sejumlah hasil yang diumumkan seiring penyelenggaraan konferensi ini.

    Salah satu contohnya adalah perjanjian distribusi eksklusif di Amerika Utara antara TradeWorks Environmental Inc. dan perusahaan berbasis di Singapura, GoCircular. Presiden dan CEO TradeWorks, Meni Mancini, merupakan delegasi lama sekaligus peserta aktif dalam Women’s Executive Series (WES) yang diselenggarakan APF Canada melalui berbagai misi untuk membangun koneksi strategis di Asia.

    Dukungan jejaring dan akses pasar yang difasilitasi APF Canada turut membuka jalan bagi kemitraan yang kini resmi terjalin antara TradeWorks dan GoCircular.

    Kesepakatan ini menunjukkan bagaimana CIAC dan berbagai inisiatif Canada-in-Asia yang dijalankan APF Canada membantu mendorong peluang komersial, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta memajukan inovasi Kanada di sektor strategis seperti teknologi bersih.

    Sejalan dengan upaya memperkuat kemitraan ekonomi berkelanjutan Kanada di Asia, lembaga pembiayaan pembangunan bilateral Kanada, FinDev Canada, mengumumkan penandatanganan pinjaman senilai USD 30 juta kepada PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), yang sekaligus menjadi investasi pertamanya di Indonesia.

    Pendanaan ini akan memperluas akses pembiayaan bagi proyek energi terbarukan dan infrastruktur berkelanjutan lainnya guna mendukung mitigasi perubahan iklim, meningkatkan kapasitas dan ketahanan infrastruktur, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi.

    Dengan memanfaatkan keahlian IIF di sektor infrastruktur Indonesia, komitmen ini melanjutkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada 2025 sekaligus memperkuat agenda kerja sama bilateral melalui dukungan terhadap proyek-proyek strategis yang mendorong perdagangan, pertumbuhan rendah karbon, dan pembangunan berkelanjutan jangka panjang.

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply