markettrack.id – Penelitian terbaru tentang perkembangan otak manusia mengungkap fakta menarik. Fondasi paling krusial dalam hidup seseorang ternyata bukan saat usia sekolah dasar.
Justru, periode awal kehidupan, yakni usia 1 hingga 5 tahun, menjadi fase yang sangat vital untuk tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Ini berarti, ekosistem pendidikan anak usia dini (PAUD) yang ideal harus diupayakan seoptimal mungkin, dengan dukungan dari semua pihak.
Prof. Fasli Jalal, Ketua Early Childhood Education and Development (ECED) Indonesia sekaligus Rektor Universitas YARSI, menjelaskan bahwa studi selama 30 tahun terakhir menunjukkan peta perkembangan otak manusia sangat jelas.
Tumbuh kembang seseorang sangat ditentukan oleh kesiapan otak yang dibangun sejak dalam kandungan, tepatnya pada minggu keempat kehamilan ibu.
Pada masa itu, kecepatan pembentukan sel saraf mencapai 250 ribu sel per detik. Apabila ada gangguan pada ibu atau lingkungannya, jumlah sel yang terbentuk bisa berkurang hingga 70-80 persen.
Namun, jika perkembangan otak ini kuat, didukung nutrisi dan ekosistem yang baik, seorang anak bisa lahir dengan 100 miliar sel otak, sebuah potensi yang luar biasa.
Proses perkembangan otak yang optimal berlangsung pada 1.000 hari pertama setelah kelahiran. Namun, tumbuh kembang anak secara utuh juga sangat dipengaruhi oleh berbagai dukungan, seperti asupan gizi, kesehatan yang memadai, pola pengasuhan yang tepat, pendidikan yang stimulatif, hingga perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan. Prof. Fasli berharap 73 juta keluarga di Indonesia dapat memahami pentingnya hal ini.
Stimulasi dan PAUD Penting untuk Kecerdasan Anak
Di masa tumbuh kembang ini, kebutuhan anak harus dipenuhi secara holistik. Bukan hanya nutrisi dan gizi untuk kebutuhan fisik, anak usia dini juga harus diberikan stimulasi dan interaksi yang memacu perkembangan motorik, kognitif, bahasa, dan sosio-emosionalnya.
Prof. Fasli bahkan menunjukkan sebuah studi menarik: anak yang terus diberi stimulasi oleh orang tuanya, meskipun kekurangan asupan makanan bergizi, tetap dapat tumbuh mendekati normal. Kondisi ini sering terjadi pada keluarga di garis kemiskinan.
Orang tua yang memahami prinsip stimulasi bisa melejitkan kecerdasan anak, meskipun berat badannya rendah atau mengalami stunting.
Banyak orang tua belum memahami prinsip stimulasi pada anak usia dini. Padahal, stimulasi ini harus diberikan sejak anak dalam kandungan, saat indra-indranya mulai terbentuk.
Misalnya, mengajak bayi berbicara untuk merangsang indra pendengarannya. Setelah bayi lahir, stimulasi indra penglihatan dan perabaan dapat dilakukan dengan mengenalkan warna dan bentuk.
Anak juga harus dikenalkan makanan sehat untuk melatih indra pengecap. Sebuah riset menunjukkan bahwa jumlah kosakata yang dikuasai seorang anak (antara 3.000 hingga 30.000 kata) sangat bergantung pada stimulasi orang tua yang sering mengajak anak berbicara.
Otak anak bagaikan spons, yang akan menyerap informasi jika gizi, pendidikan, perlindungan, dan pengetahuannya baik, sehingga otak anak bisa cemerlang. Tak ada kata cukup untuk menstimulasi anak.
Prinsip-prinsip stimulasi ini menjadi landasan penting bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan upaya pemenuhan hak anak secara ideal.
Fitriana Herarti, ECED Ecosystem Development Lead Tanoto Foundation, menekankan bahwa pemenuhan hak anak, terutama dalam pendidikan, adalah tugas semua pihak: orang tua, masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan. Ia mengutip pepatah dari Afrika Selatan, “butuh satu kampung untuk membesarkan satu orang anak.”
Ia mendorong setiap keluarga berperan aktif dalam memberikan stimulasi dan pendidikan bagi anak usia dini, dan berharap tidak ada orang tua yang memberikan pola asuh keliru atas nama cinta.
Contohnya, terus memberi bubur pada anak usia satu tahun padahal mereka sudah bisa mengonsumsi nasi untuk melatih lidah dan rahangnya, atau tidak mengajak anak bicara karena dianggap masih terlalu kecil.
Padahal, sejak usia satu tahun, bayi sudah mulai menyerap kata-kata yang didengarnya. Hal-hal dasar ini adalah bagian dari stimulasi yang harus dipahami, di samping terus mendorong akses gizi dan kesehatan.
Orang tua juga perlu menyadari pentingnya PAUD, apalagi saat ini PAUD sudah masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebagai program Wajib Belajar 13 tahun.
Namun, pemahaman tentang PAUD masih perlu dikuatkan. Banyak orang tua enggan mendaftarkan anaknya ke PAUD karena menganggap hanya bermain-main, bukan belajar.
Padahal, PAUD memang menggunakan pendekatan bermain, dan bagi anak usia dini, bermain adalah belajar.
Fitriana menjelaskan bahwa PAUD menyiapkan foundational skill, kemampuan dasar yang berguna untuk menunjang pendidikan dasar di masa mendatang.
Misalnya, aktivitas meronce atau menjumput benda kecil melatih motorik halus anak agar lancar menulis di SD. Ilmu pengetahuan dan informasi pun dapat diserap anak dengan baik melalui bermain, karena bermain menekankan pengalaman.
Selain itu, masih ada kesalahpahaman bahwa PAUD tidak mengajarkan baca, tulis, hitung (calistung). Padahal, calistung boleh saja diajarkan kepada anak usia dini, namun disesuaikan dengan pemahaman mereka, misalnya melalui permainan dan pengenalan benda di sekitar, bukan langsung menggunakan abjad dan angka.
Orang tua juga harus bijak dalam memilih layanan PAUD, mempertimbangkan interaksi guru dan kenyamanan anak.
Prof. Fasli menambahkan bahwa semua orang tua seharusnya siap menjadi “guru PAUD” dan memahami prinsip dasarnya.
Ketika memilih layanan PAUD, hal terpenting bukanlah biaya yang mahal, melainkan kapasitas dan profesionalitas guru-gurunya yang harus mampu mengembangkan aspek sosio-emosional, kognitif, motorik, dan bahasa anak secara menyenangkan, sesuai bakat dan minat mereka.
Dengan vitalnya PAUD dan banyaknya tantangan yang harus dihadapi, semua pihak diajak untuk bergerak bersama memenuhi hak-hak anak usia dini, terutama dalam aspek pendidikan.
Fitriana mengingatkan, periode anak usia 1-5 tahun adalah masa pesatnya perkembangan otak anak yang tidak akan terulang.
Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama harus menyadari pentingnya fase ini. Jika tidak dioptimalkan, ini seperti membuang kesempatan 90 persen otak anak untuk berkembang.
Oleh karena itu, orang tua harus terus diberi pemahaman tentang pola pengasuhan, stimulasi, dan penyediaan PAUD secara optimal.
Tidak ada anak usia dini yang berdemo menuntut haknya. Jadi, kita di sekelilingnya, terutama orang tua dan pengambil kebijakan, harus berkolaborasi memastikan hak anak usia dini dan tumbuh kembang optimalnya terpenuhi.
Untuk tujuan ini, sejak tahun lalu, ECED Indonesia, yang diinisiasi oleh Tanoto Foundation dan dikoordinasi oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), dibentuk.
Gerakan lintas sektor ini mendorong pemenuhan hak-hak anak usia dini, terutama dalam pendidikan. ECED akan terus mengangkat isu ini dan menggencarkan strategi untuk memberi pemahaman lebih luas kepada masyarakat.
Langkah ini semata-mata untuk “mengasah” anak-anak Indonesia agar menjadi generasi terbaik. Anak adalah harta paling berharga, dan tugas kita adalah memastikan tumbuh kembang mereka.
Tantangan di masa depan akan semakin luar biasa, namun kita harus terus memberi perhatian pada anak sejak dalam kandungan, lahir hingga 1.000 hari pertamanya, juga memperkaya stimulasi dan memberikan hak-haknya di rumah, masyarakat, dan dalam pendidikan.
SF-Admin


