markettrack.id – Setelah menginspirasi audiens di Kuala Lumpur dan Osaka, inisiatif “Serumpun Sarawak” telah kembali ke asalnya, jauh di dalam hutan hujan Warisan Dunia UNESCO Mulu, untuk sebuah perayaan luar biasa yang menyatukan alam, warisan, dan cita rasa lokal yang mendalam.
Acara ini, bertajuk “We Are Nature, Nature Is Us — Everything is Everything,” diselenggarakan oleh Kementerian Pelancongan, Industri Kreatif dan Seni Persembahan Sarawak (MTCP) bersama Lembaga Pelancongan Sarawak (STB).
Perjalanan kembali ke Mulu ini menandai babak baru dalam perjalanan global Serumpun Sarawak yang telah membawa kisah-kisah Sarawak melintasi batas, kini kembali ke tanah dan komunitas yang menjadi inspirasinya.
Acara edisi Mulu ini, yang bertempat di Mulu Marriott Resort & Spa, sukses menyatukan komunitas Adat Sarawak, seniman kuliner, dan praktisi kreatif dalam sebuah showcase yang menegaskan kembali posisi Sarawak sebagai pemimpin global dalam pariwisata budaya berkelanjutan dan penceritaan regeneratif.
Ketua Pegawai Eksekutif Lembaga Pelancongan Sarawak, Puan Sharzede Datu Haji Salleh Askor, menjelaskan bahwa kepulangan Serumpun Sarawak ke Mulu adalah simbolis, membawa dunia kembali ke warisan hidup Sarawak.
Inisiatif ini merayakan Sarawak bukan hanya sebagai destinasi keajaiban alam, tetapi sebagai sumber kebijaksanaan di mana budaya, masakan, dan konservasi tak terpisahkan.
Setiap detail di Mulu, mulai dari bahan-bahan yang diambil dari sungai dan hutan terdekat hingga dekorasi meja yang bersumber langsung dari alam, secara jelas mewujudkan prinsip hiperlokalisasi, memperkuat komitmen STB terhadap pariwisata bertanggung jawab yang mengangkat komunitas sambil melestarikan integritas lingkungan.
Harmoni Adat dan Keberlanjutan dalam Gastronomi
Puncak pengalaman Serumpun Sarawak adalah perjalanan gastronomi 7 hidangan yang dikurasi oleh Chef James Won bekerja sama dengan pengelola makanan Adat Sarawak.
Setiap hidangan merupakan dialog antara inovasi kuliner modern dan memori leluhur, terinspirasi oleh kearifan kolektif 34 komunitas etnik Sarawak.
Bahan-bahan seperti botani hutan hujan, hasil segar air tawar, dan fermentasi tradisional diubah menjadi ekspresi santapan mewah dari terroir Sarawak, berakar pada keberlanjutan dan penghormatan terhadap tanah.
Narasinya diperkaya oleh Prof. Gerard Bodeker, yang memperdalam hubungan antara kesehatan, ekologi, dan budaya dengan memaparkan sifat obat dan terapeutik bahan-bahan asli Sarawak.
Melengkapi pengalaman kuliner, Serumpun Salon mengadakan ‘Conversations in the Rainforest’ yang mengeksplorasi bagaimana kearifan Adat Sarawak selaras dengan kerangka kerja keberlanjutan global seperti ESG (Lingkungan, Sosial, Tata Kelola).
Panelis Joanne Flinn, Pendiri ESG Institute, dan pemimpin pemikiran lainnya menyoroti praktik berbasis komunitas Sarawak, mulai dari pertanian tradisional hingga pengawetan makanan, sebagai model untuk pariwisata yang bertanggung jawab dan regeneratif.
Acara ini juga menampilkan para pengrajin dan perusahaan sosial Adat Sarawak yang paling inspiratif, dikurasi untuk menyoroti kerajinan dan penceritaan sebagai sarana pelestarian budaya.
Di antara mereka yang ditampilkan adalah The Tuyang Initiative, CHASS yang diwakili oleh Datin Dona Drury Wee dan Chef Laura Sim Bara, Earthlings Coffee, Dayak Lore, Penang Basket, Awing, Bera Adam Ba’kelalan, dan Savo, yang masing-masing mewujudkan kreativitas Sarawak dan ekonomi budayanya yang terus berkembang.
Momen penting malam itu adalah penampilan “Ilun Kuai,” lagu tema resmi Serumpun Sarawak, dibawakan oleh Adrian Jo Milang dan diciptakan bersama Zee Avi, Raja Farouk, dan tim Atlas Collective, sebuah refleksi yang sangat menyentuh tentang jiwa Sarawak melalui irama, suara, dan memori leluhur.
Bagi STB, Serumpun Sarawak lebih dari sekadar showcase budaya, tetapi merupakan arsip hidup identitas Sarawak, membuktikan bahwa keberlanjutan, budaya, dan kreativitas dapat hidup berdampingan sebagai pendorong pertumbuhan inklusif.
Dengan kembali ke Mulu, perjalanan ini menghubungkan kembali audiens globalnya dengan hutan hujan yang menopang masyarakat dan semangat Sarawak.
Dari hutan hingga sungai, Serumpun Sarawak menjadi bukti kuat visi pariwisata Sarawak yang menyembuhkan, menghormati, dan menginspirasi.
SF-Admin


