markettrack.id – Dunia kini berada di persimpangan transformasi digital yang signifikan, di mana kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar tren, melainkan pendorong utama pertumbuhan.
Adopsi AI dan komputasi awan (cloud) telah mengubah lanskap ekonomi digital secara global. Di Indonesia, transformasi ini sangat terasa, menunjukkan bahwa AI merupakan motor penggerak strategis.
Cloud computing pun semakin menjadi arus utama, menjadi tulang punggung bagi berbagai inovasi. Perusahaan-perusahaan berlomba-lomba memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Kebutuhan akan AI yang fleksibel dan dapat diakses menjadi sangat krusial.
Inovasi teknologi harus sejalan dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Red Hat, sebagai pemain kunci di industri teknologi, memahami betul dinamika ini. Perusahaan terus beradaptasi untuk menjawab tantangan dan peluang di era digital.
Visi Red Hat telah berevolusi, bergeser dari “From the power of few into the power of many” menjadi “menjadi platform bagi customer yang ingin membangun AI mereka sendiri”.
Red Hat tidak menyediakan beban kerja atau model bahasa besar (LLM), melainkan platform untuk demokratisasi AI yang lebih cepat. Ini memberikan kebebasan nyata bagi perusahaan untuk memilih model AI dan infrastruktur yang tepat.
Fleksibilitas menjadi kunci utama dalam pengembangan AI. Perusahaan membutuhkan kemampuan untuk menjalankan beban kerja AI di mana pun data mereka berada. Konsep “Any model. Any accelerator. Any cloud” dari Red Hat dirancang untuk menjawab kebutuhan ini.
Red Hat: Membangun Fondasi AI Masa Depan
Red Hat secara konsisten memperkuat posisinya di pasar hybrid cloud. Perusahaan ini menjembatani investasi IT masa lalu dengan kebutuhan masa depan, khususnya dalam hal AI.
Perusahaan-perusahaan kini mengandalkan Red Hat untuk membangun fondasi yang stabil menuju masa depan AI dan komputasi kuantum.
Portofolio Red Hat AI memperluas nilai hybrid cloud ke seluruh jejak baru AI. Ini mencakup segala jenis beban kerja AI, di mana pun lokasinya, dan mempersiapkan diri menjadi platform untuk inovasi agentic AI. Salah satu terobosan signifikan adalah Red Hat AI Inference Server.
AI Inference Server ini berfungsi sebagai “otak AI” di mana semua aktivitas pemrosesan terjadi. “Server ini memungkinkan penggunaan Generative AI untuk model dan akselerator apa pun di seluruh hybrid cloud,” jelas Vony Tjiu, Country Manager Red Hat Indonesia.
AI Inference Server dapat bekerja dengan sistem operasi apa pun, namun dukungan penuh dari Red Hat akan optimal jika berjalan di Red Hat Enterprise Linux.
Red Hat juga telah mengakuisisi Neural Magic, salah satu penyedia vLLM (virtual LLM) terbesar di pasar. “Dengan vLLM, cost per GPU menjadi lebih efisien,” tambah Vony Tjiu.
Distribusi vLLM enterprise dari Red Hat menghadirkan interaksi AI yang lebih cepat dan berkinerja tinggi.
Kemampuan baru telah ditambahkan ke Red Hat OpenShift AI dan Red Hat Enterprise Linux AI. Hal ini memenuhi kebutuhan perusahaan akan skalabilitas, efisiensi, dan fleksibilitas untuk menjalankan AI di mana pun data berada. Red Hat Enterprise Linux AI cocok untuk tuning model dan inferensi di lingkungan server Linux individu.
Sementara itu, Red Hat OpenShift AI didesain untuk lingkungan berbasis Kubernetes terdistribusi. OpenShift AI dilengkapi dengan kapabilitas MLOps yang terintegrasi. Red Hat Enterprise Linux AI dioptimalkan untuk berjalan di atas GPU, membuat proses inference server lebih cepat dan murah bagi pengguna GPU.
OpenShift AI memudahkan tim IT, baik dari sisi data maupun aplikasi, untuk bekerja dalam platform yang sama. Ini membantu standarisasi, tata kelola, dan keamanan siklus hidup aplikasi AI.
Vony Tjiu menyoroti bahwa keseluruhan siklus hidup aplikasi dengan AI dapat dimonitor dengan baik, mulai dari tuning model hingga peluncuran ke produksi.
Fokus utama Red Hat adalah mendukung berbagai akselerator hardware, OEM, dan penyedia cloud. Tujuannya adalah menciptakan platform yang stabil, optimal, dan berkinerja tinggi di seluruh infrastruktur.
Red Hat juga memperkenalkan Red Hat Enterprise Linux 10 yang mengintegrasikan container, AI, dan keamanan generasi berikutnya.
Sistem operasi ini hadir untuk menjawab tantangan keterbatasan sumber daya melalui standarisasi dan stabilitas. Hal ini memungkinkan pelanggan menekan biaya dan meringankan beban di ekosistem Red Hat.
Tantangan lain yang dihadapi adalah akselerasi adopsi cloud dan ancaman keamanan yang terus berkembang, termasuk dari komputasi kuantum.
Red Hat Enterprise Linux 10 membawa fitur mutakhir untuk memastikan Red Hat tetap di garis terdepan inovasi AI, khususnya Generative AI. Red Hat juga memperkuat sejarah panjangnya dalam teknologi virtualisasi.
Mulai tahun ini, fokus pasar bergeser ke migrasi platform, yang dijawab Red Hat melalui solusi OpenShift Virtualization Engine.
OpenShift Virtualization Engine berkembang berdasarkan masukan dari pelanggan platform lain. Red Hat melihat momentum peningkatan adopsi platform OpenShift. Solusi ini menjawab kebutuhan pelanggan untuk memodernisasi beban kerja virtualisasi mereka.
Keamanan, Pelatihan, dan Kolaborasi
Keamanan menjadi aspek krusial dalam implementasi AI dan hybrid cloud. “Di Red Hat, enterprise open source kami sudah embedded security di setiap layer,” kata Vony Tjiu.
Solusi ini terintegrasi baik dengan cloud, OEM, maupun akselerator, dan sudah memiliki sertifikasi yang diperlukan.
Untuk keamanan data, Red Hat menyediakan guardrail security bagi pelanggan yang menjalankan data di data center mereka.
Vony Tjiu juga menekankan bahwa open source sebenarnya lebih aman karena adanya “kekuatan komunitas”. Komunitas open source menjadi yang pertama mendapatkan pembaruan dan informasi terbaru.
Red Hat menawarkan enterprise open source yang dilengkapi dengan keamanan bawaan. “Kami selalu menyediakan updated patches kepada pelanggan,” terang Vony Tjiu. Hal ini menjelaskan mengapa pelanggan perlu sering memperbarui versi.
Meskipun open source bergerak cepat, Red Hat juga menyediakan extended life cycle untuk pelanggan yang kesulitan memperbarui versi.
Terkait keamanan, Red Hat memiliki solusi otomatisasi Red Hat Ansible Automation Platform. Ansible dapat bekerja dengan berbagai tools IT, menjembatani komunikasi antar sistem.
Red Hat juga memastikan kode dan sumber aplikasi aman melalui Red Hat Developer Hub dan Trusted Supply Chain.
Untuk sistem operasi dan container, Red Hat telah memenuhi standar NIST. Red Hat Enterprise Linux 10 bahkan melampaui standar kriptografi saat ini, mendukung post-quantum cryptography yang resisten terhadap komputasi kuantum.
Red Hat Insight berfungsi sebagai remediation tools, memonitor dan memberikan informasi pembaruan keamanan yang diperlukan.
Untuk akses pengguna, Red Hat menyediakan solusi manajemen identitas dan single sign-on, serta mendukung multi-factor authentication. Vony Tjiu juga menyoroti pentingnya edukasi dan kesadaran manusia dalam keamanan siber.
“Teknologi boleh canggih, tapi people dan culture-nya juga harus mature,” tegas Vony Tjiu. Red Hat turut mendukung implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) di Indonesia. Red Hat juga membantu migrasi virtualisasi melalui penilaian mendalam.
Tim Red Hat akan membantu pelanggan menilai aplikasi dan beban kerja mereka untuk migrasi ke Red Hat OpenShift Virtualization.
Red Hat memiliki tools dan standar hardware khusus yang bersertifikasi untuk menjalankan OpenShift Virtualization Engine. Sejauh ini, migrasi dari teknologi virtualisasi sebelumnya ke Red Hat berjalan lancar.
Red Hat telah hadir di berbagai industri, termasuk perbankan, dengan contoh kolaborasi bersama BNI, Mandiri, dan BRI.
Perusahaan ini berkontribusi sebagai “salah satu ingredient utama” dalam inovasi digital. Mengenai potensi penyalahgunaan Agentic AI, Red Hat berkomitmen memberikan edukasi tentang penggunaan yang benar.
AI Inference Server adalah software hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk Red Hat yang mengakuisisi Neural Magic.
Ini adalah proyek komunitas yang didukung oleh berbagai perusahaan dan universitas. AI Inference Server dapat digunakan oleh penyedia cloud mana pun.
Ini hanya software yang dapat berjalan di berbagai sistem operasi dan Kubernetes. Dukungan penuh dari Red Hat akan didapatkan jika berjalan di Red Hat OpenShift AI. Red Hat mendukung platform untuk menjalankan model AI, namun bukan model AI-nya secara langsung.
Keberhasilan proyek AI sangat ditentukan oleh inference server. “AI Inference Server akan membuat cost per GPU-nya menjadi lebih murah,” tutup Vony Tjiu.
SF-Admin


