markettrack.id – Perayaan Hari Tari Sedunia oleh Bakti Budaya Djarum Foundation tidak berhenti pada peluncuran video Tari Kreasi Nusantara.
Melalui Galeri Indonesia Kaya, perayaan ini berlanjut sepanjang bulan Mei dengan menghadirkan berbagai pertunjukan tari dari sanggar seni dan komunitas di Indonesia.
Salah satu karya yang hadir dalam rangkaian tersebut adalah Tari Obah Gerabah dari Sanggar Seni Lemah Urip.
Pertunjukan ini mengangkat kisah kehidupan para pengrajin gerabah melalui perpaduan tari, musik, dan eksplorasi artistik berbasis budaya lokal.
Melalui rangkaian pertunjukan sepanjang Mei di Galeri Indonesia Kaya, penyelenggara ingin menghadirkan ruang apresiasi bagi ragam tari dan komunitas seni yang terus menjaga tradisi di tengah masyarakat.
Menghadirkan Tari Obah Gerabah menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap pelaku budaya yang menjaga tradisi melalui karya seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam pementasannya, Tari Obah Gerabah mengajak penonton menyelami kehidupan sederhana para pengrajin gerabah yang hidup berdampingan dengan alam, menjunjung semangat gotong royong, serta menjaga tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Gerabah dalam pertunjukan ini tidak hanya hadir sebagai elemen artistik, tetapi juga menjadi simbol kerja kolektif, ketekunan, dan sumber penghidupan masyarakat.
Bagi masyarakat di sekitar Borobudur, gerabah bukan sekadar kerajinan tradisional, tetapi juga menjadi mata pencaharian utama untuk menyambung hidup keluarga.
Di balik setiap gerabah yang dihasilkan, terdapat proses panjang yang dikerjakan secara turun-temurun, mulai dari pengolahan tanah, pembentukan, hingga pembakaran.
Melalui Tari Obah Gerabah, Sanggar Seni Lemah Urip menghadirkan refleksi tentang perjuangan para pengrajin dalam mempertahankan tradisi.
Mereka berjuang menjaga gerabah tetap relevan sebagai sumber penghidupan di tengah perubahan zaman.
Terkait teknis pertunjukan, karya ini dibawakan oleh penari anak dan dewasa dengan melibatkan 13 penampil di atas panggung, termasuk penari dan pemusik.
Dengan iringan musik yang memanfaatkan bunyi-bunyian dari gerabah, karya ini menghadirkan pengalaman pertunjukan yang kaya akan nuansa tradisional sekaligus memperlihatkan kreativitas dalam mengolah unsur budaya.
Menariknya lagi, penonton juga diajak memainkan alat musik gerabah. Penonton dapat merasakan emosi serta energi penari yang tercurah melalui dentik dan ritme yang dihasilkan musik gerabah.
Karya tari berdurasi sekitar 60 menit ini dikoreografikan oleh Derra Kartika. Pementasannya memadukan unsur tari tradisional dengan eksplorasi teatrikal melalui penggunaan properti gerabah, tata musik, serta kostum yang terinspirasi dari keseharian masyarakat pengrajin.
Melalui karya ini, koreografer ingin menunjukkan bahwa gerabah bukan sekadar benda kerajinan, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat yang menjadi sumber penghidupan keluarga secara turun-temurun.
Pertunjukan ini diharapkan dapat membuat masyarakat lebih mengenal perjuangan para pengrajin sekaligus memahami pentingnya menjaga tradisi agar tetap hidup dan relevan.
Mengenal profilnya, Sanggar Seni Lemah Urip sendiri merupakan komunitas seni yang berfokus pada pendidikan non-formal bagi masyarakat, khususnya anak-anak.
Berbasis di Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, sanggar ini memberikan kegiatan pendidikan yang dijalankan secara gratis dalam tiga kelas utama, yakni Sekolah Gerabah, Kelas Tari Gerabah, dan Kelas Musik Gamelan.
Melalui pendekatan tersebut, Sanggar Seni Lemah Urip tidak hanya menjadi ruang belajar seni, tetapi juga ruang pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat.
Sanggar ini ingin menciptakan ruang belajar yang dekat dengan kehidupan masyarakat di mana gerabah, tari, dan gamelan menjadi bagian dari identitas warga.
Komitmen Sanggar Seni Lemah Urip dalam pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat juga tercermin melalui keterlibatan mereka dalam berbagai program berbasis komunitas di kawasan Borobudur.
Sanggar ini turut menjadi bagian dari jejaring budaya UNESCO Borobudur Youth Engage, serta aktif berpartisipasi pada Festival Lampion Waisak Nasional 2025 dan Festival Gerabah tahun 2019 hingga 2025.
Sebagai informasi tambahan, Tari Obah Gerabah menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan tari yang dihadirkan Galeri Indonesia Kaya sepanjang Mei 2026 dalam rangka merayakan Hari Tari Sedunia.
Sebelumnya, Galeri Indonesia Kaya telah menghadirkan pertunjukan Penari Petani, Lintas Generasi Tari Topeng Losari, dan Galodo.
Selanjutnya, rangkaian perayaan akan masih akan berlanjut melalui pertunjukan Tamasya di Medan Terliar oleh DRKR Kolektif pada 30 Mei 2026 mendatang.
Kedepannya, Galeri Indonesia Kaya akan terus menghadirkan beragam pertunjukan seni setiap akhir pekan dengan informasi lebih lanjut yang dapat diakses melalui situs resmi mereka.
SF-Admin


