markettrack.id – Mastercard dan CrescentRating merilis edisi ke-11 Global Muslim Travel Index 2026 (GMTI 2026). Laporan ini menyoroti peran kecerdasan buatan (AI), kepercayaan digital, mobilitas regional, dan kesiapan destinasi dalam membentuk fase berikutnya dari perjalanan ramah Muslim.
Laporan tersebut mencatat bahwa 80 persen wisatawan kini menggunakan alat berbasis kecerdasan buatan untuk keperluan perjalanan.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan besar dalam cara mereka mencari informasi, menilai pilihan, dan merencanakan perjalanan.
Seiring pergeseran dari pencarian manual ke pengambilan keputusan berbasis AI, destinasi perlu memastikan layanan yang ramah Muslim mudah ditemukan secara digital.
Indonesia terus berkembang sebagai destinasi multikultural terdepan dengan memadukan pengalaman spiritual yang kaya, pesona alam yang memukau, dan teknologi smart tourism generasi baru.
Didukung berbagai inisiatif pemangku kepentingan serta upaya komunitas berbasis digital, destinasi ini juga telah meningkatkan sektor wisata halalnya secara signifikan.
Melalui pendekatan berbasis teknologi ini, Indonesia memadukan kebutuhan perjalanan berbasis nilai keislaman dengan beragam penawaran rekreasi yang menarik.
Selanjutnya, GMTI 2026 mengevaluasi 150 destinasi yang mewakili lebih dari 98 persen kedatangan wisatawan Muslim global.
Evaluasi tersebut didasarkan pada kerangka ACES yang terdiri dari Access (Akses), Communications (Komunikasi), Environment (Lingkungan), dan Services (Layanan).
Edisi terbaru ini juga memperkenalkan fokus yang lebih kuat pada kesiapan teknologi AI, visibilitas digital, infrastruktur destinasi pintar, serta kepercayaan wisatawan.
Perencanaan perjalanan kini memasuki era baru, di mana perangkat digital tidak lagi sekadar hadir untuk memudahkan, melainkan menjadi bagian dari sumber tepercaya bagi wisatawan.
Platform berbasis AI kini dapat membantu wisatawan untuk mengidentifikasi pilihan tempat makan halal hingga membandingkan rute transportasi.
Perubahan ini sangat penting bagi wisatawan Muslim yang kerap perlu memastikan sejumlah kebutuhan berbasis nilai keislaman sebelum dan selama perjalanan.
GMTI 2026 menyoroti bahwa destinasi yang tidak mendigitalisasi penawaran ramah Muslim berpotensi luput dari sistem rekomendasi berbasis AI. Beruntung, Indonesia merupakan salah satu negara yang merespons perkembangan tersebut dengan cepat.
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia secara resmi memperkenalkan Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA).
Teknologi ini merupakan asisten digital berbasis AI yang berguna untuk membantu wisatawan menyusun itinerary perjalanan secara personal.
Melalui integrasi AI ke dalam platform pariwisata resmi, Indonesia memperkuat kendali atas kualitas informasi. Dalam lanskap baru ini, persaingan bergeser dari sekadar ketersediaan layanan menjadi visibilitas algoritmik.
Mengenai fenomena tersebut, Senior Vice President, Customer Solutions Center, Asia Tenggara, Mastercard, Aisha Islam, menyatakan bahwa perjalanan wisata Muslim kini mengalami pergeseran yang ditopang oleh kepercayaan digital.
Ketika AI semakin terintegrasi dengan perencanaan perjalanan, destinasi dan pelaku bisnis perlu memastikan sistem pembayaran yang aman serta layanan ramah Muslim semakin mudah ditemukan.
Bagi Asia Tenggara, hal ini menjadi peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai koridor perjalanan yang terhubung, inklusif, dan didukung teknologi digital.
Di sisi lain, kenaikan biaya bahan bakar, ketegangan geopolitik, dan gangguan airspace mendorong lebih banyak wisatawan memilih destinasi yang lebih dekat serta aman.
GMTI 2026 mengidentifikasi pergeseran ini sebagai mobilitas “satu benua”, di mana wisatawan menyesuaikan rencana perjalanan alih-alih membatalkannya.
Banyak wisatawan kini memilih tujuan regional yang menawarkan stabilitas lebih tinggi, hambatan lebih rendah, dan tingkat kepercayaan yang lebih kuat.
Bagi wisatawan Muslim Asia, Asia Tenggara muncul sebagai koridor operasional utama untuk tahun 2026. Momentum ini juga tercermin dalam GMTI Awards 2026, ketika Mindanao di Filipina dinobatkan sebagai Most Promising Muslim-friendly Region (Non-OIC).
Sementara itu, Jawa Barat di Indonesia mendapat sorotan sebagai Most Promising Muslim-friendly Region (OIC). Pencapaian ini menegaskan makin kuatnya kedalaman potensi kawasan Asia Tenggara di luar pusat-pusat destinasi tradisional.
Seiring perjalanan intra-ASEAN terus meningkat, destinasi-destinasi regional memiliki peluang untuk memenuhi preferensi wisatawan.
Asia tetap menjadi pusat perjalanan wisata Muslim yang didatangi hampir 128… juta wisatawan Muslim dengan penetrasi pasar sebesar 20,8 persen.
Dalam peringkat global, Malaysia mempertahankan posisinya sebagai Top Muslim-friendly Destination of the Year untuk kesebelas kalinya secara berturut-turut dengan skor 83. Kabar baiknya, Indonesia naik tiga peringkat ke posisi kedua bersama Türkiye dan Arab Saudi dengan skor masing-masing 79.
Di antara destinasi non-OIC, Singapura tetap menempati posisi pertama dan berada di peringkat ke-11 secara global dengan skor 73. Hong Kong naik ke posisi kedua di antara destinasi non-OIC, sementara Taiwan dan Britania Raya berbagi posisi ketiga.
Destinasi lain seperti Thailand, Filipina, Jepang, dan Korea Selatan juga menunjukkan perkembangan positif. Laporan tersebut turut menyoroti meningkatnya destinasi yang semakin terdigitalisasi dengan teknologi seperti e-visa hingga chatbot berbasis AI.
Sebagai langkah strategis, GMTI 2026 memperkenalkan Destination Activation Stack yang mengintegrasikan kerangka ACES, RIDA, dan TRUST.
Kerangka-kerangka ini mencerminkan bagaimana pariwisata ramah Muslim terus berevolusi melampaui ketersediaan layanan dasar.
Terkait model baru tersebut, CEO CrescentRating & HalalTrip, Fazal Bahardeen, menjelaskan bahwa perubahan destinasi untuk menjadi agile semakin penting di tengah volatilitas global.
Hal ini menuntut adanya pergeseran struktural dari kesiapan destinasi yang bersifat pasif menuju aktivasi destinasi yang lebih aktif.
SF-Admin

