markettrack.id – Saat ini, para pemimpin bisnis G20 tetap khawatir terhadap dampak perlambatan ekonomi dan inflasi dalam jangka pendek.
Risiko terkait layanan publik yang tidak memadai dan kesenjangan perlindungan sosial, kurangnya kesempatan ekonomi, serta misinformasi dan disinformasi kini juga dianggap sebagai ancaman besar.
Temuan ini berasal dari Executive Opinion Survey 2025 yang dilakukan oleh World Economic Forum dan dirilis hari ini bersama mitra strategisnya – Zurich Insurance Group (Zurich) dan Marsh McLennan (NYSE: MMC), penyedia jasa profesional di bidang risiko, strategi, dan Sumber Daya Manusia (SDM).
Alison Martin, CEO EMEA & Bank Distribution, Zurich mengatakan, “Survei tahun ini menegaskan: isu seperti pensiun dan kesehatan masyarakat bukan lagi sekadar urusan pemerintah – melainkan sudah menjadi prioritas ruang rapat direksi.”
Ia menambahkan, “Fakta yang mengkhawatirkan, di Eropa saat ini terdapat kurang dari tiga orang usia produktif untuk menanggung setiap pensiunan dan lebih dari sepertiga warga Uni Eropa tidak menabung cukup untuk masa pension.”
“Kesenjangan ini mengancam kesejahteraan tenaga kerja dan stabilitas sosial secara luas. Saatnya bertindak sekarang. Dengan bersinergi lintas sektor, kita dapat membantu masyarakat membangun ketahanan finansial dan masa depan yang lebih cerah,” lanjut Alison
Survei tahunan ini mengungkap lima risiko terbesar dalam dua tahun ke depan yang diidentifikasi oleh lebih dari 11.000 pemimpin bisnis dari 116 negara.
Kekhawatiran terkait perlambatan ekonomi tetap mendominasi perhatian para pemimpin bisnis G20 – menempati posisi teratas secara keseluruhan untuk tahun ketiga berturut-turut – dan menjadi risiko utama di enam negara G20, termasuk Inggris dan Amerika Serikat.
Untuk pertama kalinya, ancaman teknologi yang terkait dengan misinformasi dan disinformasi masuk ke daftar lima risiko teratas bagi pemimpin bisnis G20, berada di posisi kelima.
Hal ini kemungkinan mencerminkan kekhawatiran bahwa kemajuan teknologi AI memicu perang informasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, memengaruhi pemilu dan pasar global, serta mengancam infrastruktur penting dan keamanan siber.
Risiko sosial yang berkaitan dengan layanan publik dan perlindungan sosial yang tidak memadai, serta kurangnya kesempatan ekonomi atau pengangguran, menempati posisi kedua dan ketiga, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap fragmentasi sosial. Inflasi, yang tahun 2024 disebut sebagai risiko ketiga paling mendesak, kini berada di posisi keempat.
Peristiwa cuaca ekstrem, yang sebelumnya berada di posisi kelima pada tahun 2024, tidak masuk dalam lima besar tahun ini. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana polarisasi sosial dan politik memengaruhi tingkat penerimaan terhadap isu perubahan iklim saat ini.
SF-Admin

