markettrack.id – Memperkuat komitmennya terhadap pengembangan industri pangan nasional, Châteraisé Co., Ltd., perusahaan patisserie global asal Jepang dengan jaringan lebih dari 1.000 toko di berbagai negara, resmi memulai pembangunan pabrik keduanya di Indonesia.
Sejak menjalin kemitraan strategis dengan Châteraisé Co., Ltd Jepang pada tahun 2016, Gobel Group menghadirkan Châteraisé Indonesia sebagai anak perusahaan yang membuka gerai pertamanya pada tahun 2017 dan terus mencatat pertumbuhan signifikan dengan ekspansi lebih dari 60 toko ritel.
Pada tahun 2022, Châteraisé Indonesia juga telah membangun dan mulai mengoperasikan pabrik pertamanya di Indonesia sebagai langkah awal penguatan produksi dalam negeri.
Melanjutkan komitmen tersebut, pembangunan pabrik kedua ini diharapkan dapat semakin mengintegrasikan sektor pertanian lokal dengan manufaktur modern, sekaligus mendorong penciptaan nilai tambah yang berkelanjutan bagi ekosistem industri nasional.
Momentum ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menarik investasi berkualitas yang memberikan dampak langsung bagi industri domestik.
Pada Februari 2025, Menteri Investasi/Kepala BKPM yang juga CEO Danantara, Rosan Roeslani, melakukan pertemuan dengan CEO Châteraisé Holdings Co. Ltd, Japan, Takako Saito, yang membahas rencana ekspansi perusahaan di Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, disampaikan komitmen pembangunan pabrik kedua di Bekasi, sekaligus rencana optimalisasi penggunaan bahan baku lokal seperti kakao dan ubi sebagai bagian dari penguatan industri halal nasional dan peningkatan nilai tambah domestik.
Adapun nilai total investasi pembangunan pabrik ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1,4 triliun, yang mencerminkan komitmen jangka panjang dalam pengembangan industri di Indonesia.
Lebih dari sekadar ekspansi bisnis, pembangunan fasilitas ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas produksi dalam negeri sekaligus memperdalam integrasi antara sektor pertanian dan industri pengolahan pangan.
Melalui pendekatan farm to factory, pabrik ini akan memanfaatkan bahan baku lokal sebagai bagian utama dalam proses produksi, sehingga menciptakan rantai nilai yang lebih kuat dari hulu hingga hilir.
Pendekatan ini menegaskan bahwa penguatan industri pangan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi pada kemampuan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Pabrik kedua ini juga dirancang untuk meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan, termasuk peningkatan kapasitas produk unggulan seperti custard puff hingga 10 kali lipat dibandingkan fasilitas sebelumnya, sebagai respons terhadap pertumbuhan permintaan pasar di Indonesia.
“Pembangunan pabrik kedua ini mencerminkan komitmen jangka panjang kami di Indonesia. Melalui pendekatan farm to factory, kami ingin menciptakan nilai tambah dari bahan baku lokal sekaligus berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja. Kami percaya kolaborasi dengan Gobel Group akan terus memberikan dampak positif.” ujar Takako Saito, selaku CEO Châteraisé Holdings Co., Ltd, Japan.
Memperkuat Rantai Nilai, Mendorong Dampak Ekonomi, dan Meningkatkan Daya Saing Industri
Dengan sektor pertanian yang menyerap lebih dari 25% tenaga kerja Indonesia, pendekatan farm to factory membuka peluang peningkatan nilai ekonomi yang lebih luas melalui akses pasar yang lebih stabil serta keterhubungan langsung dengan rantai industri. Hal ini memperkuat peran industri sebagai penggerak nilai tambah, bukan sekadar penyalur komoditas.
Lebih dari itu, pembangunan pabrik ini juga membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru, dengan proyeksi penyerapan sekitar 200 tenaga kerja, baik secara langsung di sektor manufaktur maupun secara tidak langsung di seluruh rantai pasok, termasuk di sektor pertanian, logistik, distribusi, hingga ritel.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025 jumlah penduduk bekerja di Indonesia mencapai sekitar 145 juta orang, dengan sektor industri pengolahan menyerap sekitar 13% tenaga kerja nasional.
Hal ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja produktif, sehingga investasi seperti ini menjadi semakin relevan dalam memperkuat struktur ketenagakerjaan nasional.
Di tengah disrupsi rantai pasok global pasca pandemi dan dinamika geopolitik, penguatan rantai pasok domestik menjadi semakin krusial, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional berbasis produksi dan pengolahan di dalam negeri, serta menciptakan peluang kerja yang lebih luas dan berkelanjutan di berbagai sektor terkait.
Sebagai salah satu sektor manufaktur terbesar dengan kontribusi sekitar 6–7% terhadap PDB nasional, industri makanan dan minuman memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, pembangunan pabrik ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor tersebut, sekaligus mendorong transformasi ekonomi Indonesia dari berbasis konsumsi menuju produksi bernilai tambah.
Dengan demikian, penguatan sektor ini menjadi kunci dalam mendorong transformasi ekonomi Indonesia menuju industri berbasis nilai tambah.
Rangkaian acara groundbreaking juga menghadirkan sesi product tasting yang memberikan kesempatan bagi para tamu undangan untuk mengenal kualitas dan karakteristik produk Châteraisé.
Sesi ini tidak hanya menampilkan produk berbahan baku lokal Indonesia yang diolah dengan standar kualitas Jepang, tetapi juga menghadirkan produk Châteraisé dari Jepang yang menggunakan cokelat berbahan kakao asal Sulawesi termasuk Gorontalo & Kolaka komoditas Indonesia yang telah diekspor dan menjadi bagian dari rantai pasok global Châteraisé.
Mendorong Daya Saing Global melalui Teknologi, Standar Internasional, dan Kemitraan Jangka Panjang
Selain dampak ekonomi, fasilitas ini juga dirancang untuk memperkuat penerapan praktik produksi yang sesuai dengan standar halal, sekaligus mendukung peran Indonesia sebagai pusat produksi makanan halal yang berdaya saing global serta basis manufaktur untuk pasar domestik maupun ekspor.
Lebih lanjut, pembangunan fasilitas ini juga diharapkan menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan kualitas industri melalui transfer teknologi, pengembangan kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan standar produksi berkelas internasional.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa peningkatan daya saing industri tidak terlepas dari kemampuan mengintegrasikan nilai tambah domestik dengan standar global.
Fasilitas ini juga akan didukung oleh penggunaan teknologi produksi modern, termasuk sistem tunnel oven yang memungkinkan peningkatan kapasitas produksi sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk.
Penggunaan teknologi ini mencerminkan penguatan kapabilitas manufaktur dalam negeri untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan skala produksi yang lebih efisien.
Kolaborasi dengan Châteraisé menghadirkan standar manufaktur Jepang yang dikenal dengan kualitas dan efisiensi tinggi, sehingga tidak hanya mendorong transformasi industri pangan berbasis nilai tambah domestik, tetapi juga meningkatkan daya saing industri makanan dan minuman Indonesia di tingkat regional maupun global.
Lebih dari itu, kerja sama ini mencerminkan kemitraan industri Indonesia–Jepang yang telah terbangun selama lebih dari enam dekade, dengan karakter yang menekankan kualitas, keberlanjutan, serta perspektif jangka panjang dalam pengembangan industri.
Momentum ini juga sejalan dengan perjalanan 70 tahun Gobel Group dalam membangun industri nasional serta memperkuat kolaborasi lintas generasi antara Indonesia dan Jepang, yang terus berkembang sebagai fondasi penting dalam mendorong daya saing industri Indonesia di tingkat global.
“Groundbreaking ini bukan hanya pembangunan pabrik, tetapi bagian dari upaya memperkuat industri pangan Indonesia melalui penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Kami ingin memastikan bahwa sumber daya Indonesia tidak hanya menjadi bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi yang memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Selama 70 tahun, Gobel Group berkomitmen membangun kemitraan industri Indonesia–Jepang yang berkelanjutan, dan kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari komitmen tersebut.” ujar Dr. (H.C.) Rachmat Gobel, Chairman Gobel Group.
Acara groundbreaking ini turut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan strategis dari Indonesia dan Jepang, termasuk perwakilan Châteraisé Co., Ltd. (Japan), Gobel Group, serta Chargé d’Affaires ad interim Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.
Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh mitra industri dan institusi strategis seperti SMBC Indonesia, Japan International Cooperation Agency (JICA), Japan External Trade Organization (JETRO), serta perwakilan sektor industri dan pemangku kepentingan lainnya.
Kehadiran para pemangku kepentingan ini mencerminkan kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pengembangan industri manufaktur pangan di Indonesia, sekaligus mempertegas peran kemitraan Indonesia–Jepang dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Inisiatif ini sekaligus menegaskan arah pembangunan industri Indonesia yang semakin berfokus pada penciptaan nilai tambah, penguatan rantai pasok domestik, dan peningkatan daya saing global.
SF-Admin


