Asti Putri, Lead Research, Co-founder ID COMM, Riset ID COMM

    markettrack.id – Di balik setiap keputusan besar—baik di dunia bisnis, kebijakan publik, maupun strategi komunikasi—selalu ada satu hal yang sering tidak terlihat: riset.

    Riset merupakan fondasi dari setiap studi yang berkualitas. Ia adalah proses sistematis untuk menjawab pertanyaan secara terukur dan biasanya dimulai dari rasa ingin tahu atau keraguan terhadap suatu fenomena, atau kebutuhan untuk memastikan sesuatu secara objektif.

    Dari situ, pertanyaan dirumuskan secara lebih terstruktur, lalu ditentukan metode yang tepat untuk menjawabnya. Umumnya riset memiliki dua pendekatan utama.

    Metode kuantitatif digunakan untuk mengukur dan menguji sesuatu melalui data angka dan statistik. Sementara metode kualitatif membantu menggali persepsi, pengalaman, dan dinamika yang tidak selalu bisa diterjemahkan dalam angka.

    Dalam praktiknya, keduanya sering dikombinasikan agar menghasilkan pemahaman yang lebih utuh.

    Dalam tajuk “Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap?”, saat menjadi dosen tamu dalam sesi kuliah di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong beberapa waktu lalu.

    Riset dimulai karena ada sesuatu yang belum pasti. Ada hal yang perlu dicek dengan data, bukan hanya asumsi

    Dalam mempersiapkan Riset ID COMM misalnya, pertanyaannya tidak hanya soal tren penjualan.

    Kesiapan Industri

    Apakah industri siap? Banyak produsen datang ke Indonesia. Apakah mereka membangun pabrik di sini atau hanya menjual produk? Bagaimana kesiapan rantai pasok, termasuk produksi spare part kecil?

    Kebijakan Pemerintah

    Apakah regulasinya sinkron dari hulu ke hilir? Apakah ada insentif? Apakah kebijakan mendukung investasi dan perkembangan industri?

    Konsumen

    Perubahan perilaku konsumen luar biasa. Dulu mobil penuh tombol, sekarang hampir semua fitur ada di satu layar.

    Dulu menyalakan mobil dengan kunci, sekarang bisa dengan sistem digital. Tidak semua orang siap dengan perubahan ini. Ada yang membeli, tetapi belum tentu siap menggunakan atau sebaliknya.

    Infrastruktur

    Bagaimana dengan pengisian daya listriknya? Apakah infrastruktur seperti home charging sudah tersedia? Bagaimana dengan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di mal atau kantor? Apakah mudah digunakan? Apakah sistem pembayarannya praktis?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti melakukan :

    • Literature review (menelaah regulasi dan kebijakan satu per satu untuk melihat arah kebijakan pemerintah)
    • In-depth interview dengan pelaku industri, konsumen (yang sudah membeli maupun yang berencana membeli), media, dan komunitas
    • Focus Group Discussion (FGD) untuk melihat dinamika persepsi antar-stakeholder
    • Observasi lapangan (mengamati langsung perilaku pengguna di SPKLU)
    • Social listening (memantau percakapan publik melalui social listening di media sosial)

    Memahami proses ini penting agar tidak melihat riset sebagai sekadar kumpulan angka atau laporan tebal.

    Tantangannya bukan hanya mengumpulkan data, tetapi bagaimana membuat data itu berbunyi dan menghasilkan insight yang relevan. Yang pasti, metode kuantitatif maupun kualitatif itu sama kuatnya, sama-sama powerful.

    Sebagai peneliti, yang penting adalah kejernihan dalam membaca informasi. Informasi apa pun, jika dianalisis dengan baik, bisa menjadi data yang bermakna. Karena pada akhirnya, keputusan yang baik lahir dari pemahaman yang berbasis bukti.

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply