markettrack.id – Ekonomi hijau Asia Tenggara telah mencapai angka $290 miliar dan berada di jalur yang tepat untuk mencapai $430 milar pada tahun 2030.
Namun, kesenjangan realisasi yang melebihi 35% telah terjadi antara belanja modal hijau yang diumumkan dan yang diterapkan di seluruh kawasan ini.
Terkait hal tersebut, Laporan Ekonomi Hijau Asia Tenggara 2026: Kalkulus Baru yang diterbitkan hari ini oleh Bain & Company dan Standard Chartered, menemukan bahwa penyebaran modal tidak lagi hanya dipandu oleh ambisi iklim semata.
Keamanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan penyediaan energi kini memiliki bobot yang sama dalam perhitungan yang menentukan aliran investasi.
Akibatnya, aliran modal mengalir secara signifikan ke sektor di mana permintaan komersial, kebijakan, dan infrastruktur selaras.
Dari sekitar $540 miliar belanja modal hijau yang diumumkan hingga 2030, hanya sekitar $315 miliar yang berada di jalur kredibel untuk disalurkan.
Oleh karena itu, Asia Tenggara kini memiliki waktu 24 hingga 36 bulan untuk mendapatkan jawaban yang tepat. Apalagi, ada tambahan $80 miliar dalam belanja modal hijau yang saat ini sedang dipertaruhkan.
Di sisi lain, sekitar 80% dari modal tahunan antara 2021 dan 2025 dialokasikan ke sektor energi, jaringan, dan kendaraan listrik.
Bahkan, adopsi kendaraan listrik di kawasan ini telah berjalan 1,5 hingga 2 kali lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Namun, sekitar 50-60% proyek energi terbarukan di Vietnam, Thailand, dan Indonesia telah dibatalkan karena kendala sistemik. Tingkat pembatalan investasi nikel dan baterai pun ikut mencapai angka 40-50% akibat masalah konversi.
Kondisi ini terjadi karena kematangan jaringan listrik menjadi mata rantai yang hilang untuk penerapan belanja modal hijau. Investasi dalam transmisi dan distribusi justru turun 3% antara tahun 2015 dan 2025.
Padahal, permintaan listrik baru dari pusat data, kendaraan listrik, dan klaster industri hijau dapat menjadi katalis penting.
Selama tiga hingga empat tahun ke depan, kawasan ini diproyeksikan menyerap lebih dari 100 Terawatt-jam permintaan energi baru.
Sayangnya, sebanyak 90% operator pusat data menyebutkan penundaan koneksi jaringan sebagai kendala utama investasi mereka.
Akibatnya, banyak operator terpaksa menerima pasokan gas atau termal sementara daripada menunggu energi bersih mengejar ketertinggalan.
Tantangan berikutnya yang tidak kalah besar bagi Asia Tenggara adalah masalah penangkapan nilai ekonomi.
Meski empat negara ASEAN masuk 15 pasar EV global, nyatanya 70% nilai EV roda empat mengalir ke luar wilayah.
Ditambah lagi, Asia Tenggara saat ini hanya menangkap kurang dari 2% produksi EV dan baterai global. Kawasan ini pun berisiko hanya menjadi konsumen bervolume tinggi dan perakit dengan margin rendah.
Untungnya, menutup kesenjangan penyebaran belanja modal ini dapat membuka tambahan $80 miliar pada tahun 2030.
Langkah ini membutuhkan percepatan penyelarasan ekosistem agar modal katalis tersebut dapat berkembang dengan baik.
SF-Admin


