markettrack.id – Indonesia, dengan ekonomi digital yang masif dan jumlah pengguna internet yang terus bertambah, menawarkan potensi pasar yang sangat besar bagi layanan SEON.

    Transformasi digital yang cepat di berbagai sektor—dari perbankan, e-commerce, hingga fintech—secara otomatis meningkatkan risiko penipuan digital, menciptakan kebutuhan besar akan solusi pencegahan penipuan yang canggih dan efisien.

    Indonesia merupakan salah satu pasar kunci di Asia Tenggara dengan pertumbuhan transaksi digital yang signifikan. Lonjakan upaya penipuan global sebesar 80% sejak pandemi juga terjadi di Indonesia.

    Perusahaan di sini menghadapi tantangan serupa dalam membedakan pelanggan asli dari penipu, sambil tetap memastikan pengalaman pengguna yang lancar.

    SEON telah menjalin diskusi dan kerja sama dengan berbagai perusahaan di Indonesia, aktif menjajaki kemitraan di sektor keuangan, pembayaran, e-commerce, dan fintech yang berkembang pesat.

    Optimisme mereka didasari keyakinan bahwa solusi pencegahan penipuan otonom berbasis AI dapat memberikan nilai tambah signifikan bagi bisnis Indonesia dalam melindungi pendapatan dan reputasi mereka.

    Beberapa alasan menjadikan Indonesia sangat menarik bagi SEON:

    • Investasi Modal Besar: Banyak pihak membangun teknologi digital, menciptakan calon pelanggan potensial di berbagai sektor.
    • Pusat Keunggulan Karyawan: SEON telah menjadikan Indonesia sebagai pusat keunggulan untuk karyawannya, merekrut konsultan penipuan, staf dukungan pelanggan, dan tim penjualan lokal untuk melayani pasar Indonesia dan bahkan regional.
    • Populasi Mobile-First: Sekitar 90% masyarakat Indonesia, terutama di bawah usia 40 tahun, melakukan sebagian besar transaksi keuangan mereka melalui perangkat seluler. Tingginya adopsi mobile-first ini, dibandingkan negara-negara maju di Eropa Barat, menjadikan Indonesia target unik bagi para penipu.
    • Tingkat Penipuan yang Lebih Tinggi: Indonesia, bersama Filipina dan Malaysia, termasuk “titik panas” penipuan digital di Asia Timur. Hal ini disebabkan oleh ekonomi yang sangat mengutamakan digital dan populasi yang sangat muda.
    • Pinjaman Online Ilegal dan Identitas Sintetis: Jenis penipuan paling umum di Indonesia dan Filipina adalah pembuatan identitas sintetis untuk mendapatkan pinjaman jangka pendek dari fintech dengan niat tidak membayar.

    Uniknya, tidak seperti di negara maju seperti Australia atau Singapura yang memiliki biro pelaporan kredit komprehensif, puluhan juta penduduk di Indonesia, Filipina, dan Malaysia tidak memiliki data kredit yang kuat dan komprehensif dari pihak ketiga independen.

    Ini memaksa perusahaan untuk membuat keputusan berdasarkan informasi yang diberikan langsung oleh peminjam, sebuah tantangan besar yang dapat diatasi oleh solusi SEON.

    Dampak langsungnya adalah suku bunga pinjaman yang lebih tinggi, karena pemberi pinjaman harus memperhitungkan biaya kerugian akibat penipuan, membebankan beban ini kepada konsumen yang jujur.

    Untuk Indonesia, SEON menawarkan kemampuan menilai risiko penipuan secara akurat dan real-time, bahkan tanpa riwayat kredit tradisional.

    Mereka menganalisis jejak digital calon pelanggan—mulai dari sidik jari perangkat, perilaku navigasi aplikasi, analisis jaringan, geolokasi, hingga informasi nomor telepon dan jejak e-mail di internet.

    Masa Depan Bersama Pemerintah dan UKM

    SEON sangat terbuka untuk berdialog dengan pemerintah dan regulator Indonesia. Mereka memahami adanya regulasi ketat mengenai penggunaan data konsumen di Indonesia dan selalu beroperasi sesuai dengan itu.

    Terkait maraknya pinjaman online ilegal (Pinjol) yang meresahkan, solusi komprehensif SEON dirancang membantu perusahaan membedakan pelanggan sah dari penipu, termasuk mereka yang menciptakan identitas palsu untuk pinjaman.

    Meskipun fokus utama SEON adalah membantu entitas bisnis legal memitigasi risiko penipuan finansial, teknologi mereka juga memiliki potensi besar untuk membantu pemerintah dan regulator dalam:

    • Mengidentifikasi pola penipuan yang dilakukan oleh Pinjol ilegal.
    • Melindungi data konsumen dari penyalahgunaan.
    • Meningkatkan integritas ekosistem keuangan digital secara keseluruhan.

    Dengan kemampuan analisis jejak digital dan penerapan AI untuk pencegahan penipuan otonom, SEON dapat menjadi mitra strategis bagi pemerintah dalam mengatasi masalah krusial seperti Pinjol ilegal dan kejahatan finansial digital lainnya.

    Terkait penggunaan AI, SEON memanfaatkan machine learning yang dapat melatih diri sendiri. Ketika pelanggan mereka menemukan nasabah baru yang kemudian terbukti melakukan penipuan, informasi tersebut akan masuk kembali ke model machine learning SEON, memungkinkan mereka mendeteksi konsumen serupa dengan lebih baik di masa depan.

    Jaringan data yang sangat besar dari fintech dan bank yang bekerja sama dengan SEON—termasuk informasi tentang penipu atau individu yang lambat membayar pinjaman—memberikan masukan berharga untuk terus meningkatkan akurasi keputusan.

    SEON juga akan memperkenalkan rangkaian solusi AML (Anti-Money Laundering) yang diperluas. Tujuan utamanya adalah mengintegrasikan penanganan pencucian uang dan penipuan.

    Seringkali, tim di bank besar melihat pencucian uang dan penipuan sebagai dua masalah terpisah, padahal untuk melakukan pencucian uang, kejahatan dasarnya adalah penipuan. Integrasi ini akan meningkatkan efisiensi.

    Model bisnis SEON melibatkan kontrak berlangganan jangka panjang dengan dua komponen: biaya tetap (flat rate) selama dua atau tiga tahun, dan biaya mikro (micro fee) untuk setiap transaksi.

    Ini memungkinkan mereka bekerja sama dengan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang banyak bergerak di sektor fintech dan pembayaran, yang meskipun berukuran tim kecil, mampu memanfaatkan teknologi secara efektif layaknya bank besar. Sejalan dengan program Digital SME pemerintah Indonesia, solusi SEON sangat relevan untuk mendukung digitalisasi UKM.

    Efek Jaringan dan Talenta Digital Indonesia

    Beberapa tren makro besar sangat menguntungkan SEON. Pertama, semakin banyak transaksi yang beralih dari offline ke online setiap tahun.

    Generasi muda mungkin tidak akan pernah lagi pergi ke bank fisik, melakukan semua transaksi keuangan secara digital.

    Ini adalah tren besar yang sangat menguntungkan bagi SEON dan pemerintah Indonesia yang mendorong digitalisasi ini.

    SEON melihat banyak talenta muda yang melek digital di Jakarta. Mereka berharap talenta ini akan membantu membangun perusahaan yang kuat dan sukses, serta melayani pelanggan di seluruh wilayah.

    Karyawan di Jakarta bahkan melayani pasar di Tiongkok, Filipina, Australia, dan berbagai negara lainnya. Ini menunjukkan potensi besar Jakarta sebagai talent pool global bagi SEON.

    Akhirnya, SEON melihat peluang efek jaringan mulai terbentuk. Ketika mereka mencapai titik di mana mereka melihat cukup banyak transaksi digital, mereka bisa membangun profil kredit untuk sebagian besar ekonomi.

    Saat itulah tingkat presisi dalam pengambilan keputusan mereka akan menjadi sangat baik. Di pasar yang lebih matang seperti Brasil, Prancis, atau Inggris, di mana SEON sudah memiliki lebih banyak data, kemampuan mereka dalam membuat keputusan semakin akurat.

    SEON sangat optimistis dengan potensi Indonesia sebagai pasar kunci di mana solusi mereka dapat memberikan dampak positif yang signifikan dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih aman, efisien, dan inklusif.

    SF-Admin

    Share.
    Leave A Reply